Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pada tahun 2050 sebanyak 65% orang di seluruh dunia menjadi pengangguran massal akibat perkembangan masif teknologi, kecerdasan buatan (AI), robotika, machine learning, drone dan bagaimana cara menanggulanginya versi Elon Musk ( 2022 )

Vice News sebuah perusahaan media dan saluran channel Youtube yang berkantor pusat di Amerika Serikat dengan jumlah subscriber sebanyak 7.000.000 juta orang. Menghadirkan sebuah liputan atau laporan berita tentang dampak teknologi terhadap pekerjaan dan kehidupan sosial.

Seorang pengemudi truck di wawancari untuk mengetahui dampak dari fenomena sosial ini. 

Ia mengatakan bahwa dirinya bangga terhadap pekerjaan menjadi supir truck untuk mengantarkan suplai makanan dari satu kota ke kota lain yang berjarak ratusan kilometer.

Ia bangga karena tak semua orang dapat memiliki kesempatan berkarir mendapatkan penghasilan rutin seperti dirinya dan tentu saja pekerjaan ini dianggap mulia bebas dari tindak kejahatan kriminal karena menyediakan makanan untuk keperluaan bagi banyak orang.

Namun, wajah supir ini kemudian berubah menjadi kwatir, gusar dan cemas ketika tim Vice News melemparkan sebuah topik pertanyaan baru tentang : truck automatic. 

Ia pun kemudian menjawab dengan perasaan jujur. Bahwa dirinya begitu takut mengenai kehadiran teknologi truck otonom yang dapat menghilangkan karir dan pekerjaannya selama ini yang telah ia geluti selama bertahun tahun. Ia kemudian menjawab bahwa saya benar benar tidak tahu apa lagi yang dapat saya perbuat karena hanya inilah keahlian skill yang dimilikinya.

Beliau bukan satu satunya.

Ungkapan tentang kehilangan pekerjaan masa depan sudah banyak mewanti wanti bagi ketakutan banyak orang di seluruh dunia. 

Sebagai contoh : 

Pada tahun 1950. Perusahaan tambang batu bara di Amerika Serikat memperkerjakan hingga 2.000.000 juta orang. Kehadiran teknologi mesin otomatisasi berdaya besar telah memangkas jumlah pekerja manusia disana. Kecanggihan teknologi membuat perusahaan tambang batu bara hanya memperkerjaan sekitar 100.000 ribu orang karyawan saja. Tetapi berkat penggunaan mesin maka hasil keuangan dan produksinya setara seperti memperkerjakan 2.000.000 juta orang. 

Hal yang sama juga terjadi di berbagai macam bidang. Terutama di buruh pabrik merupakan sektor yang saat ini krusial digilas oleh kecanggihan teknologi. 

Pada tahun 2050 sebanyak 65% orang di seluruh dunia menjadi pengangguran akibat perkembangan masif teknologi, kecerdasan buatan (AI), robotika, machine learning dan drone ( 2022 )

Ada anggapan bahwa teknologi, AI, robotika, machine learning dan drone dapat membuka lapangan pekerjaan baru. 

Namun dari data grafik yang ada menunjjukkan bahwa trend jumlah pengangguran tiap tahun terus meningkat tajam secara dramastis. Dari semula hanya ada 3%. Kini pada tahun 2021 telah melonjak menjadi 6,5%. 

Dalam beberapa tahun ke depan dipastikan meningkat ke angka 7% secara global yang berarti sebanyak 560.000.000 juta orang hidup ngangur. 

Teknologi memang benar membuka jenis lapangan kerja baru dan memberikan kesempatan karir yang belum pernah ada sebelumnya. Namun rata rata spesifikasi karir baru itu hanya diperuntukkan untuk golongan manusia dengan skill SDM tingkat tinggi dan bukan untuk kalangan padat karya. 

Sedangkan bagi pemilik SDM skill rendah bakal tertekan akibat pengaruh masifnya teknologi yang menyebabkan perang harga hingga ke titik terendah. 

Di negara Amerika Serikat. Pemerintah AS mencoba menekan jumlah angka pengangguran dengan cara menyerukan pelatihan ulang secara besar besar untuk menjawab tantangan ini. 

