Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menanti Kematian Negara Negara Kecil. Apa yang terjadi pada masa depan negara-negara kecil (2018)


Setelah beberapa tahun melakukan analisa. Entah ini ‘benar’ atau ‘salah’. Namun dari hasil perhitungan yg telah saya lakukan, saya menyimpulkan 2 kabar buruk dan kabar baik.

Kabar baik :

Beruntunglah bagi kita yang tinggal di Indonesia. Karena negara tercinta Republik Indonesia memiliki demografi penduduk yg besar dan pertumbuhan ekonomi yg besar.

Kabar buruk :

Negara-negara kecil seperti Papua Nugini, Timor Leste, Eritrea, Brunei Darussalam, Suriname, Namibia, Bahamas, Mongolia, Somalia, dll. Kemungkinan sulit bertahan dimasa masa yg akan datang.

Mengapa, karena demografi penduduknya terlalu kecil & luas wilayahnya terlampau sempit sehingga sulit untuk bertahan apabila bersaing dengan negara besar. Mereka hanya menjadi negara yg terus-terusan mengimpor produk dari bangsa lain.

Bangsa yg terus-menerus melakukan impor, dipastikan tak dapat bertahan di persaingan global di masa depan.

Indonesia telah melakukan pekerjaannya dengan baik. Membalikkan keadaan dari impor ke pengekspor, sistem pemerintahan semakin baik dengan tingkat korupsi yg terus dikurangi, dan berbagai kebijakan pemerintah yg mendukung pertanian, perikanan, industri, peningkatan sumber daya manusia, sumber daya alam, pendidikan, dll sebagainya. Maka berbanggalah tinggal di NKRI Indonesia yg kini telah genap berusia 73 tahun

Nasib negara kecil di masa depan

Untuk negara-negara kecil, pertumbuhan politik, militer & ekonomi kebanyakan berasal dari perdagangan internasional, pariwisata, dan investasi melalui media internet.

Perekonomian negara kecil dapat ditingkatkan hanya melalui inovasi teknologi, tanpa ini negara kecil tersebut bakalan cepat punah atau hancur atau orang-orang yg tinggal dinegara kecil, ekonomi keluarganya begitu memprihatikan.

Rata-rata penghasilan ekonomi PDB negara-negara kecil hanya sebesar sekitar $ 6,3 miliar atau sekitar Rp 91 triliun rupiah beberapa bahkan ada yg dibawah $ 1 miliar dolar atau sekitar hanya $ 14 triliun saja.


Beberapa negara kecil ada yg memperoleh ekonomi tinggi seperti Singapura dan Israel karena inovasi teknologi. Termasuk Kuwait, UEA, Qatar dan Bahrain karena kaya minyak & gas. 

Negara-negara kecil memiliki populasi kecil, pada umumnya penghasilannya pun rendah dan utangnya minim karena peringkat kredit rendah yg menandakan tingkat pelunasan kemungkinan tak terjadi.  (Ini tak terjadi di Israel, Kuwait, UEA, Qatar, Bahrain, dan Singapura).

Umumnya, negara-negara kecil tak memiliki kedaulatan keuangan karena biasanya menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat dan Euro Uni Eropa.


Apabila negara kecil memiliki peringkat kredit buruk. 

Hanya menunggu waktu saja bagi negara kecil tersebut punah dari muka bumi dengan jumlah populasi penduduknya yg terus menurun akibat kelaparan & kematian penduduknya karena tak ada uang di tangan.

Foto : Skor peringkat kredit negara-negara kecil. Belize dan Grenada berada diambang kekwatiran. Sumber data Fitch, Moodys dan Standars Poors.
Nah, Ada cara termudah agar negara kecil dapat bertahan dari persaingan global. Yaitu dengan melakukan Merger dengan bangsa raksasa yg ada disekitarnya.

Contoh :

Hal ini sudah dilakukan oleh bangsa-bangsa kecil di Skandinavia yg bergabung dengan raksasa Uni Eropa.


Atau seperti negara Hongkong, Tibet, dan negara Makau yg bergabung dengan raksasa Tirai bambu, China.


