Pemimpin tolol, rakyatnya juga tolol, negara runtuh bukan diserang asing. Tapi dimakan rayap kebodohan dari dalam ( 2026 )
Tadi saya coba jalan jalan ke Youtube.
Tiba tiba nemu channel 'ILMU LIDI'.
Pembahasan sih bagus. Walaupun Afrid Fransisco agak kurang setuju dengan pendapat Ilmu Lidi karena condong lebih mementingkan diri sendiri, memperkeruh keadaan dan membiarkan sistem negara hancur sehancur hancurnya oleh pemerintahan kleptokrasi tanpa solusi untuk memperbaiki sistem tersebut. Poin lainnya yaitu lebih ke naluri acuh tak acuh, ingin sukses sendiri dan mengabaikan demi menyelamatkan diri sendiri tanpa memperhatikan nasib orang lain dalam arti secara luas.
Bagusnya judul diberi nama : PEMIMPIN TOLOL, RAKYAT NYA JUGA TOLOL. NEGARA RUNTUH BUKAN DISERANG ASING. TAPI DIMAKAN RAYAP KEBODOHAN DARI DALAM
******************************************************************
Pernah nonton film idiokrasi..? Itu lho. Komedi satir di mana orang pintar punah gara gara kebanyakan overthinking. Sementara dunia akhirnya dipimpin sama orang orang tolol yang cuma modal nafsu dan hobi beranak.
Kabar buruknya bro, itu bukan film lagi. Itu dokumenter masa depan Indonesia.
Lupain mimpi manis Indonesia emas 2045. Kita lagi ngebut ugal ugalan menuju Indonesia cemas 2045.
Coba lu buka mata. Lihat sekeliling teman teman lu yang mapa, logis dan pintar.
Rata rata nunda punya anak atau malah childfree demi jaga kualitas hidup.
Tapi disisi lain, orang orang yang buat makan besok aja bingung. Malah gaspol produksi anak tanpa rem.
Alasannya klasik, banyak anak banyak rezeki. Ini bukan lagi soal hak asasi. Ini matematika bencana.
Kalau populasi orang pintar makin dikit, sementara pabrik kebodohan jalan terus, negara ini bakan runtuh bukan karena diserang asing. Tapi karena dimakan rayap kebodohan dari dalam.
TANDA # 4 : DEMOKRASI SAMPAH
Suara profesor kalah harga sama tukang jual suara demi bansos.
Demokrasi itu aslinya cuma game matematika brutal bro.
Kualitas pemimpin negara ini enggak ditentukan seberapa jenius program kerjanya, tapi seberapa banyak kepala yang bisa dia kumpulin.
Fakta paling nyesek yang harus lu telen bulat bulat adalah ini.
Suara 1 profesor fisika yang seumur hidup
Riset buat energi masa depan. Nilainya sama persis di mata kotak suara dengan preman pasar yang nyoblos cuma karena dapat amplop gocap pas serangan fajar. 1 VS 1. Seri.
Ngga peduli seberapa besar pajak yang lu bayar atau seberapa besar kontribusi lu buat negara.
Di bilik suara lu cuma angka satu. Sama kayak mereka yang jual harga diri demi nasi bungkus.
Masalahnya ?
Demografi kita didominasi sama kelompok yang mikirnya makan apa hari ini. Bukan negara mau ke mana 20 tahun lagi.
Akibatnya jelas kan. Politik bukan lagi adu gagasan atau visi misi. Politik jadi ajang lelang bansos.
Siapa yang bisa ngeguyur beras paling banyak. Siapa amplopnya paling tebal, dia otomatis jadi raja.
Politisi cerdas yang nawari reformasi hukum bakal kalah telak sama politisi licik yang nawarin makan siang gratis atau dangdutan.
Kenapa..?
Karena perut lapar. Enggak punya telinga buat dengerin logika.
Mereka ngga butuh visi 2045. Mereka butuh kenyang 2024.
Lu enggak bakal bisa ngubah sistem yang isinya orang orang begini. Buang buang umur doang lu protes di sosmet.
Solusi jalanan buat lu cuma satu, mandiri atau mati. Pastikan hidup lu kebal politik.