Hasilnya meragukan. 

Biaya pelatihan melalui anggaran APBN yang diadakan oleh pemerintah AS nampak sia sia.

Fokus untuk melatih orang orang pengangguran membuat koding kode pemprograman algoritma berbasis komputer. 

Warga AS dalam proyek pemerintah AS tersebut kemudian menjawab : 

Ini adalah balapan yang tidak akan pernah kami menangkan

Ini bukan lagi pertanyaan tentang definisi atau penyediaan tentang pelatihan dan pekerjaan. 

Dampak dari mencoba menantang keunggulan dari keperkasaan teknologi AI (artificial intelligence) dan robotika yang mampu bekerja selama 24 jam nonstop hanyalah sebuah usaha sia sia belaka yang tak pernah dapat tenaga kerja manusia selesaikan dengan pelatihan.

Dalam algoritma sistem AI. Pelatihan yang memperkejakan tenaga kerja manusia secara manual di depan komputer hingga berjam jam atau berhari hari takkan pernah mampu mengalahkan kecepatan AI yang serba otomatis, dalam waktu 1 detik, teknologi AI mampu mengerjakan ribuan pekerjaan melelahkan di bidang programer. Itu sungguh mustahil dapat ditandingin oleh keterbatasan manusia.

Dan jika pemerintah AS masih menuntut memperkejakan melalui berbagai macam pelatihan yang sia sia di bidang koding menggunakan ribuan atau jutaan tenaga kerja manusia secara padat karya. Sama saja artinya mengembalikan revolusi industri ke era tahun 1950 dan sama sekali tak efektif. 

Kecemasan ekonomi terhadap kehilangan pekerjaan sudah menjadi tanda tanda zaman ini bahwa kehadiran teknologi dan berkembang pesatnya jaringan internet berbasis 4G menuju ke 5G hanyalah awal dari getaran untuk membentuk gelombang pengangguran yang lebih besar dari saat ini sekitar 6% menjadi 65% di tahun 2050. 

Jika internet 5G berkembang pesat untuk tahun mendatang. Maka dipastikan jumlah pengangguran makin meningkat. 

Tak ada trend yang menunjjukkan bahwa angka pengangguran di seluruh dunia menurun. 

Melainkan terus meningkat pesat.

Ukuran pasar teknologi AI di Amerika Serikat pada tahun 2020 saja sudah bernilai sekitar $ 60 miliar dolar atau sekitar Rp 876 triliun rupiah. (setara Rp 876.000 miliar pertahun). Ini baru data dari AS. Belum dari negara lain seperti China, Rusia, Jepang, Korea Selatan, Uni Eropa, Israel, Turki, India, dll. 

Jumlah robot yang bekerja di Amerika Serikat pada tahun 2020 saja sudah berjumlah 290.000 ribu. 

Tiap tahun potensi jumlah penggunaan robot terus meningkat menggantikan tenaga kerja manusia yang lambat, tak efektif dan tak tahan bekerja nonstop. 

Rata rata robot di Amerika Serikat bekerja di ruang pabrik untuk menggantikan pekerjaan manusia yang bekerja berulang ulang setiap hari. 

Apa itu pengangguran : 

Foto : Orang orang sedang ramai mengantri mendapatkan lowongan pekerjaan

Pengangguran adalah orang yang belum mendapatkan pekerjaan atau sama sekali sudah tak produktif menghasilkan uang sepeserpun walaupun sudah berusaha semaksimal mungkin mencari lowongan pekerjaan dimana mana. 

Definisi lain adalah orang orang yang bekerja keras siang malam setiap hari tapi tak dibayar dengan uang. Maka dapat dikatakan sebagai golongan kelompok pengangguran. 

Pengangguran merupakan sebuah masalah struktur secara ekonomi. Beberapa penyebab lain bukan hanya akibat pengaruh teknologi tetapi karena ketahanan kedaulatan pangan nasional yang rendah, bencana perang, kericuhan politik dalam negeri, keamanan negeri yang buruk, program alokasi APBN pemerintah yang tak tepat sasaran, cadangan devisa yang minim, rasio utang negara membengkak, dan lain lain sebagainya. 

