Lompat ke konten Lompat ke footer

Mengapa tokenized Stocks dan NFT fraksionalisasi gagal menjadi arus utama dan apa selanjutnya untuk teknologi perbankan CDBC ( 2024 )

Sekitar 4 tahun yang lalu, saya menulis sebuah artikel tentang koneksi blockchain dan peradapan manusia dalam masa depan terhadap penggunaan teknologi peer to peer. 

Ternyata setelah mengamati perkembangannya hingga 4 tahun telah berlalu menyatakan bahwa ada kesalahan dan cacat di temukan pada apa yang pernah saya kemukakan. 

Pemahaman saya ternyata ada yang keliru ( salah ). Termasuk pada pemahaman tentang cryptocurrency digunakan pada layer ke 2 saja di jaringan internet, namun ternyata pada beberapa kasus bisa pada layer 1 & layer 2. Namun tergantung jenis koinnya ya. 

Tentang tokenized stock dan NFT fraksionalisasi yang saya duga jadi arus utama. Itu saya salah total.

Penyebabnya karena saya tidak memasukkan parameter 'pemerintah'. Yaitu tidak memasukkan indikator UU ( undang undang ), hukum, pajak dan kebijakan aturan oleh para pejabat politik. 

Dari hari ke hari, saya mulai menyadari bahwa politik dapat pula memegang kendali dan mengubah aturan yang berlaku. Sehingga menyebakan artikel yang pernah saya tulis waktu itu adalah salah. 

Dulu, kira kira bertahun tahun yang lalu ketika saya masih duduk di bangku kuliah. Saya dan teman teman kelompok pernah diberi tugas oleh dosen untuk membuat makalah tentang sistem komputer IT/SI di perbankan di kota Palangkaraya. 

Oh ya, disclaimer dulu ya, mungkin banyak orang mengira bahwa Bank adalah perusahaan keuangan. 

Tapi tahukah anda. 

Sebenarnya Bank bukan hanya sekedar perusahaan keuangan lho. Melainkan perusahaan teknologi. 

Karena lihat saja, mereka punya server komputer, tim cyber security, tim networking komputer bahkan hampir seluruh perangkat bersistemkan perangkat lunak. Bukan pakai tumpukan kertas. 

Jadi sesungguhnya Bank adalah perusahaan teknologi yang menyamar menjadi perusahaan keuangan.

He he..., 

Kalau anda datang ke kantor utama bank. Di depannya, anda tentu hanya melihat satpam yang murah senyum, teller yang baik hati dan CS ( customer services ) yang siap membantu anda jika lupa password. 

Cobalah sekali kali yuk masuk menyelinap ke ruangan belakang yang dipintu ada tertulis 'selain karyawan dilarang masuk'. 

Disana anda dapat melihat ada tim teller bank tapi mereka kali ini pakai topeng hacker anonymous dan jago komputer. Kerjaan mereka di balik layar yaitu mencetak uang rupiah sebanyak banyaknya dengan menekan tombol Ctrl+C ( copy ) dan Ctrl+V ( paste )

Pengalaman diatas yang menjadikan mengapa saya tertarik dengan teknologi perbankan. 

Oh ya, pada intinya tokenized stock dan nft fraksionalisasi yang pernah saya ungkapkan itu keliru.

Karena ada penghalang yaitu 'pemerintah' sebagai aktor penyebab kegagalan. Sehingga jaringan perbankan terutama yang menerima pembayaran dalam bentuk crypto dan yang sekaligus menemani uang fiat dan industri stocks yang sudah ada saat ini tidak berubah, tetap masih sama seperti dulu. Hanya saja tulang punggungnya atau backbone menggunakan jaringan ethereum atau ripple.com guna mempercepat transaksi lebih cepat dari sebelumnya dan lebih efesien.  

Kabar baiknya, buat teman teman yang sudah hold Ethereum. 

Ini tentu saja jadi berkat dan cuan cuan cuan, karena grafik nilai Ethereum meningkat. 

Sedangkan yang memegang tokenized stocks dan NFT bakal menangis karena nilainya anjlok. Alias turun tajam. He he..., 

Buat teman teman yang menangis investasi di NFT. Jangan bersedih ya, coba potret diri, lalu jadikan wajah meme sedih seperti ghozali Everday. Siapa tahu kelak ada orang yang beli 1 milyar. 

Lalu bagaimana dengan teknologi perbankan CDBC. Untuk saat ini saya masih mengamati apa yang terjadi karena politik sulit sekali saya prediksi, tentu saja CDBC tidak dapat diadopsi sepenuhnya menggunakan blockchain, karena itu secara teknologi berbeda. 

Tetapi penggunaan TETHER dan USDC malah meluas. 

Seperti yang diketahui, TEHTER & USDC adalah blockchain stabecoin algoritmik

Sedangkan CDBC bukan blockchain seperti BTC. Tapi dibelakang sistem layarnya sesungguhnya CDBC bisa pake ERC20 yang notabene adalah blockchain smart contract. 

Namun masih belum jelas arahnya kemana, ini tergantung keputusan pemerintah masing masing. Misalnya di Amerika Serikat Bank Sentral mengeluarkan FEDCOIN yang masih bersifat hipotetis mempercepat transaksi antar bank hingga ke antar benua. 

Sekarang, walaupun pemerintah berhasil menggagalkan tokenized stock dan NFT fraksionalisasi. 

Apakah kali ini, CDBC bakal gagal atau sukses. Dan TETHER & USDC menjadi pemenang. 

Secara pribadi, saya akui untuk masalah ini sulit dijawab pertanyaannya. 

Karena ada input politik harus dimasukkan ke dalam indikator tersebut.

Lagian tidak mungkin bahkan mustahil mengabungkan teknologi CDBC dengan teknologi USDC. Itu pasti bentrok. 

Jadi sekali lagi, semua tergantung kebijakan pemerintah masing masing negara. Jika pemerintah menolak penggunaan TETHER & USDC maka pasti pejabat mengenakan denda, banned, pajak dengan tarif mahal dan hukuman. Maka itu dapat terjadi menggagalkannya sehingga CDBC sukses menjadi juara. Tetapi disisi lain merugikan investor kripto. 

Sekali lagi, semua harus dilihat dari sisi aspek politik. 

Pada tahun 2024. Ada sebanyak 22.000 jenis mata uang digital cryptoccurency dan token yang tersedia dan aktif di planet bumi ini, namun saya belum dapat melihat kejelasan peraturan regulasi teknologinya karena orang orang pejabat politik menjadi penghalang yang sulit ditebak. Tiap negara bisa saja beda kebijakan politiknya. 

Masalahnya, saya tidak ahli jika menyangkut cawe cawe politik.

Karena politik itu rumit & membingungkan saya. 

Jadi sulit banget untuk di tebak. Kecuali saya harus belajar dulu dengan bapak Rocky Gerung yang ahli mengetahui isi hati para orang orang intelektual pejabat politik. 

Youtube : Tampilan pembayaran crypto layer 1 dengan TETHER & USDC

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.