Langsung ke konten utama

Kenapa saya yakin kereta cepat eksklusif Jakarta Bandung di era kebijakan presiden Jokowi dengan biaya infrastruktur ratusan triliun rupiah dari sumber pajak APBN rakyat bakal remuk, hancur, roboh, mangkrak dan tidak digunakan lagi di masa depan sekalipun disubsidi pakai pajak orang Papua ( 2023 )

Kereta cepat eksklusif Jakarta Bandung berbeda dibandingkan jenis merk dari kereta tradisional lainnya yang ada di Indonesia apabila dilihat dari sudut pandang teknologi. Maka kereta cepat Jakarta Bandung memiliki mesin made by China yang lebih wow, canggih dan modern. Tetapi itu harus dibayar dengan harga tikel yang mahal. 

Hanya orang kaya dan orang kalangan menengah saja yang bisa naik kereta cepat tersebut. Tapi orang miskin tidak bisa karena bagi mereka harga tiketnya kemahalan ya. 

Untuk mengatasi masalah tiket. Baru baru ini menurut laporan berita dari detik.com demi menutup biaya ongkos. Pemerintah Indonesia memutuskan untuk mensubsidi kereta cepat tersebut. Tapi laporan diperbaharui katanya ngga jadi disubdisi.  

Menurut rumor yang terus menerus datang. Pemerintah Indonesia tetap bersikukuh agar tiket kereta cepat dapat disubsidi dari anggaran APBN agar nanti seperti harga tiket kereta lambat. 

Entah apapun kebijakan yang disetujui. Baik itu kereta cepat disubsidi atau tidak disubsidi. 

Menurut pendapat saya. 

Saya tetap tidak dapat naik kereta cepat, karena saya berada di pulau Kalimantan. he he..., 

Begini ya, aku pikir. Kereta cepat eksklusif seharusnya tidak dibutuhkan untuk orang orang Indonesia.

Karena biaya operasional untuk merawat atau maintenis kereta cepat itu mahal. 

Selayaknya, orang orang Indonesia cukup menggunakan mobil, sepeda motor, bus, sepeda, becak dan truck saja. Tidak perlu gaya gayaan meniru pengen terlihat keren seperti Jepang, China dan negara lainnya yang memiliki kereta cepat. 

Selain itu, transportasi umum berbasis kendaraan dikenal memiliki efesien dan lebih murah. 

Hal ini disebabkan oleh kondisi ekonomi Indonesia saat ini sesungguhnya belum layak menurut aku untuk membiayai kereta cepat tersebut. Selain itu, pembangunan infrastruktur dan mesin mesin itu masih kreditan ( belum lunas ) ada bunga pinjaman ke China yang harus dibayar untuk kedepannya. Dan jumlah uang yang harus dilunasi itu tidaklah sedikit.  

Indonesia memiliki koneksi kota antar kota yang terbuka. Artinya kereta cepat memang tidak dibutuhkan sebagai saranan transportasi. Penggunaan Gojek, Grap, mobil travel dan kendaraan bus umum sudah cukup menghandle semua kebutuhan transportasi tersebut. 

Apalagi kedepannya di tahun 2035 atau 2040 kelak makin banyak hadir truck self driving, bus self driving dan taxi otonom. Ini saya pikir, dapat memecah sedikit dalam pengurangan kemacetan walaupun tidak dapat menyelesaikannya. Alih alih pakai kereta cepat yang mahal. Itu justru menjadi sumber masalah transportasi karena terkait perawatan jaringan rel, mesin dan infrastrukturnya mahal.   

Dengan adanya layanan otonom, seringkali suatu saat banyak orang dapat menyelesaikan perjalanan dengan sendirinya tanpa menggunakan kereta cepat. 

Apalagi harga motor dapat dijangkau oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Sedangkan kereta cepat itu tidak bisa dijangkau, hanya kalangan pemerintah saja yang sanggup membeli, mengoperasikan dan memiliki.

Itulah kenapa aku yakin kereta cepat eksklusif Jakarta Bandung di era kebijakan presiden Jokowi dengan biaya infrastruktur ratusan triliun rupiah dari sumber pajak APBN rakyat bakal remuk, hancur, roboh, mangkrak dan tidak digunakan lagi di masa depan sekalipun disubsidi pakai pajak orang Papua. 

Kereta cepat itu tidak dapat laku banyak, kursi penumpang bakal sering kosong. Akhirnya nanti di masa depan terus merugi, gulung tikar, bangkrut dan berakhir dengan penutupan bisnis. 

Kursi penumpang bakal sering kosong karena menjadikannya tidak layak untuk menjadi sebuah bisnis yang berhasil.

Artinya sebanyak triliunan rupiah uang yang pernah dianggarkan untuk kereta cepat Jakarta Bandung saya pikir bakal berakhir sia sia.  

Pihak yang untung dari kerugian ini hanyalah para pejabat pejabat yang memulai proyek kereta cepat.

Tetapi pihak yang dirugikan adalah rakyat karena membiayai pembangunan proyek tersebut dari uang pajak yang disetor ke pemerintah. 

Kereta diciptakan pertama kali pada tahun 1803 oleh Richard trevithick. Menurut aku secara pribadi, teknologi kereta merupakan inovasi manusia yang terlalu berlebihan dan tak selayaknya infrastrukturnya di bangun di negara Indonesia, bahkan juga di seluruh dunia.

Kereta merupakan alat moda transportasi mahal yang merugikan, bahkan pihak perusahaan swasta yang tahu tentang cara menghitung bisnis untung rugi, tentu saja takkan mau tertarik membangun bisnis di bidang ini. Oleh sebab itu, mengapa mayoritas di penjuru dunia jaringan rel dan bisnis kereta hanya di dominasi oleh pihak dari pemerintahan itu sendiri, karena pejabat dapat mengambil uang APBN hasil pajak rakyat untuk membangun bisnis kereta dan separuh uang pajak hasil pembangunan proyek kereta dapat masuk ke kantong pejabat.   

Membangun jaringan rel kereta membutuhkan modal besar, mulai dari pengerjaan teknologi, mesin, membeli banyak blok kayu, semen beton dan pembangunan penempaan besi yang panjangnya hingga ratusan kilometer. Itu perlu banyak uang dibandingkan dengan membangun jalan. Biaya untuk mendanai rel kereta jauh lebih mahal ketimbang jalanan umum. Apalagi perawatan biaya operasional jalur kereta juga besar. Sehingga tak selaras secara ekonomi. 

Tak peduli apakah itu kereta cepat, kereta lambat atau kereta kargo, semuanya merupakan kereta yang merugikan.

Infrastruktur jaringan kereta terlihat keren dimata banyak orang tetapi sebenarnya tak keren.  

Jaringan rel kereta sesungguhnya dapat sepenuhnya dihandle oleh moda transportasi publik yang sudah ada pada umumnya seperti bus, truck dan mobil listrik. Alih alih menggunakan kereta. 

Bus listrik, truck dan mobil menggunakan jalur jalan beraspal yang biaya perawatannya lebih murah ketimbang kereta. Penggunaan kereta hanya sebatas di jalur kereta saja. Sedangkan bus, truck listrik dan mobil dapat bertugas multifungsi. 

Faktor teknologi autonomous dimasa depan. Seperti bus dan truck otonom dapat membuat efesiensi 2x lipat untuk transportasi di Indonesia. Ketimbang pemerintah menggunakan kereta cepat.

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU. 

Related Post