Langsung ke konten utama

Amerika Serikat boikot chipset AMD, NVIDIA, INTEL dan QUALCOMM untuk lumpuhkan industri militer dan teknologi China Rusia ( 2022 )

Kontrol tambahan list pemblokiran ekspor chipset semikonduktor Amerika Serikat telah mulai berlaku pada bulan Agustus 2022. 

Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat melalui mantan presiden Donald Trump sudah melarang perusahaan Intel dan Qualcomm untuk melakukan perdagangan ekspor dan transaksi bisnis teknologi canggih ke perusahaan asal China, Huawei Technologies dan ZTE corporation.

Huawei dan ZTE membutuhkan pasokan teknologi semikonduktor chip, software dan alat elektronik mikro untuk produk server telekomunikasi, jaringan internet 5G, smartphone, mesin canggih, server dan bisnis perangkat keras lainnya.

Kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah AS sukses membawa pukulan keras kepada perusahaan asal China tersebut. 

Pada tahun 2022. Daftar blacklist kembali bertambah, dari awal hanya sebatas pembatasan ke perusahaan tertentu saja. Kini NVIDIA dan AMD diikut sertakan dalam perluasan kebijakan boikot.

Amerika Serikat boikot produk ekspor chipset semikonduktor AMD, NVIDIA, INTEL dan QUALCOMM untuk lumpuhkan industri militer dan teknologi China Rusia ( 2022 )

Perang sengit antara Ukraina VS Rusia yang terjadi di bulan Februari 2022. Menunjjukkan temuan bahwa ada banyak perangkat digital, komponen elektronik mikro dan chipset semikonduktor yang terinstal di alustista milik Rusia. 

Persenjataan alustisa seperti tank, roket, rudal, helikopter, pesawat drone, rudal jelajah, truck pos komando hingga truck sistem pertahanan udara pantshir. Dalam daftar senjata buatan Rusia itu menggunakan komponen elektronik mikro digital dan chipset yang notabene buatan Amerika Serikat. 

Muncul pertanyaan. Darimana asal semua perangkat canggih ini.

Padahal sejak tahun 1945 - 2022. Tak ada hubungan diplomatik yang baik antara Rusia dan AS. 

Biro industri dan keamanan (BIS), sebuah badan di bawah departemen perdagangan Amerika Serikat.

Sejak tahun 2017 atas mandat mantan presiden Donald Trump telah memboikot banyak produk teknologi canggih ke China. Tak hanya memblokir ekspor. Beberapa teknologi impor asal China turut ikut diblokir oleh pemerintah Amerika Serikat. Contoh seperti drone hobi dari perusahaan DJI technology. 

China memiliki kerjasama bisnis yang erat dengan perusahaan teknologi swasta asal Amerika Serikat.

Kemudian China mengolah nilai tambah dan menjualnya kembali ke pihak Rusia. Beberapa perusahaan chip semikonduktor seperti Intel turut ikut mendirikan pabrik fabs di China dengan alasan klaim harga tenaga kerja murah dan terampil.

China mengolah industri teknologi, suku cadang, chipset, mesin dan komponen hightech lainnya untuk membooster industri teknologi miliknya. China dan Rusia saling bertransaksi satu sama lain dalam banyak kesepakatan hubungan internal terhadap pasokan chipset dan alat canggih.

Ini tak hanya digunakan bagi keperluaan sipil antara Rusia dan China saja, melainkan jatuh ke sesuatu yang tak diinginkan ke pengguna akhir yaitu teknologi militer. 

Tim dari pejabat pemerintah Amerika Serikat mengatakan : 

Meskipun kami tak menguraikan kebijakan secara spesifik, kami mengambil tindakan pendekatan komprehensif untuk menerapkan tambahan yang diperlukan terkait dengan teknologi untuk melindungi keamanan nasional Amerika Serikat dan kepentingan kebijakan luar negeri. Sahutnya. 

