Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Diary urban farming, family cooking, bisnis online, travel dan investasi cryptocurrency September 2022

Saya kembali menulis tentang diary urban farming, family cooking, bisnis online, travel dan investasi cryptocurrency hasil bulan September 2022.

Tulisan ini saya tulis sebagai pedoman bagi saya untuk mencari kelemahan dan kelebihan setiap strategi untuk menjadi lebih baik lagi.

Siapa tahu bermanfaat bagi pembaca ya.

Membuat tempat bercocok tanam buah rimbang dan pipit

Di kota Palangkaraya, harga 1 buah rimbang Rp 5.000 rupiah. 

Buah ini sering aku bikin sayur pelengkap nasi. rasanya enak asam asam gitu. Kalau pipit dan rimbang, biasanya aku bikin pangangan aja ngga usah dikasih bumbu apa apa sih, di sup juga enak, di jadiin sambal juga nikmat. 

Tanaman ini tumbuhnya mudah tanpa perawatan rumit asal sering rutin disiram pakai air dan diberi pupuk. 

Berbuahnya juga cepat, kebal hama dan proses budidayanya juga mudah tanpa harus membeli bibit di toko. 

Nah, karena aku suka banget dengan buah rimbang dan pipit. 

Makanya aku putusin membuat tempat bercocok tanaman ini di depan rumah. 

Membuat kandang ayam baru bersama pak ayu. 

Bulan kemaren, aku dibantu oleh bapak ayu, tetangga sebelah rumah yang ahli pertukangan, kami bikin kandang ayam baru lagi, buat nampung anak ayam dan tempat ayam bertelur.

Untuk pembuatan box kandang dibikin oleh papah aku.  

Semua proses pengerjaan pembuatan kandang telah selesai. Terlihat beberapa ayam mulai masuk berdatangan untuk bertelur.

Santan kara dieliminasi dari daftar makanan aku : 

Masih ada beberapa jenis makanan yang kecolongan selama ini, yaitu santan kara. 

Beberapa waktu lalu, aku membuat bubur kacang ijo pakai santan kara beli dari toko Indomaret. 

Mulai hari ini, santan kara telah dieliminasi dari daftar kumpulan menu.

Sebagai gantinya, kembali seperti di tahun yang lalu, yaitu menggunakan santan asli dari buah kelapa hasil dari parutan mesin tradisional. 

Agar sukses peternakan ayam kampung membutuhkan lahan tanah standar 1 hektar dan 1.000 ekor agar bisnis ini dapat berkelanjutan.

Ada 4 jenis peluang usaha untuk peternakan ayam, yaitu menjual bibit doc, menjual telur segar, menjual panen daging ayam kampung hasil pembesarannya dan kombinasi dari keseluruhannya. 

Beberapa waktu lalu, aku berpikir bahwa jenis peluang bisnis ayam kampung apa yang paling cocok buat aku, jadi diputusin, fokus ke jual daging ayam kampung aja ke pasar. 

Kalau telur di tetes pakai mesin penetas, lalu doc bibit ngga usah beli dari luar, kecuali untuk perbaikan genetik. Bisa beli 1 atau 2 anakan ayam dari toko. Kemudian anak ayam dibudidayakan selama beberapa bulan hingga besar. Aku butuh antara 5 - 7 bulan untuk bisa panen perdana agar dapat dijual.

Sambil juga mencari informasi lagi tentang bibit ayam kampung yang udah bisa panen dalam waktu 2 bulan. Bahkan ada yang mengklaim hanya butuh waktu 45 hari sudah 1 kg.

Lalu kemudian aku berpikir lagi. 

Karena agar dapat meraup keuntungan dengan selisih harga jual yang rendah dan waktu pemeliharaan yang lama. Jadi, kira kira membutuhkan 1.000 ekor ayam kampung.   

Ayam kampung yang aku miliki sekarang ini ada 70 ekor. Sehingga kurang cocok digunakan sebagai bisnis. Akibatnya hanya sebatas konsumsi pribadi yang biaya pakannya tak berkelanjutan walaupun secara teknis harga telah menghasilkan efesiensi dalam pembeliaan daging. Artinya jika mau masuk ke level yang lebih tinggi untuk menutupi biaya pakan dan menghasilkan pendapatan keuntungan lipat maka memerlukan 930 ekor lagi. 

Untuk memelihara 1.000 ekor ayam kampung agar dapat berkelanjutan, minimal membutuhkan lahan tanah dengan standar luas minimal 1 hektar. Mayoritas beberapa persen lahan tanah di bagi untuk keperluaan menanam jagung menggunakan sistem irigasi tetes otonom. Lalu beberapa persen lagi, untuk padang rumput hijau, agar ayam makan rumput dengan sendirinya sehingga diharapkan dapat memotong banyak biaya pakan dari toko. Lalu sisa beberapa persen dari luas hektar untuk penyimpanan kompos pupuk. 

Apakah bisa sukses peternakan ayam kampung tanpa memenuhi standar kuota 1.000 ekor dan 1 hektar. Jawab saya sih sulit ya, lagian itu ngga berkelanjutan karena kotoran ayam banyak dibuang sia sia. Kecuali kalau orang itu nyambi sambil jualan batagor, jadi youtuber, jaga toko semen, jadi gojek di malam hari, nyambi sambil jadi PNS, jadi sales marketing penjualan mesin, jadi supir truck, dll. Maka memelihara 500 ekor ayam kampung aja udah bisa dikatakan sukses, karena ada sumber penghasilan utama dari pekerjaan lain.  

Syarat untuk menjadi peternakan ayam kampung yang benar benar 100% peternak mandiri asli, maka mau tak mau kuota 1.000 ekor ayam kampung dan luas lahan seluas 1 hektar harus terpenuhi terlebih dahulu. 

Jika ini tak dipenuhi, maka mengalami banyak kesulitan, kerepotan, kesusahan, bahkan sering was was jika ada hujan takut ayam banyak mati dan adanya tekanan akibat perubahan harga tak menentu di pasaran.

Bandingkan jika orang orang peternak yang memiliki standar pemelihara 1.000 ekor ayam kampung dan luas 1 hektar. 

Mereka jarang kwatir terhadap pergolakan harga naik turun dan kematian ayam kampung selama masih bisa ditekan di bawah 10%, karena biaya pakan makanan sudah dapat ditekan besar besaran melalui integrasi jagung dan padang rumput. Bahkan mereka sama sekali tak perlu membeli pupuk. Itulah keuntungan memiliki 1.000 ekor ayam kampung dan lahan 1 hektar. 

Saya pernah bertanya dengan ibu peternak ayam broiler, mereka memelihara dengan standar kuota 6.000 ekor.  

Sehebat apapun seseorang berternak ayam kampung. Ia di jamin bakal kerepotan dan kesulitan jika tak memiliki lahan 1 hektar dan kuota 1.000 ekor. 

Jadi, fakta yang harus aku ketahui terlebih dahulu dalam usaha peternakan ayam kampung mandiri adalah bahwa memang mau tak mau, wajib hukumnya memenuhi standar 1.000 ekor dan memiliki 1 hektar lahan tanah agar sukses di bisnis ayam kampung.

Pertanyaan selanjutnya adalah...? 

Bagaimana cara aku mengatasi masalah lahan ini, mengingat lahan tanah 1 hektar di kota Palangkaraya berharga miliaran rupiah. 

Jawabnya : Aku belum tahu solusinya...? Aku sedang berpikir keras untuk memecahkannya. 

Permasalahan lahan memang sudah lama aku pikirkan sejak dulu. Memang sulit banget ya untuk sukses di bidang peternakan dan pertanian ya jika kuota 1 hektar tak terpenuhi. 

Di Kalimantan tengah. Ada banyak orang orang memiliki lahan 1 hektar tapi kosong tak di rawat oleh mereka, disisi lain pertumbuhan finansial mereka berkurang dari hari ke hari. Mereka berpikir lahan lebih dari 1 hektar cocok hanya untuk tanam kelapa sawit, pohon sengon, pohon gaharu dan pohon karet. 

Sulit jika syarat 25 hektar belum terpenuhi di awal. Pada akhirnya hanya ada kecemasan, kekwatiran dan stress karena biaya urusan perawatan kebun ini itu banyak terbuang sia sia.  

Menurut pikirku, itu tak efektif sama sekali karena untuk sukses di perkebunan seperti sawit, sengon, dll minimal membutuhkan lahan 25 hektar. 

Jika punya 1 hektar, paling cocoknya sih masuk ke bidang peternakan ayam kampung, babi, ikan atau sapi. Alasannya karena permintaan kebutuhan terhadap daging ini begitu tinggi, permintaan selalu ramai di pasaran. 

Apabila teman teman punya lahan 1 hektar sedang nganggur ( terbengkalai ) dan pendapatan keluarga anda tergerus dari hari ke hari. 

Aku pikir cobalah masuk ke perternakan ayam kampung terlebih dahulu. Itu solusi yang dapat aku sampaikan, setidaknya dalam memenuhi pasokan protein daging bagi keluarga kita. 

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.