Rata rata hampir 100% pengangguran hidup dengan cara menggantungkan kebutuhan sehari hari kepada anggota keluarga lain yang berpenghasilan tinggi. 

Africa selatan adalah negara dengan jumlah pengangguran tertinggi saat ini di dunia mencapai hingga 29%. Lalu disusul oleh negara lain seperti Kosovo, Djibouti dan Palestina yang mencapai tingkat dimana sebanyak 25% penduduk usia dewasa (usia 20 tahun keatas) tak bekerja (pengangguran).

Pada tahun 2021. Secara global penduduk pengangguran di seluruh dunia mencapai 6%.

Pada tahun 2050. Secara global penduduk pengangguran di prediksi mencapai di angka 65% (artinya naik berkali kali lipat dan orang yang bekerja hanya ada sekitar 35% dari total penduduk bumi untuk beberapa dekade ke depan)

Bagaimana cara menanggulanginya : 

Kabar baiknya, tak semua pekerjaan bakal di gilas oleh robot. 

Buat teman teman yang bekerja menjadi dokter, perawat, youtuber, ilmuwan, polisi, tentara, pejabat politik, psikolog, artis, mekanik, analisis saham, trader, tukang bangunan kontruksi, guru, peternak, konsultan, petani tanaman dan berbagai macam hal yang berhubungan terhadap sentuhan manusia, psikologi, emosi, lingkungan alam dan sosial. 

Anda dipastikan aman sentosa. Selama masih mampu bersaing di sektor yang sama. 

Namun jika memang pekerjaan anda berdampak resiko di gusur oleh robotika. 

Terutama pekerja buruh pabrik. 

Mau tak mau harus mencari atau memikirkan pekerjaan lain jika tak ingin bernasib buruk. 

Bagaimana cara menanggulanginya versi Elon Musk

Elon musk adalah sosok inovator founder dari perusahaan teknologi Tesla, SpaceX, Starlink dan Hyperloop. 

Beliau juga merupakan orang terkaya #1 di dunia versi majalah forbes di tahun 2022. 

Ketika ditanya bagaimana cara menanggulangi pengangguran massal yang terus melonjak dari tahun ke tahun. Bagaimana solusi mengatasi pekerjaan manusia yang diambil alih oleh sistem dan robotika.

Elon musk mengatakan : 

Apa yang harus dilakukan tentang pengangguran massal. Ini menjadi tantangan sosial yang besar. Dan saya pikir pada akhirnya kita harus memiliki semacam Universal Basic Income. Saya pikir, kita memang sudah tidak punya pilihan yang lain. Sahutnya. 

Apa itu Universal Basic Income .

Universal Basic Income (UBI) adalah sebuah ideologi politik berupa tanggung jawab dan kewajiban absolut dari sistem kepemerintahan untuk memberikan setoran pembayaran gaji setiap bulan ke rekening Bank masing masing per individu penduduk (bukan perkeluarga) demi mensejahterakan rakyat berdasarkan undang undang tanpa harus membebani mereka dengan pelatihan, kerja, dites atau perlakukan repot lainnya agar warga negara dapat memenuhi pemasukan dasar kehidupan sehari hari untuk membeli aneka macam kebutuhan. Dengan syarat tiap orang dilarang mengeplang, mengecoh dan menghindari pajak ke Tax Heaven atau perbuatan melanggar hukum terhadap kewajiban pajak lainnya.
 
Penerapan universal basic income hanya dapat dilaksanakan oleh 1 aktor utama yaitu sistem kepemerintahan sebagai pemegang wewenang kekuasaan mutlak yang tak dapat dihalangi dan tergantikan oleh siapapun, perusahaan swasta global apapun dan pihak manapun.  

Selain itu, UBI dapat pula mengantisipasi dampak penggunaan teknologi robot, otomatisasi pada tenaga kerja di dalam sektor industri, kecerdasan buatan artificial intelligence AI, machine learning, deep learning, komputer quantum, blockchain, super komputer dan mempercepat revolusi industri ke 5. 

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU