Lompat ke konten Lompat ke footer

Ide saya mengatasi kesemrawutan transportasi Indonesia dengan kembali ke era 80 saat sepeda onthel menjadi raja jalanan ( 2024 )

Transportasi di Indonesia semakin hari semakin memburuk, polusi di mana mana, kemacetan lalu lintas, perawatan infrastruktur mahal yang membengkakkan kas APBN, jembatan jalan layang tinggi yang menguras sumber daya, jalan tol berbayar yang hanya menyebabkan kerusakan biaya pada distribusi logistik menjadi makin mahal, hingga sistem jaringan kereta cepat, kereta metro MRT dan kereta lambat yang tidak efektif karena berbiaya tiket mahal dan tidak berkelanjutkan ditakdirkan untuk ambruk. 

Lalu apa solusi untuk mengatasi masalah ini...? 

Ada yang bilang tambah perbanyak ruas jalan tol lebih banyak lagi.

Ada yang bilang tambah perbanyak jaringan transportasi kereta massal di mana mana untuk mengurai polusi asap dan mereka juga yakin bahwa kereta dapat mengurai kemacetan.

Benarkah demikian..? Mengapa saya tidak sependapat. 

Tahukah anda, biaya pembelian mesin kereta, perawatan jalur rel kereta, maintenance kereta itu mahal banget. Oleh sebab itu, jarang ada perusahaan swasta mau terlibat memilih kereta sebagai bisnis, karena industri tahu bahwa kereta itu tidak efektif. Sehingga swasta lebih memilih transportasi bus, truck, mobil, motor dan kapal laut. 

Oleh sebab itu pula, mengapa kereta hanya didominasi hanya dari kalangan pemerintah saja sebagai operator dan karena bisnis kereta juga ada cawe cawe politikya. Walaupun sebenarnya pejabat mengetahui bahwa kereta itu tidak menguntungkan dari segi bisnis dan hanya membuat kantong APBN jebol untuk perawatan permesinan kereta, namun dari sisi lain ada keuntungan dari segi politiknya.

Lalu untuk jalan tol dan jembatan jalan layang juga tidak efektif. 

Karena biaya pembangunannya yang mahal. Apalagi skema jalan tol dengan tarif masuk hanya membebani perusahaan logistik. Seharusnya jalan tol tidak pernah ada dan semua jalan raya seharusnya gratis tanpa dipungut biaya masuk. 

Membangun jalan tol membutuhkan anggaran biaya APBN yang besar. Untuk mendanai hal ini, kebanyakan pemerintah di berbagai negara, termasuk di Indonesia menerapkan tarif pajak progresif yang tinggi di kebun binatang untuk individu tertentu hingga tax antara 35% - 40% ke atas. 

Menurut saya kebijakan itu keliru.

Karena yang terjadi hanyalah pembodohan, pengakalan dan pemborosan yang tidak bermanfaat dan membebani isi dompet Hotman paris hutapea selaku pembayar pajak progresif. Kecuali akses masuk jalan tol digunakan gratis untuk mobil lamborghini nya. Barulah beliau setuju & senang hati membayar pajak ke pemerintah. He he..., 

Foto : Hotman dan kekasih bayangan

Ide saya mengatasi kesemrawutan transportasi Indonesia dengan kembali ke era 80 saat sepeda onthel menjadi raja jalanan ( 2024 )

Kesadaran masyarakat mengarahkan hidup sehat berdasarkan lingkungan hidup harus menjadi perhatian utama untuk memikirkan bagaimana menyusun strategi transportasi ideal ramah alam dan tanpa menguras APBN. 

Pada tahun era 80. 

Mayoritas orang orang di Indonesia menggunakan sepeda untuk aktivitas seperti ke sawah, ke kebun, ke sekolah, ke pasar, ke toko dan lain lainnya. 

Hidup tampak normal hanya dengan bekal ruas jalan raya biasa saja. 

Umat manusia sebenarnya tidak butuh inovasi yang aneh aneh dan berlebihan lagi. 

Contoh seperti pembangunan kereta terintegrasi itu boros APBN, membangun jalan layang infrastrukturnya mahal, kereta bawah tanah juga tidak efesien dan jalan tol sesungguhnya tidak berguna karena hanya nambah biaya tarif.

Sejak dimulainya ide subsidi BBM & gencar maraknya penjualan motor dan mobil.

Jalan yang dulunya ramah untuk sepeda menjadi tempat berbahaya. 

Karena dimulainya kebijakan subsidi BBM yang bodoh hampir 3 dekade yang lalu. 

Waktu itu saya ingat harga BBM diberikan insentif oleh pemerintah yang menyebabkan harga 1 liter bensin menjadi murah banget. Sontak saja, itu langsung membuat berbondong bondong orang orang zaman dulu beralih dari sepeda onthel menjadi motor Jepang.  

Geber geber motor menjadi hal lazim.

Dan penggunaan sepeda ontel di anggap menjadi status memalukan dan miskin. 

Jalan raya kini makin penuh dengan motor Jepang dan mobil Jepang. 