Asah skill lu sampai level dewa. Kalau perlu cari duit pakai mata uang asing.
Biar inflasi rupiah karena kebijakan ngawur. Enggak ngefek ke dapur lu.
Pastikan asap dapur lu ngebul bukan karena belas kasihan kebijakan presiden.
Tapi murni karena kompetensi tangan lu sendiri. Jangan pernah gantungi nasib sama subsidi.
Jadilah elit kecil yang enggak tersentuh sama kebodohan birokrasi negara ini.
TANDA #3. PABRIK KRIMINAL
Anak hasil coba coba bakal jadi begal yang bakal mangsa anak cucu lho.
Ini bagian paling gelap yang pemerintah takut omongin secara terbuka.
Kita sering dicekokin istilah manis bonus demografi. Seolah olah makin banyak anak muda itu otomatis negara makin kaya.
Omong kosong.
Yang kita lihat di lapangan hari ini bukan bonus tapi bencana demografi.
Bayangi ada banyak jutaan anak lahir dari keluarga yang buat makan besok aja bingung.
Apalagi buat ngasih gizi ke mental anaknya. Ini bukan salah bayinya, tapi ini hasil produksi rumah tangga yang asal bikin tanpa mikir after sales servicenya.
Lahir karena kecelakaan, gede karena kebetulan.
Akibatnya anak anak ini tumbuh liar tanpa panduan moral. Di rumah mereka ditelantarkan karena orang tuanya sibuk cari receh. Di sekolah cuma formalitas titip absen. Akhirnya mereka dididik sama hukum rimba jalanan.
Mereka gede bukan jadi inovator atau insiyur.
Tapi jadi pasukan ormas pembuat onar, preman parkir yang maksa atau yang paling sadis. Komplotan begal yang siap bacok orang. Cuma buat rampas HP butut. Sadar gak loh.
Kita sebagai bangsa lagi sibuk membesarkan predator yang 10 sampai 20 tahun lagi bakal ngenarget anak anak lu, anak lu yang lu didik susah payah, lu kasih les mahal, lu kasih gizi premium.
Suatu saat bisa jadi korban kebrutalan anak hasil coba coba yang enggak punya rasa takut dan enggak punya masa depan ini. Terus lu mau ngapai. Ceramahin orang tuanya.
Telat bro.
Solusi buat lu cuma satu. Benteng privasi.
Mulai detik ini lu seleksi lingkungan tempat tinggal lu sekejam mungkin.
Mahal dikit enggak apa apa buat sewa atau beli rumah di lingkungan yang civilized yang tetangganya masih punya akal sehat dan adab.
Kalau lu masih terjebak di lingkungan toksik atau kumuh. Yang isinya bocah bocah liar kematian.
Prioritas hidup lu sekarang cuman satu. Cabut dari sana, bangun tembok tinggi.
Lindungi otak dan fisik keluarga lu dari kontaminasi zombie sosial ini.
Jangan taruhan nyawa cuma demi hemat duit kontrakan.
TANDA #2 BOM WAKTU GENETIK
BPJS bakal collaps karena ngurusin ledakan populasi stunting mental.
Lu bangun pagi, pulang malam, tulang punggung mau patah. Taat bayar pajak sama iuran BPJS tiap bulan. Tapi lu pernah mikir enggak duit keringat lu itu larinya kemana...?
Sorry to say
duit lu itu bukan ditabung buat lu sakit nanti. Duit lu dipakai buat nambal kebocoran akibat jutaan orang
yang hobi bikin anak tapi enggak ngerti cara ngasih makan.
Kita lagi duduk diatas bom waktu genetik bro.
Fakta lapangan enggak bisa bohong. Jutaan anak lahir dengan kondisi stunting.
Bukan cuma fisik yang kerdil, tapi kapasitas otaknya kesunat gara gara orang tuanya lebih milih mentingin rokok daripada susu ibu hamil. Dampaknya sistem kesehatan kita bakal collaps.
Rumah sakit pemerintah antriannya bakal kayak audisi idol.
Tapi isinya pasien penyakit kronis yang harusnya bisa dicegah.
Sekolah negeri bakal kewalahan ngadapin murid yang logiknya gak nyampai karena kurang gizi sejak dini. Ujung ujungnya kelas pekerja waras kayak lu yang dipaksa gotong royong biayain beban kesalahan orang lain ini.
