Tantangan fisika & teknik senjata laser Iron Beam Israel berkekuatan jarak tembak 200 km hingga mencapai luar angkasa untuk menghancurkan satelit dan rudal balistik musuh tanpa perlu menggunakan perisai rudal Arrow yang mahal ( 2026 )
Menjelang perilisan IPO di tahun 2026 sebagai persiapan menjual 49% saham ke publik internasional dan 51% saham tetap dikuasai mutlak selamanya oleh pemerintah Israel.
Perusahaan BUMN asal Israel Rafael Advanced Defense System melalui CEO Yoav Tourgeman sempat mengatakan kepada wartawan guna memasuki era baru menginginkan peningkatan teknologi luar angkasa, elektro optik dan perluasaan jangkauan Iron Beam.
Meskipun beliau tidak menyebut secara detail dan spesifik pengembangan perpanjangan berapa jangkaun tembak Iron Beam di generasi selanjutnya.
Termasuk juga pengembangan Iron Beam untuk versi kapal perang angkatan laut.
Tentang Iron Beam ( Cahaya cepat, Biaya hemat, Musuh hancur )
Iron Beam adalah senjata laser berkecepatan cahaya. Tidak ada yang lolos dari kecepatannya.
Meskipun sinar laser merambat cepat mengenai target sasaran dengan kecepatan cahaya tetapi masih memiliki kelemahan yaitu laser butuh waktu beberapa detik ( Dwell Time ) untuk memanggang musuh.
Dalam pengujian, Iron Beam butuh waktu 5 detik untuk menusuk, memotong & membakar drone, roket & rudal musuh. Tusukan laser Iron beam merusak organ vital di dalam mesin musuh & hulu ledak.
Jangkauan tembak Iron Beam saat ini mampu mencapai radius 10 kilometer. Dengan biaya per tembak $ 2 ( setara Rp 30.300 ribu ). Tetapi jika cuaca sedang hujan. Biaya per tembak membengkak menjadi $ 5 ( setara Rp 85.000 ribu ).
Keunggulan Iron Beam tidak perlu produksi & reload amunisi apapun.
Selama pasokan di pembangkit listrik PLN melimpah. Persediaan tembakan cahaya Iron Beam tidak akan habis selama pemerintah Israel masih aktif membayar atau mengisi token listrik.
Tantangan fisika & teknik senjata laser Iron Beam Israel berkekuatan jarak tembak 200 km
200 kilometer sudah menjadi jarak ideal untuk menghancurkan target musuh yang berada di luar angkasa. Meliputi satelit, rudal balistik dan pesawat pembom yang biasanya terbang tinggi di atas langit.
Seperti pembahasan diatas. Iron Beam unggul karena biaya per tembak murah.
Bandingkan dengan interceptor seperti perisai Iron Dome ( harga per unit $ 35.000 setara Rp 600 juta rupiah ) dan perisai rudal Arrow generasi ke 3 ( harga per unit $ 4 miliar atau Rp 67 miliar rupiah ).
Pada tahun 2026. Iron Beam tidak dapat menembak satelit, rudal balistik dan pesawat pembom. Karena jarak jangkauannya cuma 10 km saja.
Berikut tantangan apabila Iron Beam diperluas jangkauannya hingga 200 km.
1]. Ukuran kerangka body dan bobot diperbesar 20x kali.
Iron Beam saat ini beroperasi di level kekuatan listrik 100 kW. Untuk menghancurkan target di jarak sejauh 200 km. Artinya ukuran harus diperbesar hingga 20 kali lebih besar dan butuh kekuatan listrik yang ditingkatkan. Artinya tidak bicara lagi tentang Kw. Tapi ke skala MW ( Megawatt ).
Sedangkan harga keseluruhan sistem Iron Beam belum dipublikasikan ke publik.
Perkiraan per unit sekitar Rp 850 miliar rupiah. Jika daya tembak diperpanjang hingga 200 km. Artinya pemerintah Israel mesti merogok koceh Rp 16 triliun per unit.
Israel butuh 2 unit senjata laser Iron Beam berkekuatan tembak 200 km demi mematahkan serangan rudal balistik musuh. Artinya total biaya pembuatan hingga Rp 34 triliun. Instalansi bisa dipasang di wilayah selatan dan utara.
2]. Gimbal dan Point Track
Menembakkan laser hingga jarak 200 km. Setiap getaran satu mikroradian ( sepersejuta radian ) membuat getaran ( jitter ) pada perangkat sehingga bisa bikin tembakan meleset beberapa meter dan buang buang listrik. Semakin jauh jarak tembakannya maka harus membutuhkan gimbal dan point track yang lebih kuat melampaui teknologi mekanik Iron Beam yang cuma berjarak tembak 10 km.
3]. Kamera elektro optik yang lebih kuat
Sejauh ini, Israel belum memiliki teleksop kamera yang mampu melihat hingga sejauh 200 km. Kecuali 120 km. Iron Beam diperluas, maka kamera juga harus diperbesar.
Untuk hasil operasional yang lebih baik. Iron Beam membutuhkan kombinasi kamera elektro optik dan radar Green Pine yang saling melengkapi.
4]. Tantangan udara atmosfer
Udara atmosfer bisa berisi uap air, debu, radiasi elektromagnetik dan gas yang bisa menghambat, memantulkan, menghamburkan foton laser. Dalam bahasa fisika disebut Scattering. Hambatan ini guna mencapai jarak tembak 200 km maka membutuhkan banyak pasokan tenaga energi listrik yang lebih banyak guna membantu membakar aneka macam penghalang di atmosfer pada saat diperjalanan agar laser sampai ke tujuan target sasaran.
5]. Thermal booming, difraksi dan rayleigh
Masih menyangkut pada poin #4. Saat laser berkekuatan MW harus menempuh perjalanan sejauh 200 km. ( Tidak seperti laser yang cuma berjarak 10 km, karena penghalangnya pendek ). Udara atmosfer turut dibakar. Nah aktivitas pembakaran ini menjadikan daya kekuatan laser berkurang dan membuyarkan berkas laser menjadi lemah. Oleh sebab itu, membutuhkan teknologi adaptive optics yang fleksibel berubah bentuk ribuan kali per detik untuk mengompensasikan distrosi kelemahan laser saat membakar penghalang di udara ( atmosfer ) secara realtime. Dalam bahasa fisika disebut : Thermal booming, difraksi dan rayleigh scattering.
Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.
