Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apakah pertanian vertikal menguntungkan dari segi profitabilitas keuangan ( 2022 )

Pertanian vertikal sedang marak di berbagai negara maju. Terutama di Singapura, Uni Eropa, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Jepang, Korea Selatan dan Israel.

Hal ini terjadi diakibatkan karena semakin sempitnya lahan permukaan tanah untuk bercocok tanam bagi petani di tambah dengan permasalahan ruang kepadatan penduduk yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

Menurut data dari Emergen research.

Pangsa pasar global untuk pertanian vertikal dapat terus tumbuh hingga 20% mencapai $ 11 miliar dolar atau sekitar Rp 162 triliun rupiah pada tahun 2027. Artinya bahwa memang ada pangsa pasar tersendiri untuk pertanian vertical. Terutama negara dengan lahan tanah yang sudah semakin menyempit akibat populasi manusia yang bertambah banyak.

Tak mengherankan, pertanian vertikal. Entah itu di luar ruangan, di dalam ruangan gedung. Atau entah itu secara otomatis dan manual. Menjadi daya tarik tersendiri bagi petani untuk dapat memenuhi pasokan kebutuhan makanan, sekaligus menghasilkan keuntungan.

Ya, benar saja. Pertanian vertikal dapat menjadi solusi untuk negara sempit padat penduduk atau untuk kawasan negara pemilik kota metropolitan raksasa. 

Terutama dalam menyediakan makanan berupa sayuran seperti salad, kangkung, sawi dan selada. 

Tetapi untuk negara pemilik lahan dengan luas tanah yang masih lebar atau lapang. Maka penerapan pertanian vertikal malah menjadi senjata bomerang bagi petani itu sendiri. 

Apakah pertanian vertikal di luar dan dalam ruangan gedung menguntungkan dari segi profitabilitas keuangan ( 2022 )

Tak semua tanaman dapat cocok dibudidayakan secara vertikal. 

Jenis tanaman yang baik untuk konsep vertikal adalah varian berbatang pendek dan berumur pendek.

Pertanian vertical sama sekali tak cocok jika di tanam kelapa sawit. he he...,  

Bukan berarti pula tanaman berbatang pendek dapat di tanam setinggi tingginya di pertanian vertikal. Karena nutrisi dari sinar matahari terhalang pada bagian bawah mengakibatkan pertumbuhan menjadi kerdil dan mudah terserang hama penyakit. 

Bahkan pertanian vertikal sekalipun tetap ada batas ketinggiannya.

Beberapa perusahaan pertanian vertikal mencoba mengakali ketinggian dengan menerapkan sistem penerangan menggunakan lampu ultraviolet untuk memanipulasi pencahayaan sinar matahari. Hasilnya dari segi profitabilitas sesungguhnya tak menguntungkan dan tak berkelanjutan. Kecuali konsumen atau pembeli sayur mau membeli harga sayuran dengan uang mahal. 

Biaya penyusutan alat alat pertanian vertikal juga perlu diperhitungkan dengan matang. 

Seperti besi, baja, kaca, pompa, listrik, pot, lampu, wadah plastik, dll. Semua peralatan ini tak mampu bertahan lama. 2 - 3 tahun bakal mengerucut, lapuk, rusak, pecah, dan gampang karatan. 

Oleh sebab itu, tiap tahun perawatan pertanian vertikal lumayan mahal sehingga dibebankan ke harga. 

Dari segi bisnis. Pertanian vertikal memang tak menguntungkan. Kecuali seperti yang diutarakan di atas. Pembeli atau calon pembeli sayur lokal berasal dari kalangan orang orang kelas menengah dan orang kaya yang mau membeli hasil panen dengan harga 2x lipat lebih mahal. 

Pertanian vertikal melawan tantangan perubahan iklim. 

Pertanian vertikal dengan menggunakan input teknologi pencahayaan LED ultraviolet buatan sudah dimulai sejak dua dekade yang lalu. 

Para pengusaha tani mendirikan ruangan atau rumah kaca sehingga permasalahan iklim dapat diatasi. 

Sedangkan teruntuk kepada pengusaha pertanian vertikal yang menerapkan aktivitasnya di dalam gedung tertutup dari sinar matahari dengan mendirikan rak rak tanaman secara vertikal bertingkat tingkat menjulang tinggi ke atas dengan menggantikan cahaya matahari menggunakan penerangan ultraviolet buatan untuk mengontrol dari ancaman perubahan pemanasan iklim global warming. 

Secara trend. Pertanian mendatar ala rumah kaca dengan mengandalkan cahaya matahari masih menjadi primadona kebanyakan petani ketimbang penggunaan penerangan buatan untuk pertanian vertikal Jadi, dari segi biaya tentu saja sistem vertikal itu mahal. 

Kecuali sang petani memperhatikan tata letak geografis dan calon konsumen pembeli berasal dari orang kaya. Terutama berada di kota besar. Maka itu tak menjadi permasalahan untuk penerapan pertanian vertikal. 

Foto : Pertanian vertikal sesungguhnya tak cocok dari segi bisnis

Terlepas dari segi biaya dan profitabilitas. 

Petani yang berada di desa atau kota kecil. 

Seharusnya menghindari konsep pertanian vertikal jika tak ingin bernasib buruk karena harus menanggung banyak kerugian investasi dan biaya resiko penyusutan peralatan yang dapat berunjung pada kebangkrutan atau menumpuknya utang pinjol. 

Foto : Pertanian tradisional secara mendatar di tanah tak perlu beli pipa, pompa air, besi penyangah, plastik, baut baja, dan pot. Taburkan saja secara langsung bibit sayuran ke tanah tanpa perlu ikut ikutan latah model pertanian vertikal modern. Ukuran lahan tanah seluas 2 meter x 2 meter saja sudah panen sayur banyak.  

Ada baiknya, petani tetap menggunakan konsep tradisional. 

Yaitu pertanian mendatar dimana tanaman di tanam di tanah ( bukan di air dengan sistem hidroponik juga ). Petani tak dianjurkan agar tak ikut ikutan, FOMO atau latah menerapkan sistem pertanian vertikal seperti di negara maju. Karena dapat membawa ancaman bahaya dari segi finansial bagi keluarga. 

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.