Jadi stop berharap negara bakal nyelametin lu pas tua nanti.
Solusi satu satunya buat lu yang masih punya akal. swastanisasi diri sendiri.
Anggap BPJS itu cuma bonus receh, bukan tumpuan hidup. Mulai hari ini paksa diri lu buat punya asuransi swasta murni dan dana darurat kesehatan yang tebal.
Jangan pertaruhin nyawa lu di antrian rumah sakit yang sistemnya udah megap megap.
Kalau soal pendidikan anak, siapin dana buat sekolah swasta atau homeschooling yang benar.
Bikin negara kecil lu sendiri yang fasilitasnya premium.
Biarin sistem di luar sana runtuh, keberatan muatan asal benteng finansial lu tetap kokoh berdiri.
TANDA #1. KEPUNAHAN ORANG PINTAR.
Saat kaum logis pilih childfree dan masa depannya cuma kuli.
Ini puncak komedi tragis bangsa kita.
Coba lu perhatiin sircle lu yang pintar, mapan dan logis. rata rata mereka pilih nunda punya anak atau malah childfree total. Alasannya dunia makin jahat, biaya pendidikan gila atau ngga mau mewariskan penderitaan.
Masuk akal. Gue validasi ketakutan lu itu.
Emang benar dunia lagi kacau.
Tapi masalahnya saat kaum berotak kayak lu sibuk overthingking dan berhenti reproduksi. Kaum modal nekat di luar sana justru gaspol beranak pinak tanpa filter.
Mereka enggak mikir biaya kuliah atau gizi. Yang penting bikin dulu rezeki nyusul.
Efeknya apa buat 2045.
Matematikanya simpel tapi ngeri.
Kita lagi jalan menuju kepunahan intelektual bro.
Generasi penerus nanti bakal defisit IQ parah.
Pasar kerja masa depan bukan diisi sama inovator, scientist atau problem solver.
Tapi bakal dibanjiri sama kuli kasar dan buruh murah. Hasil produksi massal tanpa quality control.
Negara kita enggak krisis jumlah manusia. Kita krisis jumlah otak.
Tapi stock otaknya makin menipis karena pabriknya yaitu orang orang pintar kayak lu milih buat tutup usia tanpa pewaris.
Lu bayangin siapa yang bakal ngelihatin kebijakan atau teknologi nanti kalau gen cerdasnya punah.
Nah, kalau lu emang kekeh milih childfree atau cuma mau punya anak dikit. Dengerin gue baik baik.
Lu punya hutang moral sama peradapan. Solusinya cuma satu. Jadilah mentor.
Kalau lu enggak mau ninggalin jejak biologis, lu wajib ninggalin jejak intelektual.
Cari anak muda potensial di kantor atau di komunitas lu.
Bocah yang matanya masih nyala dan otaknya masih bisa dibentuk.
Adopsi mereka secara mental. Transfer semua logika, critical thinking dan mindset elit lu ke kepala mereka.
Jangan egois bahwa ilmu lu keliang kubur. Kalau gen lu berhenti di lu, pastikan warisan otak lu tetap hidup di orang lain.
Jangan biarkan populasi orang waras punah total di makan zaman. Cuma gara gara lu malas ngader penerus.
Jadi stop halusinasi soal Indonesia emas yang serba canggih. Realitanya nanti jalanan penuh begal, rumah sakit collaps dan pemimpin negara dipilih cuma karena jogetnya paling asik, bukan karena visinya.
Gue ngga ngajak lu benci orang miskin, tapi lu harus sadar posisi.
Kapal ini bocor parah bro.
Dan nambalnya enggak bisa cuma pakai doa atau slogan pemerintah.
Tugas gue sama lu sekarang cuma satu. Pertebal dompet, pertinggi tembok rumah dan pertajam otak.
Biarkan kaum asal coblos itu beranak pinak tanpa logika. Tapi pastikan kita yang pegang kendali nasib.
Jangan sampai anak cucu kita jadi budak di negeri yang dipimpin kaum idiokrasi.
Selamatkan akal sehat sebelum punah.
Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.