Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

40% wilayah daratan bumi telah menjadi kering dan tandus seperti planet Mars akibat perubahan pemanasan global warming [ Bagaimana cara mengembalikan alam pertanian menjadi subur lagi ] ( 2022 )

30% wilayah daratan bumi telah menjadi gurun pasir, beberapa kesuburan tanah telah hilang dan gersang tanpa air. 

Itu adalah laporan beberapa dekade yang lalu. 

Jauh meneliti 1.000 tahun yang lalu. Lahan tandus atau kering hanya mencapai 19% saja. 

Namun, sebuah studi baru di tahun 2022 yang dilaksanakan oleh PBB ( badan perserikatan bangsa bangsa ). Menunjjukkan bahwa penggurunan atau kekeringan semakin menyebar luas. Kini telah membesar mencapai 40%. 

Penggurunan atau pemanasan iklim telah menjadi tantangan internasional. 

Fakta saat ini yang harus diterima oleh umat manusia adalah 40% wilayah daratan bumi telah menjadi kering kerontang tanpa air. 

Ini tak hanya terjadi di Timur Tengah saja yang identik dengan ketandusan, melainkan perlahan lahan meluas ke berbagai negara. Di abad modern, penggurunan mulai terjadi di negara seperti China, Mongolia, Amerika Serikat, Argentina, Chili, Africa Selatan, Australia dan masih banyak lagi. 

Beruntunglah bagi anda yang tinggal di Indonesia. Karena kearifan lokal warga +62 yang gemar menanam pohon dan kelapa sawit, maka cuaca panas dapat diredam sedikit. 

PBB memberikan peringatan kepada seluruh dunia. Bahwa jika perubahan iklim tak ditindaklanjuti.

Maka pada tahun 2050, penggurunan pasir atau ketandusan segera bertambah semakin luas menjadi diatas 50%. 

Ferrenberg, peneliti dari Amerika Serikat mengatakan : 

Anda tidak dapat menghentikan pemanasan global. Efek pemanasan yang dijelaskan disini sangat memprihatikan. Karena suhu meningkat setiap tahun terjadi hampir di seluruh ekosistem dunia yang menyebabkan terjadinya kekeringan. Sahutnya. 

PENYEBAB UTAMA MENGAPA TERJADI GURUN TANDUS ATAU PENANDUSAN. 

Ulah perilaku manusia seperti menebang pohon secara serampangan adalah penyebab utama ketandusan. 

Menebang pohon dengan cara di tebang tapi tak lagi di tanam, melainkan di bakar sampai habis untuk keperluaan memasak rumah tangga. 

Pada era tahun sebelum 80. Sebelum nenek moyang mengenal penggunaan kompor gas dan induksi listrik. 

Banyak pohon di tebang untuk dijadikan kayu bakar. 

Ribuan tahun yang lalu. Nenek moyang di planet bumi terus menerus menebang pohon tapi tak ditanam lagi, melainkan mencari pohon lain untuk terus di tebang, begitu seterusnya sampai pohon gundul.

Ketika pohon hilang, maka terik panas matahari mengeringkan wilayah tersebut sehingga menjadi tandus kering kerontang. 

Tanaman pohon memiliki manfaat krusial bagi umat manusia. Pohon mampu menghasilkan oksigen dan menyulap 1 hisapan tetes air dikeluarkan menjadi 5 tetes air dalam bentuk embun pagi hari yang jatuh ke tanah. 

Jika pohon di tebang, maka oksigen dan air bersih baru tak dapat lagi diciptakan di kawasan itu. 

Oleh sebab itulah terjadi penggurunan. 

Kegiatan ilegal loging turut memperparah keadaan. Bertujuan bagi para pengusaha kayu menebang pohon secara besar besaran, kemudian di jual ke negara lain, tanpa menanamnya lagi.

Faktor lainnya yaitu pertumbuhan jumlah umat manusia, kelahiran bocil bocil yang terus meningkat setiap tahunnya membutuhkan tempat tinggal. Artinya hutan di babat untuk didirikan rumah. 

Walhasil, semakin banyak rumah. Maka jumlah pohon semakin menyusut yang berarti pemanasan iklim terus meningkat pesat.