Oh ya, pada era tahun 80 - 90 yang lalu. Saya juga ingat bahwa orang yang punya mobil dan punya pekerjaan di bidang travel antar kota dianggap orang kaya berkelas pada masanya lho dan juga dianggap pekerjaan bergensi. Pekerjaan sebagai sopir pada masa itu adalah lelaki idaman yang dicari para cewek cantik. He he..., 

$##%^& @$%#^ 78584 534653 $#######@%^

Pada tahun 2024. Transportasi di Indonesia mengalami banyak permasalahan. 

Ide saya yaitu mengembalikan kejayaan sepeda onthel di zaman dulu. Agar orang orang berhenti geber geber motor & mobil untuk beralih kembali ke penggunaan sepeda, sekaligus bersepeda sambil berolahraga yang sehat. 

Orang orang Indonesia zaman dulu bukanlah pejalan kaki, tapi pecinta sepeda onthel sambil menikmati pemandangan alam pepohonan di samping kiri dan kanan dan ada tepi aliran air yang indah dan sejuk. 

Pada era tahun 80 - 90. Bersepeda hingga jarak 10 km - 20 km setiap hari tidak terasa cape karena suhu sejuk banyaknya pepohonan. Udara segar tanpa banyak asap polusi. 

Saya rindu mengembalikan nuansa seperti dulu lagi. 

Yuk mari kita kembali ke era zaman prasejarah tahun 80. 

Di mana mana semua jalan raya di sepanjang pinggiran di penuhi oleh pohon buah buahan, pohon hijau dan pepohonan rindang yang membuat cuaca menjadi sejuk. 

Orang orang banyak naik sepeda untuk aktivitas sehari hari berpergian ke mana mana. Antara durasi waktu 15 menit - 1 jam. Tidak ada orang mengeluh cape karena alam semesta lingkungan mendukung.

Sekarang pohon rindang banyak di tebang dan pohon pisang di pukul oleh manusia.

Cuaca jadi panas.

Untuk moda transportasi massal. Ide saya cukup gunakan bus. Toh jarang jarang juga seseorang berpergian hingga jarak 100 km - 200 km. Gunakan bus bukan kereta. Karena bus adalah transportasi paling murah sedunia untuk jarak jauh dan menengah.

Sedangkan pesawat terbang merupakan moda transportasi jarak jauh yang ideal untuk perjalanan ribuan km.  

Lalu saya juga menyarankan agar penggunaan mobil otonom tanpa sopir di perkotaan terus ditingkatkan dalam layanan perusahaan car ridesharing. Sehingga ini dapat menyebabkan kepemilikan mobil perindividu yang membuat macet jalan raya menjadi berkurang. Orang kini tinggal pesan saja melalui aplikasi jika hendak menggunakan mobil untuk mengajak keluarga besar pergi ke kondangan atau acara lainnya di wilayah dalam perkotaan atau mobil otonom digunakan hanya untuk orang usia lanjut yang sudah tak dapat lagi bersepeda.  

Nah, praktis, kepemilikan mobil pasti berkurang dengan adanya kebijakan ride sharing autonom. 

Ide saya yaitu mengurangi jumlah mobil pribadi sebanyak mungkin, diganti dengan mobil ridesharing autonom. Dan menjadikan seluruh sisi tepi jalanan serba hijau penuh pohon dan air bersih. 

Kemudian pemerintah dapat menata ulang jalan raya agar ramah tempat jalur sepeda. 

Karena semua orang pasti setuju, bahwa sepeda onthel adalah moda transportasi paling murah, efisien dan andal untuk menjelajahi 1 kota dengan mudahnya. Pastinya 0% zero emisi. 

Pemerintah tidak perlu bangunan jalan tol yang mahal itu. Tidak perlu juga bangun jalan jembatan layang yang hanya memboroskan APBN. Gunakan jalan biasa saja yang muat untuk kenyamaan lalu lintas pihak lainnya seperti motor, mobil listrik, bus listrik & truck. Tetapi ada jalur sepedanya. 

Untuk penggunaan lahan tanah, bangunan dan gedung. 

Pemerintah harus pro aktif melarang gedung bertingkat tinggi hingga lebih dari 3 lantai - 100 lantai untuk jangan saling berdempet dempetan dengan gedung lainnya karena terbukti menyebabkan konsentrasi kemacetan lalu lintas di suatu kawasan dan kepadatan populasi manusia. 

Ide nya yaitu hanya memperbolehkan bangunan memiliki maksimal 3 lantai saja. 

Lebih dari itu, pemerintah dapat mencabut, melarang atau merobohkan seluruh pembangunan liar gedung bertingkat yang tinggi karena ini adalah salah satu biang kerok kemacetan dan kepadatan umat.

Padahal di wilayah lainnya masih terdapat banyak area ruang longgar kok.

Gedung yang baik adalah yang terdesentralisasi. 

Bukan di tumpuk tumpuk di suatu kawasan yang saling berdekatan. 

Sayangnya, ide saya ini sepertinya agak sulit di lakukan oleh manusia pasukan elit zaman now. 

Bukan karena bahaya lalu lintas sih, tapi karena malas berolahraga mengayu sepeda. Oleh sebab itu, bagi mereka subsidi BBM itu lebih penting ditukar dengan kesehatan jantung.

Lanjutkan....

Lanjutkan....

Lanjutkan geber geber knalpot motor & mobilnya ya. 

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.