Langsung ke konten utama

Ngayau : Tradisi Sejarah Pemburu Kepala Manusia oleh Suku Dayak (2016)

NGAYAU adalah Tradisi Satu-Satunya di Dunia yg di Lakukan oleh ‘Suku Dayak’ yg Tinggal di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Tradisi ini di Lakukan oleh Nenek Moyang Suku Dayak Pada Zaman dahulu Kala.

Tradisi Ngayau atau Memburu Kepala Manusia Telah Punah Sejak Tahun 1874. Ini Berkat Berlangsungnya Musyawarah Damai Perjanjiaan Tumbang Anoi. Bersamaan juga di Hadiri oleh Pemerintahan Kolonial Belanda.

Warga Dayak menganggap Tradisi ini Mengerikan dan Sering menimbulkan Perselisihan. Mulai Tahun 1874 Warga Dayak yg Melanggar di kenakan Denda dan Hukum Adat.

Pada Abad Modern. Rakyat di Kalimantan Telah Melupakan adat ‘NGAYAU yg di Lakukan oleh Nenek Moyang mereka”. Tetapi diketahui, Tradisi ini Pernah Terulang Kembali Pada Tahun 2001. Di Mana Suku Dayak Memenggal Lebih dari 1.000 Kepala Manusia dari Suku Madura.


Mengenal Budaya NGAYAU di Suku Dayak
Pada zaman dahulu kala…..?

Nenek Moyang dari Suku Dayak Ngaju Melakukan Tradisi NGAYAU. Di mana mereka mencari, menyergap, Menangkap dan Menawan Orang Lain yg Tak di Kenal untuk di Bunuh dan di Penggal Kepalanya. Kemudian membawa Pulang Kepala Manusia Tersebut ke Desa Tempat Tinggalnya.

Foto : Mereka yg Mengayau di Hiasi Tato, Kalung Tulang Hewan dan Kepala yg dihiasi Bulu Burung Enggang
Untuk apa Kepala Manusia

Kepala Manusia Yg Telah di Penggal merupakan Syarat Utama untuk Upacara “TIWAH”. Apa itu TIWAH..?

TIWAH adalah Upacara Sakral Terbesar Suku Dayak Kala itu ya. TIWAH bisa juga disebut sebagai MAGAH SALUMPUK LIAU ULUH MATEI. Yang Artinya Membawa Keluarga mereka yg Telah Mati ke Langit di Sorga.

Maksudnya disini Jika ada Sanak Keluarga dari Suku Dayak yg Meninggal dalam Keluarga Rumah Betang. Betang Bagi anda yg belum Tahu adalah Sebutan untuk Rumah Tempat Tinggal Suku Dayak Pada Dahulu Kala.

Nah, Jika ada Sanak Anggota Keluarga mereka yg Meninggal Dunia. Entah itu Akibat Sakit Penyakit atau Kecelakan. Suku Dayak akan mengadakan acara untuk Menguburkannya ke Dalam Tanah. Seperti Pada Ajaran di Agama Islam dan Kristen yg menguburkan Orang yg Telah Meninggal dunia ke dalam Liang Kubur.

Bedanya, Suku Dayak Pada Zaman Dahulu Kala. Jika Orang yg Telah di Kubur Tersebut. Setelah Memasuki Usia 10 Tahun di Dalam Tanah. Maka, Suku Dayak akan membongkar Kembali Kuburan Tersebut dan membawa Pulang Tulang Belulangnya ke Rumah Sandung.

Apa itu Sandung dan Mengapa Tulang Keluarga Mereka yg Telah Mati di Bawa ke Sandung…?


Foto : Sandung. Yang di Lindungi oleh Pemerintah Indonesia sebagai Warisan Budaya.


Suku Nenek Moyang Dayak Zaman Dahulu Kala memiliki Agama Asli yg disebut ‘KAHARINGAN’. Jadi mereka Bukan memeluk Agama Islam, Kristen, apalagi Hindu. Agama Kaharingan ngga memiliki Kitab Suci ya. Melainkan disampaikan secara lisan dan Turun Temurun. Pada Saat Kemerdekaan Indonesia. Terjadi Kesalahan Pendataan memasukkan KAHARINGAN ke Golongan Agama Hindu Kaharingan hingga saat ini. Padahal KAHARINGAN dan HINDU jauh Berbeda.  

Agama KAHARINGAN Mempercayai : Apabila Anggota Keluarga mereka dikubur di dalam Tanah. 10 Tahun Kemudian mereka kudu mesti membongkar Kuburan Tersebut untuk mengambil Tulang ke Sandung.

Sandung adalah Sebuah Bentuk Rumah Kecil Tempat Tulang Keluarga yg Mati untuk di Simpan. Rumah Kecil ini disanggah dengan Tiang Kayu Menjulang ke Atas Langit.

Agama Kaharingan Percaya. Jika Keluarga mereka yg mati terkubur di tanah menandakan mereka masih di Alam Neraka. Karena Tanah di anggap seperti Neraka. Jadi, Anggota Suku Dayak yg masih hidup dari Keluarganya mesti membawa Tulang Keluarga mereka yg Telah mati Tersebut ke Sandung. Sandung di percayakan atau diumpamakan seperti Rumah di Sorga.  

Nah, Untuk Menjalankan Proses Pemindahan Tulang dari Kuburan di Dalam Tanah dan Membawanya ke Rumah Kecil yg disebut Sandung. Ini disebut Sebagai ”UPACARA TIWAH”.

Untuk Detailnya, Kita Bisa Menyaksikan Artikel Lebih Lanjut di bawah ini ya. 

UPACARA TIWAH membutuhkan Kepala Orang Lain

Syarat utama TIWAH adalah ‘KEPALA’.

Ya, Teman-Teman anda ngga salah baca ya. "KEPALA MANUSIA".

Artinya, Suku Dayak Zaman Dulu mesti membunuh orang lain yg ngga mereka kenal atau membunuh dari Kampung atau Desa Lain untuk memenggal dan mengambil kepala orang lain sebagai Syarat Utama TIWAH dan membawa Kepala Tersebut Pulang ke Desanya.


Ada Orang-Orang Khusus yg di Tugaskan Berburu Kepala. Mereka di perlengkapi dengan Senjata berupa Tombak dan Pedang yg disebut Mandau



Orang Lain yg dijadikan Incaran mereka umumnya adalah Laki-Laki yg harus kuat bukan anak-anak kecil sebagai incaran mereka. Tetapi, Orang-Orang Dewasa yg dianggap Kuat Berkelahi yg harus mereka Penggal. Karena semakin Kuat orang lain yg diincar Tersebut, Maka Semakin Bagus Kepalanya untuk Upacara Tiwah.

Youtube Trailer Ilustrasi Ngayau yg di Peragakan oleh Orang-Orang Modern saat ini

Simbol Sandung
Kepala Manusia yg Telah di Potong akan di Bawa ke Desanya untuk di Tempati di Bawah Sandung di atas Tulang Keluarga yg telah diambil dan dibersihkan dari Tanah Kuburan Tadi.

Foto : Tiwah di Abad Modern. Membersihkan Tulang Keluarga Mereka yg Telah Meninggal untuk di Bawa Ke Sandung

Ini mengartikan Bahwa Arwah Keluarga dari Suku Dayak. Telah Berada di Surga di atas Sanggahan Kepala Orang Lain yg berhasil di Penggal sebagai Simbol di atas Kematian di atas ada Kehidupan Anggota Suku Dayak Mereka. Nah, Berarti Arwah Keluarga Dayak yg Telah Mati Telah Berada di Sorga.   

Foto : Contoh Sandung yg masih ada di Abad Modern. di Bawah Sandung ini seharusnya ada Kepala Tengkorak hasil dari Mengayau







Foto : Sandung. Tulang Orang Mati dari Keluarga dayak di simpan di rumah kecil ini yg diibaratkan sebagai Rumah di Surga



BERSENANG-SENANG
Setelah Upacara Tiwah Selesai dengan Penanda Kepala Orang Lain yg di Penggal Telah Menyanggah Sempurna Rumah Sandung. 

Maka Orang-Orang Dayak pun Bergembira Karena Arwah Keluarga Tercintanya Telah menuju ke Surga. Mereka pun akhirnya bersenang-senang mendengar musik-musik, menari-nari sambil bergandengan tangan dan minum-minuman air sampai mabuk.





DARAH BINATANG
Dalam Proses ini juga melibatkan Pembunuhan Hewan seperti Babi, Sapi atau Kerbau untuk mengambil darahnya agar bisa di oles di Wajah Wajah Warga Dayak.


Pengolesan Darah ini juga melibatkan Simbol berupa Beras, Air, dll.

Tetapi Darah Hewan memegang Peranan Suci. Darah ini diucapkan berupa kata-kata Mantra sambil dioleskan ke Wajah. 

Suku Dayak Kala itu Berharap "Darah Hewan" ini akan membuat mereka Supaya Umur Panjang, Selalu Sehat, Panen Padi Terus Bertambah, di Jauhkan dari Sakit Penyakit, di Jauhkan dari Segala Marabahaya yg bisa membuat Kematian, di Jauhkan dari Kelaparan, di Jauhkan dari Kelemahan, dll. 

Artikel Lainnya :

TRADISI NGAYAU TELAH PUNAH
Tradisi Ngayau Telah Punah sejak Tahun 1874. Namun Upacara Tiwah masih ada sampai sekarang. Umumnya di Lakukan oleh Suku Dayak yg Berada di Pedalaman yang Beragama Kaharingan. Tetapi Penggunaan Kepala Manusia di Upacara Tiwah Telah Punah di ganti dengan Tempurung Kelapa. Pemeluk Agama Kaharingan juga berangsung-angsur tersisa Sedikit. Beberapa umat Kaharingan yg Lain Tercampur dengan Keagamanan Budaya Hindu yg Jauh Berbeda dengan Tradisi Agama Kaharingan. Sehingga menimbulkan Penaksiran Agama Kaharingan yg Berbeda. 

Youtube Trailer : Perjanjiaan Tumbang Anoi. Akhir dari Kepunahan Ngayau. Di Saksikan oleh Belanda.

NB : NGAYAU di Artikel ini adalah Untuk Versi Dayak Ngaju yg Berada di Kalimantan Tengah ya. Dayak Terdiri dari Banyak Suku. Beberapa Suku Dayak yg Lainnya Juga Melakukan Tradisi Ngayau Tetapi Bukan untuk Upacara TIWAH. Melainkan sebagai Jimat yg di Pasang atau di Gantung di Rumah untuk Kekuataan Supernatural atau Sihir agar melindungi seantero Kampung dari Wabah Penyakit. Jika Terjadi Wabah Penyakit atau Kematian sanak keluarganya. Berarti Jimat Kepala Manusia sudah Berkurang khasiatnya atau Kemampuannya. Maka, di Butuhkan Kepala Manusia yg baru untuk menambah kekuatan perlindungan dari wabah penyakit. Ngga Semua Suku Dayak Melakukan Tradisi ini, Suku Dayak Maanyan dan Suku Dayak Meratus ngga mengenal istilah Mengayau.  

Terima Kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU

Related Post