Di tempat lain, untuk memberi makan 7.900.000.000 miliar mulut manusia. 

Jutaan hektar hutan di buka untuk dijadikan kebun kelapa sawit, ladang jagung, sawah padi, tempat ternak sapi, ayam, dll sebagainya. 

Tetapi petani di seluruh dunia masih menggunakan teknik penyiraman air yang boros menggunakan selang semprotan untuk melakukan budidaya tanamannya. Walhasil, banyak aliran irigasi, danau dan sungai menjadi kering akibat penggunaan alihdaya air yang tak efesien.

Pro kontra terhadap kehadiran kebun kelapa sawit sebagai aktor penyebab pemanasan global dengan cara menebang hutan. Tak patut pula untuk dipersalahkan. 

Padahal setiap hari miliaran manusia makan ikan goreng, ayam goreng dan tahu goreng hasil dari komoditas CPO sawit. 

BAGAIMANA CARA MENGEMBALIKAN ALAM  

Jumlah populasi penduduk terus meningkat dari waktu ke waktu.

Beberapa dekade dapat mencapai di angka 15.000.000.000 miliar orang atau naik 2x lipat yang ada saat ini. 

Umat manusia tentunya hanya dapat tinggal secara permanen di darat, bukan di laut air asin. 

Daerah gurun telah mencakup 40% di bumi ini. Wilayah ini perlahan demi perlahan ditinggali oleh orang sehingga menjadi sepi. Orang orang mulai mengungsi pindah ke kota dan desa lain yang banyak air tawarnya atau di dekat sungai dan pinggiran pantai dekat pabrik desalinasi air laut.  

PBB mengklaim pada tahun 2030. Sebanyak 700.000.000 juta orang harus terpaksa mengungsi meninggalkan negara atau kotanya menuju ke negara atau kota lain akibat telah berubah menjadi tandus dan kering.

Jutaan hektar lahan pertanian di kota yang terdampak kekeringan bakal berubah menjadi gersang akibat penggurunan. Sehingga semakin banyak kota kota menjadi sepi berpindah ke kota lain dekat sumber air bersih. 

Dunia menghadapi darurat kekeringan air tawar, banyak sungai telah mengering, air bendungan menyusut ketika memasuki musim kemarau dan tanah yang dulunya subur kini layu berubah menjadi gurun tandus.  

Fenomena ini merebak di mana mana, mulai dari Timur Tengah, Africa Utara, Amerika Serikat, Meksiko, China, dan banyak lagi. 

Di Amerika Serikat. Sebesar 43% wilayah telah mengalami ketandusan dan kekeringan. Padahal pada tahun 1937, wilayah kering di AS hanya 27%. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah AS berusaha membangun banyak taman hutan hijau untuk menanggulangi perluasan kekeringan ke arah yang lebih parah. 

Sekali lagi, bersyukurlah bagi teman teman yang tinggal di Indonesia. Karena masih ada banyak pohon penghasil oksigen dan air bersih di Indonesia. Maksud saya, pohon sawit. 

Ladang jagung, sawah padi, kebun kacang kacangan, kayu jati, kayu sengon, kayu karet, dll juga masih bertaburan di negara kaya sumber daya alam ini. Kearifan lokal penduduk Indonesia yang sudah terbentuk sejak zaman kuno untuk menanam kembali tanaman yang telah ditebang. Telah membantu keamanan tanah NKRI masih subur.

Jadi pertahankan saja, kearifan lokal ini agar NKRI tetap subur. Hanya saja, penggunaan air untuk pertanian di Indonesia masih terlalu boros. Oleh sebab itu, penggunaan teknologi hemat air seperti irigasi tetes drip menjadi suatu keharusan. 

Teknologi sistem desalinasi juga dibutuhkan untuk mengubah air laut menjadi air tawar. Dari tahun ke tahun, pertumbuhan infrastruktur perusahaan desalinasi terus meningkat pesat untuk mengatasi kekurangan air bersih layak minum bagi miliaran orang, tanaman dan hewan ternak dalam mencukupi terhadap permintaan air tawar di seluruh dunia.  

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.