Langsung ke konten utama

Diary Juli 2023

Saya kembali menulis tentang diary hasil bulan Juni 2023

Tulisan ini saya tulis sebagai pedoman bagi saya untuk mencari kelemahan dan kelebihan setiap strategi untuk menjadi lebih baik lagi.

Siapa tahu bermanfaat bagi pembaca ya. 

4 ekor babi mati 

Pada tanggal 23 Juli 2023. Babi tidak menghabiskan makanan dan terlihat malas makan. Lalu babi suka tidur tiduran di kandang. Mirip seperti kejadian di masa lalu. Tapi kali ini setelah saya cek. Tidak ada tanda tanda tubuh babi mengalami bintik bintik merah akibat terserang virus ASF. 

Kuat dugaan babi terserang virus dan bakteri jenis lainnya, tapi saya ngga tahu apa namanya. 

Padahal aku rasa biosecurity kandang sudah ketat. Karena tidak ada lagi orang lain lalu lalang seperti dulu untuk melewati jalan setapak.  

Namun biosecurity pakan masih ceroboh. 

Jenis virus dan bakteri kali ini saya perhatiin menyerang atau menyasar ke perut babi, karena babi sering merasakan sakit pada bagian perut, lalu juga berimbas ke sesak nafas, mata merah dan pusing kepala akut. 

Pada hari hari biasa, babi aktif dan ceria. Namun kini berubah total suka tidur tiduran. 

Tanggal 24 Juli 2023. Pengobatan dimulai. Aku bergegas membeli antibiotik pyroxy spektrum luas dan vitamin Bplex. Tapi babi masih saja sakit perut. Kuat dugaan virus dan bakteri berasal dari kesalahan pola manajemen pakan saya seperti yang saya bahas diatas tadi. Terindentifikasi babi telah makan makanan beracun yang penuh hama bakteri & virus kotor yang berasal dari pakan busuk & basi.

Tanggal 25 Juli 2023. Hari pengobatan kedua. ( Disuntik pyroxy dan bplex ). Tapi babi masih saja sakit terbaring kaku.

Tanggal 26 Juli 2023. Hari pengobatan ketiga. Babi masih saja sakit terbaring kaku bahkan tidak sanggup berdiri dan tidak sanggup makan lagi. Seorang diri aku mencoba memberikan mereka makan melalui infus menggunakan selang dan botol aqua memaksakan babi untuk makan melalui mulut dengan cara ramuan berupa tepung gandum segitiga biru, gula merah, rebusan kepala ayam yang sudah dipotong potong kecil, biji jagung, sedikit bubuk susu, BR, EM4 dan Viterna.

Pada tanggal 27 Juli 2023 ( Hari ke 4 pengobatan ). Babi kecil berwarna hitam meninggal dunia. Sisa babi yang masih hidup terbaring kaku, tetap aku berikan infus 4 kali sehari dan suntikan antibiotik. Makan pada jam 7 pagi, jam 11 siang, jam 3 sore dan jam 10 malam. 

Pada tanggal 28 Juli 2023. ( Hari ke 5 pengobatan ). Babi betina besar berwarna cokelat meninggal dunia.  Sisa babi yang masih hidup terbaring kaku, tetap aku berikan infus 4 kali sehari. Jam 7 pagi, jam 11 siang, jam 3 sore dan jam 10 malam. 

Pada tanggal 29 Juli 2023. Semua babi meninggal dunia.

Aku udah berusaha semaksimal mungkin untuk mengobatinya. Tapi pada akhirnya gagal. Ke 4 babi akhirnya seluruhnya mati akibat terserang penyakit. 

Masalahnya 4 babi yang aku pelihara bukan milikku. Tetapi itu milik modal uang punya orang lain yang memperkerjakan saya untuk memeliharanya. 

Aku belum tahu gimana cara mengembalikan modal uang tersebut akibat kematian ini, mengingat beban finansial yang lumayan besar karena jelas jelas aku tidak dapat membayar ganti ruginya. Tapi syukur aja pemilik babi dari orang itu baik hati, iklas dan paham tentang musibah ini sehingga tidak menuntut apa apa. 

Masalahnya. Rasanya penting untuk suatu saat aku harus wajib mengembalikan uang ganti rugi itu.

Walaupun orang itu ikhlas. 

Tetapi hati kecilku merasa tidak nyaman aja. Semoga saja kelak aku bisa membayar jasa kebaikan kepadanya atas kemurahan, ketulusan, kebaikan dan kemurahan hatinya.

Atur ulang sistem peternakan di rumah saya. Stop memelihara babi, fokus ayam kampung dan pertanian urban farming skala kecil kecilan.  

Sesungguhnya aku sama sekali tidak punya basic untuk memelihara babi karena selalu gagal dan mati.

Sehingga rasanya aku perlu lagi untuk menata ulang sistem peternakan di rumah sederhanaku.

Karena aku pikir memelihara babi itu sulit dan modalnya begitu besar. Memang sih kalau berhasil panen babi dalam jangka waktu 6-8 bulan, hasil keuntungan uangnya juga besar dan bikin tersenyum lebar.

Dulu punya rencana ingin untuk memelihara 10 ekor babi. Tapi karena kematian babi akibat terinfeksi virus jadi aku pikir stop dulu agar fokus ke memelihara ayam kampung untuk ditingkatkan menjadi 1.000 ekor seperti rencana semula. Sedangkan memelihara 10 ekor babi ditiadakan.  

Pada saat artikel ini ditulis. Jumlah ayam kampungku telah mencapai sekitar lebih dari 90 ekor.

Rencana kedepannya yaitu meningkatkan jumlah hingga 200 ekor untuk menuju next level berikutnya. Tapi itu menurutku masih butuh waktu lama bertahun tahun lagi untuk mencapai 1.000 ekor, karena jenis ayam yang saya pelihara bukan berasal dari bibit ayam kampung unggul. 

Untuk ayam kampung unggul cuma ada 1 ekor yaitu KUB2. Saya dulu beli di Shopee. 

Karena saya tidak sanggup membeli 1 box KUB2. Jadi saya mengandalkan 1 ekor ini aja dulu semoga dapat berkembangbiak. Kemudian saya segera mengganti seluruh jenis ayam kampung asli ke versi ayam kampung unggul KUB2. 

Sehingga di kandang saya, hanya ada 2 jenis model ayam saja. 

Yaitu ayam kampung KUB2 dan ayam kampung Bangkok. Namun tidak menutup kemungkinan kelak aku mencari bibit ayam kampung unggul jenis lainnya. Jika ada versi KUB3 ya aku segera beli dan upgrate juga nantinya. 

Rencana kedepannya saya pengen menyilangkan ayam KUB2 VS ayam Bangkok. 

Sehingga diharapkan menghasilkan bibit ayam KUB2 jenis baru yang mampu mencapai berat bobot 4 kg untuk jantan, 3 kg untuk betina, harus tidak bisa terbang tinggi, bertubuh merah, berkaki merah, jumlah produksi telur yang banyak, daya pertumbuhan cepat, daya kekebalan tubuh yang kuat, bulu lebat dan tingkat mengherem hanya 5%.  

Karena selama ini aku perhatiin. Nampaknya untuk studi kasus 1 ekor ayam KUB2 milik saya sepertinya masih memiliki kelemahan yaitu bobot tubuh ayam KUB2 tidak dapat sebesar ayam bangkok yang mampu mencapai berat hingga 4 kg, tidak bertubuh merah dan tidak berkaki merah. 

Tetapi ayam bangkok juga punya kelemahan karena tingkat mengheremnya tinggi, produksi telurnya sedikit hanya 8 butir per sekali masa telur, daya pertumbuhan lambat, gampang sakit saat masih doc dan bulu jelek berantakan tipis pecah pecah. 

Sedangkan ayam kampung asli lokal. Kelak saya babat habis dan punahkan semuanya karena hanya menghasilkan keterlambatan, sering sakit sakit, daya mengheremnya terlalu tinggi, gampang mati, jumlah telur sedikit dan untuk menunggu bobot 1 kg saja bisa menunggu hingga 7-8 bulan, lama banget nunggunya bisa bisa seseorang jadi tengkorak deh kalau nunggu panen selama itu. 

Harapan aku agar diganti dengan mayoritas KUB2, ayam bangkok dan versi silangan saya sendiri yaitu ( KUB2 + Bangkok ).

Karena saya menyadari saya tidak punya pilihan lain jika ingin sukses di peternakan ini, kalau tetap menggunakan ayam kampung asli lokal bebannya berat sekali, sehingga saya tidak mau menanggung resiko kehidupan dengan jenis bibit ayam kampung asli lokal tersebut, sehingga harus cepat cepat beralih seluruhnya ke versi KUB2 dan Bangkok untuk hasil yang lebih baik. 

Ada jalan pintas, jika punya uang modal banyak. Maka dapat beli 1-10 box ayam kampung KUB2 di toko Shopee. Tetapi aku saat ini tidak punya modal besar. 

Foto : Akibat memelihara ayam kampung dari jenis ayam kampung asli lokal maka daya mengheremnya terlalu tinggi dan suka rebutan tempat padahal di tempat lain masih banyak space kosong. 

Oh ya, untuk pemasaran ayam kampung.

Saya kembali ke awal lagi, tidak menjual ke toko frozen food karena aku ngerasa cape banget juga mesti potong dan cabut bulu ayam satu per satu. Memang sih harga jual ke frozen food jauh lebih tinggi daripada si paman pengepul yang hanya sekitar Rp 40.000 per 1 kg. 

Walaupun harga pengepul lebih murah sehingga terkesan aku rugi. Lebih baik jual daging ayam murah saja Rp 40.000 ribu per 1 kg daripada saya mengalami cape encok pegal linu. He he he...,  

Menuju desa tuwung

Saya, mamah, papah dan keluarga pergi menuju ke desa tuwung di area sekitar kota Palangkaraya untuk mengunjungi sebuah acara ulang tahun yang diadakan disana.  

Desa ini berada sekitar 30 km dari arah kota Palangkaraya. 

Karena berhubung ada parit kecil dengan air mengalir yang jernih banget disana. Kami sekeluarga pun bergegas mandi dan berenang. Tapi karena airnya terlalu dingin, saya ngga jadi berenang. he he..., 

Dulu pada tahun era 90. Aku ingat air di berbagai macam parit kota palangkaraya juga sejernih air seperti di foto ini, banyak ikan dan banyak udang. Namun karena banyak muncul perumahan baru maka air yang ada di segenap kota Palangkaraya berubah menjadi bau, penuh jentik nyamuk, berwarna hitam pekat penuh oli, tidak ada ikan lagi malahan banyak pencemaran sampah busuknya karena penduduk zaman sekarang di kota Palangkaraya suka buang sampah sembarangan dan banyak kecoak, cacing, belatung, lumut beraroma busuk dan tikus juga.

Di desa Tuwung. Parit airnya masih jernih. Bahkan ikan dapat terlihat dengan jelas. 

Entah sampai kapan parit jernih ini bisa bertahan. 1 dekade lagi, aku pikir. Air di desa tuwung juga berubah menjadi kotor dan penuh sampah. 

Paling ngga dinikmati aja dulu sekarang ya, sebelum pada akhirnya juga kelak lingkungan didesa tuwung hancur dan rusak. 

Adik pulang dari kota Jogjakarta menuju Palangkaraya.

Setelah kira kira 4 tahun tinggal dan bekerja di kota Jogjakarta.

Adik saya pulang ke kota Palangkaraya. 

Jadi sekarang di rumah ada 4 orang. Aku, mamah, papah dan adik. 

Di Palangkaraya. 

Adik berhasil diterima pekerjaan menjadi staff pengajar dengan pangkat kepegawaian PPPK. 

Alasan pindah ke kota Palangkaraya karena pengen ikut tinggal dengan suaminya nanti. Kebetulan juga calon suaminya tinggal bekerja di Palangkaraya di kantor IDX/OJK. Kebetulan juga adik diterima PPPK.  

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.