Langsung ke konten utama

Peternakan konten navigasi nextpage 1 2 3 membuat pengiklan Google Adwords merugi dikisaran perkiraan $ 80 miliar per tahun dengan memanipulasi RPM halaman ( 2023 )

Saya sebagai penulis konten di blogspot telah menemukan adanya temuan indikasi kerugian yang dapat meresahkan banyak pengiklan global pada platform Google Adwords.

Google Adwords adalah sebuah produk periklanan yang dibuat oleh perusahaan Alphabet, dimana para sponsor atau pengiklan membayar ke layanan tersebut. 

Sejak lama, Adwords menerapkan 2 jenis pembayaran dengan konsep sistem PPC ( pay per click atau bayar per klik ) dan sistem RPM.

RPM adalah pendapatan halaman per seribu tayangan dihitung dengan membagi penghasilan tertaksir melalui permintaan iklan lalu dikalikan 1.000. Artinya setiap 1.000 pageview kunjungan dari traffik visitor, maka pengiklan harus membayarkan sejumlah uang tertentu berdasarkan niche konten yang dibidik masing masing berdasarkan harga masing masing juga sesuai lokasi geografis mereka. 

Misalnya setiap 1 kali kunjungan seseorang ke webblog maka pengiklan harus membayar Rp 1 rupiah atau Rp 2 rupiah, dst. ( nilai biasanya berbeda beda ). 

Jadi secara sadar tidak sadar. Anda ( konsumen ) yang mengunjungi sebuah website atau blog yang terdaftar di plaftorm Adsense. Maka pengiklan wajib membayar per setiap 1.000 kunjungan view.

Bahkan sekalipun iklan mereka tidak diklik, maka pengiklan tetap harus wajib membayar biaya RPM tiap 1.000 kunjungan tersebut.  

Disinilah letak titik masalahnya. 

Akhir akhir ini. Mulai banyak penerbit blog dan situs berita mencoba mengakali peningkatan penghasilan iklan Google Adsense dengan membuat, menciptakan dan membangun peternakan konten melalui navigasi nextpage 1 2 3 yang bersifat fiktif dan pendek.

Yaitu dengan cara memecah isi konten artikel atau berita dari yang tadi panjang karakternya 500 kata. Di pecah pecah menjadi 1 atau 2 atau 3 halaman pendek pendek. 

Dari sisi pembaca. Secara jelas itu merugikan karena membuat jempol sakit harus klik halaman berikutnya hanya untuk membaca artikel selanjutnya. Selain itu juga merugikan kuota internet karena harus klik klik link berikutnya lagi. 

Dari sisi pengiklan. Secara jelas itu adalah teknik mengelabui RPM halaman demi mengejar tayang 1.000 view. Itu sama saja dengan perbuatan melakukan SPAMMING KONTEN. 

( NB : Dalam bahasa inggris RPM disebut CPM ( cost per mille ). 

Pada tahun 2022. Perusahaan Alphabet menghasilkan pendapatan iklan mencapai $ 225 miliar dolar atau sekitar Rp 3.375 triliun rupiah ( Itu hanya dari pendapatan iklan saja belum dihitung dari sumber lainnya ). 

Saya tidak tahu berapa untuk pembayaran iklan CPM, karena tidak ada laporan data yang disampaikan.

Jadi perkiraan saya sekitar $ 80 miliar dolar per tahun atau sekitar Rp 1.200 triliun rupiah. 

$ 80 miliar dolar merupakan angka yang besar. 

Para pelaku spam yang menerapkan nextpage 1 2 3. Dapat menyebabkan pengiklan Adwords merugi karena memanipulasi kunjungan CPM. 

Hal ini dapat menyebabkan pengiklan Adwords suatu saat nanti kurang tertarik lagi untuk beriklan di Google Adwords dan siapa tahu memutuskan pindah beriklan ke Tiktok lead generation yang notebene Tiktok saat ini menjadi salah satu pesaing terberat Alphabet dari segi perdagangan iklan. 

Google harus memonitor dan mengambil tindakan serius untuk menghilangkan spam yang menyebabkan kerugian bagi pengiklan. Akibatnya, Google dapat kehilangan pendapatan.

Untungnya, pihak tim Google ( Alphabet ) begitu cerdas. Sehingga beberapa waktu lalu telah mengambil keputusan tepat atau kebijakan dengan cepat melarang pembuat website dan blog yang memiliki konten minim untuk dilarang menampilkan iklan Adsense.

Hanya saja, menurut saya. Kebijakan tersebut belumlah cukup. 

Para pelaku spamming dengan menerapkan nextpage 1 2 3 belum diberikan hukuman setimpal. 

Jadi untuk mengatasi permasalahan ini. Sepertinya tidak ada solusi jitu selain menghapus sistem RPM yang sudah diberlakukan sejak lama diketahui merugikan pengiklan.

Karena selama RPM masih tersedia, selalu ada cara pelaku peternakan konten spamming melakukan upaya lain.  

Jadi, Google Adsense harus kembali ke fitrah awal. Hanya berbasis CPC. Itu saja. 

Artinya Google hanya membayar untuk setiap klik iklan. Itu saja. 

Sehingga setiap berapa kali kunjungan view apapun tanpa menghasilkan klik iklan yang sah. Para konten atau penulis diweblog tidak perlu dibayar lagi per tiap 1.000 tayangan agar tidak merugikan pengiklan. Karena selama ini, RPM menjadi celah gurih bagi tindakan para aktor peternakan spamming. 

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.