Lompat ke konten Lompat ke footer

The bubble company. 80% jumlah perusahaan, startup dan UKM yang ada saat ini bakal mengalami kebangkrutan dan punah ( 2024 )

Foto : Gelembung balon yang hendak pecah

The bubble company merupakan istilah saya sendiri. Mengisyaratkan tentang perumpamaan pecahnya gelembung balon. 

Ini diibaratkan sebuah perusahaan industri yang dinilai dengan valuasi besar tapi tidak profitbilitas semana mestinya, namun hidup bertahan hanya melalui uang investor atau melalui infus transfer uang dari perusahaan company lain di bidang investasi atau institusi investasi lainnya. 

Apa dampak dari akibat hal ini yaitu dapat menyebabkan peledakan ( meletus ). 

Ini nyata terbukti pernah terjadi pada tahun 2008 di headline berita Amerika Serikat kala itu. 

Krisis keuangan yang dipicu oleh kredit macet perbankan di sektor properti dan real estate AS ( subprime mortage ). Sehingga menyebabkan pasar saham di bidang perumahan juga ikut terjun bebas.

Dulu di tahun 2008. 

Saya ingat sekali ketika menonton di televisi channel siaran Bloomberg.

Rumah, apartemen, villa dan gedung sejenis lainnya dianggap sebagai investasi menguntungkan dan menarik bagi banyak investor. Banyak developer membangun rumah dalam jumlah besar dengan harapan kelak harganya naik tajam, mengingat mereka juga percaya bahwa dari hari ke hari harga tanah juga terus meningkat pesat. 

Akhirnya, orang orang dari kalangan menengah, kalangan kaya, hingga artis artis AS ( maksud saya artis pelacur di film porno pun ikut ikutan investasi properti ). Mereka berbondong bondong menjadikan rumah sebagai investasi. Rumah yang seharusnya dijadikan tempat tinggal, malah dijadikan investasi. Akibatnya harga rumah naik tajam dan karena perilaku manusia yang suka berspekulasi, maka harga rumah yang seharusnya berharga A, malah menjadi berharga B dibatas ambang kewajarannya menjadikan harga terlampau mahal. 

Ingin mengejar keuntungan yang lebih besar, orang orang lalu berani berlomba lomba mengajukan pinjaman kredit ke Bank dengan memberanikan diri menagunankan barang berharga milik mereka ke perbankan untuk membeli rumah. Anehnya, pihak Bank juga menyetujui karena percaya harga rumah naik dari waktu ke waktu.  

Sontak saja di tahun 2008. Maka terjadi krisis yang disebabkan valuasi rumah diambang batas harga kewajaran. 

Akhirnya, banyak investor menangis karena nilai rumah turun tajam. 

Akhirnya, banyak artis bokep AS juga menangis sedih karena uang investasinya turun harga. 

Anggap saja, rumah yang seharusnya dinilai seharga Rp 1 miliar. 

Karena ulah jutaan investor yang ugal ugalan dalam memberikan penilaian, menyebabkan harga rumah ditaksir senilai Rp 10 miliar. 

Hem..., agak susah ya untuk memahami hal ini. 

Kalau perumpamaan mudahnya sih di Indonesia. Seperti fenomena batu akik dan fenomena bunga gelombang cinta yang pernah terjadi di kota Palangkaraya. 

Dulu di Palangkaraya pernah terjadi trending topik di masyarakat. 

Saya ingat waktu itu. Tanaman bunga gelombang cinta dihargai mahal hingga puluhan juta. Padahal aslinya dulu dijual tidak semahal itu, hanya sebagai tanaman hias seperti tanaman hias lainnya. Tetapi karena ulah investor, ulah pedagang atau ulah gosip siapa saya juga tidak tahu. Maka menyebabkan tanaman gelombang cinta menjadi mahal. 

Orang orang ramai membeli gelombang cinta di kota Palangkaraya. 

Orang orang ramai mengkoleksi gelombang cinta. 

Orang orang ramai menanam gelombang cinta untuk diperbanyak dengan harapan dijual lebih mahal lagi. 

Nah, ketika waktu berlalu, perlahan demi perlahan omongan orang mulai meredup. Pasokan jumlah tanaman gelombang cinta pun berangsur angsur menjadi lebih banyak dari batas ambang kewajarannya, karena banyak orang orang ikut menanamnya. 

Tanaman gelombang cinta pun kini tidak lagi jadi mahal, malah jadi murah seperti tanaman hias lainnya. 

Fenomena batu akik, rumah sebagai investasi dan tanaman gelombang cinta. 

Jika ditarik benang merahnya, juga mirip seperti fenomena company ( perusahaan ). 

Tahukah anda. 

Saat artikel ini ditulis. 

Ada banyak investor saham melakukan spekulasi yang mirip seperti yang sudah dibahas diatas. 

Apakah manusia belajar dari kasus kesalahan di rumah, batu akik dan gelombang cinta. 

Saat ini fenomena kasus ini terulang lagi, tapi kali ini ke investasi di "COMPANY'. 

Investasi di company tidak lah salah. 

Tapi yang salah yaitu membludaknya jumlah unit company yang ada saat ini dan valuasi penilaiannya ketinggian overweight. 

Manusia zaman now menjadikan perusahaan ( company ) sebagai tempat investasi juga dengan harapan mendapatkan keuntungan. Akibatnya kebanyakan perusahaan yang ada saat artikel ini diketik tahun 2024. Memiliki penilaian marketcap dan valuasi terlampau tinggi dari batas ambang normalnya.   

Inilah yang saya sebut sebagai 'THE BUBBLE COMPANY'. 

Jumlah perusahaan yang lahir di dunia ini sudah terlampau banyak. 

Jumlah startup yang lahir di dunia ini juga sudah terlampau banyak. 

Padahal, normalnya bumi tidak butuh perusahaan dan startup sebanyak itu. 

Menurut saya, jumlah industri yang wajar untuk bahkan hingga kelak menampung 20 miliar penduduk bumi di masa depan. 

Kita tidak perlu pakai banyak banyak perusahaan. Cukup menggunakan 10.000 perusahaan publik IPO dan 100.000 perusahaan swasta medium enterprise ( ME ) yang tersebar di seluruh dunia. Itu sudah cukup menghandle alam semesta. 

Ngga usah banyak banyak seperti investor batu akik. 

Jadi kondisi THE BUBBLE COMPANY. Memang bisa dibilang memang mirip seperti orang koleksi batu akik dimana semua jari investornya dipenuhi batu akik. 

Sekarang yang terjadi berubah wajah ke the company yang sesungguhnya memang mirip fenomena batu akik. 

Ngapain pakai banyak banyak batu akik. Kalau 1 jari saja sudah cukup ya. 

Saya percaya, sebanyak 80% jumlah perusahaan, startup dan UKM yang ada saat ini bakal mengalami kebangkrutan dan punah. Karena overdosis dan penilaiannya terlalu tinggi. 

Perusahaan yang bertahan adalah perusahaan yang nilainya wajar, nilai sahamnya wajar, penggunaan manfaat produk & jasanya jelas, dan penggunaan manfaat teknologinya jelas bagi masyarakat planet bumi untuk memberikan kehidupan yang lebih baik. 

Perusahaan seharusnya bukan sekedar dijadikan hipotesis pertaruhan judi bagi investor saham.  Jika ini yang terjadi, maka saya percaya, perusahaan jenis model seperti ini bakalan mengalami masalah besar yang berakhir dengan kehancuran, punah, bangkrut, kolaps, karyawannya di PHK semua dan gerbang pintunya tutup permanen selamanya. 

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.