Peta negara Amerika Serikat yg kita pandang saat ini, sebenarnya dulunya merupakan gabungan negara-negara kecil.


Kesimpulan nasib negara kecil di masa depan
Untuk melihat skenario selain kita dapat membaca pembahasan diatas.

Kita dapat melihat perkembangan yg terjadi di negara Somalia.

Ini merupakan contoh negara kecil yg sedang menuju kepunahan.

Somalia.jpg (738×414)

Ekonomi buruk, pemerintahan hanya menguasai setengah wilayah saja, pembunuhan, perampokan, pembajakan laut terus terjadi setiap hari disana. Negara ini ibarat bangsa tanpa pemerintahan.

Karena Sebagian Kawasan Somalia Tak memiliki Pemerintahan & Bank Sentral.

Orang-Orang Somalia Tak Perlu membayar Pajak, Tak Perlu Pemilu Pejabat, Tak Perlu Tentara Seperti TNI atau Polisi, Tak Perlu PNS dan Tak Perlu Mata Uang Lokal. Melainkan menggunakan Dolar, Euro, Bitcoin, dan Mata Uang Cryptocurrency lainnya.

Mereka Bebas Melakukan Apapun, Dengan Prinsip Siapa Kuat dia Menang

Hukum Keadilan Tak Berlaku di sini. Siapa lemah dan miskin, Dia di Tindas. 

Hukum Rimba Berlaku. 

Pemerintahan dan Presiden yg berkuasa dan Paling dihormati di Somalia adalah Uang & Senapan Mesin dan AK47.

Kesimpulannya bahwa negara kecil dimasa depan sulit bertahan hidup apabila tak melakukan inovasi dalam bidang politik, ekonomi, militer dan teknologi.

10 sampai 50 tahun ke depan, kita dapat menjadi saksi sejarah, satu persatu negara kecil merger bersama negara besar. Peta Uni Eropa dimasa depan terus membesar.

Kondisi paling ekstrim negara kecil dapat dicaplok atau diserang oleh negara besar.

Seperti saat ini mulai terjadi dimana China ingin menginvasi Taiwan, Rusia ingin menginvasi negara-negara kecil disekitarnya. Kota Crimea menjadi contoh bagaimana Rusia terus memperbesar diri.

Negara yg tak memperluas wilayahnya, tak meningkatkan perekonomian dan tidak memperbanyak tingkat demografi populasi kelahiran penduduknya bakalan sulit bertahan di masa depan.

Artikel Lainnya :

Hanya ada 3 pilihan bagi negara kecil.

1. Punah dengan sendirinya, artinya populasi penduduknya mengalami kelaparan ekstrem karena kehabisan uang..

2. Merger/bergabung dengan negara yg lebih besar,

3. atau dihancurkan/dicaplok/diserang wilayahnya oleh negara raksasa.  

Bagaimana negara Indonesia 

Agar Indonesia bisa terus menjadi negara besar. Langkah yg dapat dilakukan kedepannya yaitu dengan membujuk kembali Timor Leste kembali ke pangkuan Indonesia dan membawa wilayah Papua Nugini, Malaysia dan Brunei Darussalam menjadi bagian NKRI.

Langkah berikutnya PR (pekerjaan rumah) bagi pemerintah Indonesia yaitu agar terus berusaha meningkatkan populasi jumlah kelahiran penduduk manusia menjadi lebih besar hingga 500.000.000 juta orang - 1.000.000.000 miliar orang.

Sesembari menekan kemiskinan seminim mungkin, meningkatkan bantuan sosial, meningkatkan ketahanan pangan, mengurangi impor, meningkatkan militer TNI, dan meningkatkan infrastruktur.

Jika Indonesia lengah terhadap isu ini

Maka 260.000.000 juta rakyat Indonesia semakin banyak yg menderita sengsara akibat kemiskinan, stunting, kekurangan gizi, pengangguran, dan kelaparan akibat dihantam oleh negara yg lebih besar seperti Rusia, China, Amerika Serikat, Uni Eropa, Daulah Islamiyyah ISIS, dll

Terima Kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU