Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Israel Spearuav : Drone micro kamikaze pembunuh sniper dan anti infanteri ( 2022 )

Teknologi persenjataan Israel terus berkembang dari waktu ke waktu. 

Israel adalah salah satu pemimpin dunia di bidang teknologi drone kamikaze yang telah digunakan dan diaplikasikan oleh banyak negara. 

Pada awalnya persenjataan drone kamikaze buatan Israel atau disebut juga sebagai amunisi berkeliaran (amunition loitering) ditujukan untuk menghancurkan infrastruktur bernilai mahal atau menyasar ke target aset militer. Seperti meledakkan pusat komando, radar, kapal perang, tank, helikopter, kendaraan lapis baja, gudang pasokan senjata, pesawat tempur yang sedang mendarat dan meluluhlantahkan truck pembawa sistem pertahanan udara.    

Untuk menciptakan dimensi baru dalam peperangan modern di abad ini dengan cara menggabungkan kemampuan dari keahlian otonom, AI (artificial intelligence), ilmu teknis, mobilitas dan keunggulan taktis.  

Perusahaan teknologi asal Israel menilai bahwa masih ada satu gap yang dirasa perlu mendapatkan tambahan inovasi dalam meladeni peperangan lintas batas di area padang terbuka, hutan dan urban warfare (perang kota). 

Selama ini, drone seperti Harop, Skystrike dan Harpy buatan IAI (Israel Aerospace Industries dan Elbit System) menargetkan kepada sasaran bernilai ekonomi mahal dan menengah. 

Target musuh berupa nyawa manusia yang bernilai rendah belum mendapatkan sentuhan inovasi. 

Penembak sniper dan tentara infanteri musuh adalah target pion manusia bernilai rendah. 

Tetapi sesungguhnya begitu mengancam, apabila seorang tentara membawa atau menggotong rudal genggam dan menembak dari tempat tersembunyi. Itu adalah ancaman bahaya nyata yang dapat merusak aset berharga mahal dan memperburuk situasi secara makro ekonomi.  

Hal ini diperparah dengan jumlah tentara dalam tiap unit mampu mencapai skala besar dari ribuan, ratusan ribu hingga jutaan infanteri tersebar di berbagai macam lokasi tersembunyi.  

Israel Spearuav : Drone micro kamikaze pembunuh sniper dan anti infanteri ( 2022 )

Rangkaian solusi dari perusahaan spearuav asal Israel menyediakan 3 jenis produk dalam melawan ancaman sniper dan tentara infanteri musuh. 

Fokus utama spearuav yaitu menyediakan drone kamikaze untuk membunuh tentara manusia yang mengendap endap, bersembunyi di balik jendela dan merayap rayap di permukaan tanah.

Solusi canggih spearuav menyeimbangkan dari segi kebutuhan penyeimbang ekonomi dengan menghadirkan drone kamikaze berbentuk skala micro (kecil) sebagai pembunuh. 

Mudah digunakan, intuitif, dikendalikan melalui jarak jauh, dilengkapi AI otomatis sebagai alat deteksi tentara musuh dan efektif sebagai penyerang. Sekaligus menghadirkan informasi intelijen mata mata dari atas langit secara senyap (ISTAR) untuk meningkatkan kesadaran situasional.

Drone spearuav memiliki 3 jenis yaitu Ninox 40, Ninox VRS dan Ninox 103

Kapasitas hulu ledak tiap masing masing drone kamikaze sudah cukup untuk membunuh nyawa manusia. Sekalipun para musuh menggunakan rompi antipeluru. 

Tindakan lain berupa operasi penyerangan secara bergelombol (swarm drone kamikaze). 

Tentang Spearuav

Perusahaan Spearuav adalah bagian terpisah dari manajemen perusahaan Uvision.  

Uvision menciptakan drone kamikaze sebagai pengawasan, ISTAR, pelacakan dan penyerangan target yang dapat diluncurkan melalui darat, laut dan udara secara real time oleh sistem komunikasi jarak jauh berdasarkan kamera elektro optik yang terhubung ke stasiun komando dan kontrol dari rentangan jarak hingga 1 km - 250 km. 

Uvision dan Spearuav bersinergi bersama sama antara kedua rantai pasokan perusahaan sebagai langkah memperluas koloborasi portofolio persenjataan pasukan tempur dari tingkat drone kamikaze untuk target bernilai mahal, menengah dan murah di level tingkatan mikro taktis spearuav. 

Spearuav dan Uvision adalah anak dari perusahaan BUMN Rafael Advanced Defense System milik pemerintah Zionis Israel. 

Rafael Advanced Defense System memperkerjakan 8.000 ribu karyawan dengan pendapatan kotor pertahun sebesar $ 2,7 miliar dolar atau sekitar Rp 39 triliun rupiah (setara Rp 39.000 miliar rupiah pertahun).


Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU