Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Trend meningkatnya pembeliaan nugget untuk kalangan menengah karena sudah tak mampu lagi membeli ayam broiler utuh segar sebagai kebutuhan protein ( 2023 )

Harga daging ayam broiler utuh segar terus merangkak naik dari waktu ke waktu. Saat artikel ini ditulis kepada anda pada tahun 2023 untuk 1 kg daging ayam ras broiler di kota Palangkaraya, Kalimantan tengah berkisar di harga antara Rp 41.000 ribu - Rp 50.000 ribu per satu kilogram. 

Artinya naik dari tahun sebelumnya yang berada di level harga antara Rp 30.000 - Rp 35.000 ribu rupiah. 

Kenaikan harga membuat mayoritas orang orang di Indonesia dari kalangan bawah hampir tak mampu lagi sanggup membeli daging ayam ras utuh segar sehingga terpaksa memutuskan hanya sanggup membeli beras, mie instan, tahu, tempe, ikan, dan telur sebagai menu makanan sehari hari. 

Sedangkan dari kalangan menengah mulai beralih ke pembeliaan dari tadinya daging sapi utuh menjadi sosis sapi, dari tadinya membeli daging ayam broiler ras utuh nan segar menjadi nugget beku ( freezer ).

Trend meningkatnya pembeliaan nugget untuk kalangan menengah karena sudah tak mampu lagi membeli ayam utuh segar sebagai kebutuhan protein ( 2023 )

Protein daging hewani dari ayam broiler merupakan salah satu sumber zat gizi yang baik untuk pertumbuhan dan kesehatan manusia, karena daging segar ini dilengkapi juga dengan kandungan asam amino, mineral dan sebagai sumber insulin alamiah. 

Informasi data menunjjukkan bahwa, mayoritas rata rata orang orang Indonesia mengkomsumsi protein daging ayam broiler sebesar 0,5 kg per bulan per individu atau 0,1 kg ( 100 gram ) per minggu. 

Sedangkan konsumsi daging sapi sebesar 0,2 kg per bulan per individu.

Malahan, mayoritas orang Indonesia kebanyakan makan nasi + dengan lauk pauk berupa mie instan. Tren makanan instan cepat saji berbahan mie meningkat 4%.   

Dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika Serikat, mayoritas orang orang AS mengkomsumsi protein daging ayam broiler sebesar 14 kg per bulan per individu atau sekitar antara 0,4 kg sampai 0,5 kg per hari. 

Terlihat perbedaan yang begitu mencolok ya.

Sehingga dengan tingkat konsumsi protein ayam broiler yang rendah pada mayoritas masyarakat Indonesia dapat berdampak bencana dengan menimbulkan efek jangka panjang menurunkan kecerdasan SDM karena otak tak lagi mendapatkan asupan protein hewani yang seimbang dan bermutu tinggi. 

Kesanggupan daya beli keuangan finansial masyarakat Indonesia terhadap daging ayam ras broiler menjadi penyebab mengapa rendahnya konsumsi protein ayam di negara NKRI. Faktor lain yang menjadi alasan yaitu karena masalah perang harga atau ketidaksesuaian harga kepada sesama pelaku di industri dalam negeri yang justru merugikan pihak lain. 

Terlepas dari semua permasalahan diatas. 

Trend menimbulkan efek riak gelombang berikutnya yaitu meningkatnya pembeliaan nugget di toko Indomaret dan Alfamart untuk kalangan kelas menengah.  

Kebutuhan terhadap permintaan daging ayam broiler di Indonesia tetap selalu tinggi, tetapi tak diimbangi dengan keadaan finansial, sehingga kalangan bawah ( miskin ) sudah tak mampu lagi membeli ayam broiler segar utuh, sedangkan kalangan menengah beralih ke nugget. 

Nugget merupakan makanan kemasan olahan yang dibekukan dan tahan awet hingga berhari hari.

Pengelolaannya menggunakan ayam ras yang digiling halus menjadi bagian kecil kecil sebagai bahan baku utama, tetapi jumlah komposisi daging ayam hanya setengah saja, karena kebanyakan isi dari nugget berupa komponen tepung yang secara unsur bukanlah protein melainkan karbohidrat. 

Artinya bahwa kalangan menengah di Indonesia sudah mulai akrab dan menjadi lazim. 

Menjadikan makanan kemasan nugget sebagai menu. Entah itu dimasak dengan cara di kukus atau di goreng. 

Untuk setiap harga nugget per kilogram, jauh lebih murah dibandingkan harga ayam utuh segar per kilogram. 

Pada akhirnya, mayoritas orang orang Indonesia di kalangan menengah memilih nugget. Walaupun secara kesehatan itu tak baik bagi tubuh, karena komposisi karbohidrat lebih tinggi dibandingkan protein yang telah hilang setengahnya. 

Ini mengisyaratkan bahwa daya konsumsi protein daging ayam semakin berkurang dari tahun ke tahun dapat anjlok lagi dari yang tadinya 0,5 kg per bulan menjadi 0,3 kg per bulan akibat peralihan ke nugget yang notabene protein sudah dihilangkan setengahnya menjadi mix percampuran tepung. 

Apabila masalah daging ayam tak teratasi, maka berimbas menjalar kepada konsumsi daging sapi yang dapat anjlok ke tingkat 0,0 kg per tahun per individu. Artinya mayoritas orang orang Indonesia pada masa depan tak pernah lagi dapat mengetahui bagaimana mencicipi rasa daging sapi, entah itu dalam bentuk sosis sapi, kornet sapi maupun pentol berbahan dasar sapi. 

Anak cucu malah akrab dengan makanan mie instan & nugget ayam.    

Produk nugget berbahan dasar ayam yang terkenal di Indonesia, salah satu contohnya yaitu So good dan Fiesta

Lalu bagaimanakah solusi untuk mengatasi hal ini. 

Jawabannya begitu kompleks dan sulit. 

Dibutuhkan kerjasama konkrit dari pemerintah pusat selaku pembuat kebijakan utama, BUMN PT ID FOOD ( holding ) sebagai satu satunya perusahaan milik negara di bidang peternakan ayam broiler dan pemangku kepentingan di industri untuk duduk bersama membahas permasalahan tersebut. Pemimpin presiden yang cerdas, cepat tanggap, tangguh, cekatan dan tahu masalah ini tanpa membiarkan masalah berlarut larut. Karena kunci penyelesaian permasalahan ini, terletak kepada presiden.

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.