Perang teknologi antara Amerika Serikat VS China + Rusia

Selama 2 dekade berlalu. Amerika Serikat tak pernah menyadari bahwa terdapat perkembangan begitu pesat pada teknologi dan militer China yang diakibatkan oleh kesalahan dari pihak pemerintahan AS itu sendiri yang lalai dalam pembatasan kontrol akses teknologi. 

China bertumbuh secara luar biasa cepat, nampak hendak terus menerus menyaingi dan menyalip dominasi super power milik AS. Untuk menghambat kemajuan Rusia dan China. Pemerintah AS mengantisipasi dengan cara menambah daftar boikot di bidang teknologi komputasi, machine learning dan artificial intelligence (AI). 

Tim NVIDIA mengatakan : 

Pemerintah Amerika Serikat telah memberlakukan persyaratan baru dan segera berlaku untuk kegiatan setiap ekspor di masa depan ke China. Termasuk Hongkong dan Rusia dari chip A100 dan sirkuit terintegrasi H100 yang akan datang. Resiko chip ini digunakan untuk tujuan militer China dan Rusia. Sahutnya. 

Ditempat lain, pihak dari perusahaan chip Intel merasa kecewa atas kebijakan pemerintah Amerika Serikat. Karena sebelum terjadinya aturan baru. Intel telah menggelontorkan banyak uang untuk membuka cabang pabrik di China, sehingga menimbulkan kerugian modal dari segi finansial dan harus memikirkan strategi baru. 

Tak hanya Intel. Perusahaan AMD (advanced mikro devides). Turut ikut menyesali ketika menerima informasi tentang pemblokiran yang diberlakukan oleh pemerintah AS, seolah olah tak percaya bahwa dampak perang itu turut berimbas mengerus keuangan dan bisnis AMD. 

Amerika Serikat turut memerintahkan sekutu dari Uni Eropa, pemilik ASML untuk melarang menyediakan dan menjual mesin litografi EUV ke China. (Salah satu pemegang saham terbesar di ASML adalah Intel).

Larangan ekspor teknologi ke China dapat membawa masalah krusial baru pada keadaan lanskap ekonomi global yang dapat berubah.

Mengingat China adalah raksasa manufaktur teknologi #1 di dunia dengan harga efektif dan paling efesien di muka bumi ini. 

Kesepakatan pemblokiran chip dan teknologi penunjang lainnya yang diberlakukan oleh pemerintah AS tentu tak membuat China tinggal diam saja. 

Pemerintah komunis PKT (partai komunis China) memiliki perusahaan BUMN semikonduktor chipset SMIC tandingan untuk membantu menyediakan kebutuhan pasokan chip dalam negeri secara lokal dan bekerja keras membuat mesin litografinya sendiri, membuat komponen elektroniknya sendiri dan membuat chipset sendiri. China tentu berharap semua teknologi miliknya menggunakan 100% chipset buatan lokal tanpa campur tangan dari pihak Amerika Serikat lagi. Seperti yang diutarakan oleh professor doktor Cao haitao dari China.  

Tetapi para analisis memperkirakan. Bahwa teknologi dari perusahaan SMIC, AMEC dan SILERGY  milik China, masih dibawah keunggulan Amerika Serikat. 

Pemerintah Amerika Serikat tak cukup berhenti dilangkah ini saja. Daftar panjang perusahaan teknologi asal China yang berisiko diblacklist berikutnya adalah Alibaba, Baidu, JD.com, Sinopec, China life asuransi, Aluminium corporation of China, Tiktok dan lain lain. 

Namun, audit diperlukan secara hati hati oleh pemerintah AS, tak boleh sembarangan memblokir produk dan teknologi buatan China, mengingat beberapa kelebihan dari produk made by China seperti harga murah yang kompetitif dan berkinerja handal walaupun berharga murah banget.

Mayoritas rata rata produk teknologi tinggi milik Amerika Serikat terkendala utama pada harga yang relatif mahal. 

Membanned, memblokir, melarang dan memblacklist produk made by China malah dapat menjadi bomerang yang menyengsarakan bagi pemerintah dan rakyat AS itu sendiri. 

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.

Related Post