Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengapa rudal jarak jauh ICBM tak digunakan lagi pada peperangan modern (2020)


Sekitar tahun 60 an.

Rudal jarak jauh dikembangkan. Selain sebagai pertahanan diri menghadapi ancaman global terhadap negara yang memiliki kebijakan bertentangan.

Rudal digunakan pula untuk menjaga kedaulatan sebuah bangsa dan meningkatkan pengaruh dominasi hegemoni ekonomi, politik dan militer negara tersebut.

Namun saat ini. Ada sebuah perubahan trend pada teknologi rudal akibat tekanan kesulitan globalisasi dan perubahan iklim global warming. Terutama rudal jarak jauh.

Rudal jarak jauh dikenal berbiaya mahal.

1 unit saja dapat menguras banyak APBN. Sehingga jumlah produksi pasokan rudal jarak jauh menjadi terbatas.

Contoh rudal jarak jauh adalah Jericho missile milik Israel hanya diproduksi sebanyak 24 unit saja.

Ada pula rudal hipersonik Avangard, Sarmat dan Yars milik Rusia.

Foto : Rudal Yars
Rudal Avangard diperkirakan hanya sanggup diproduksi oleh pemerintah Rusia kira kira sebanyak kurang dari 5 unit saja.

Avangard terlalu mahal. Bahkan negara kaya sekelas Rusia takkan sanggup memproduksi AVANGARD dalam jumlah besar.

Di Amerika Serikat. Rudal jarak jauh Minuteman merupakan contoh rudal antarbenua dengan daya tembak jelajah hingga mencapai 13.000 km.

Karena biaya operasi rudal Minuteman begitu mahal. Direncanakan segera dipensiunkan oleh militer Amerika Serikat digantikan oleh rudal jelajah Tomahawk berkepala nuklir dan bom nuklir B61 yang dapat ditembakkan melalui integrasi pesawat tempur F-35, F-15, B-2, B-1, dan B-52.

Jadi, apakah rudal jarak jauh ICBM antarbenua tetap dibutuhkan….? 

Korea Utara merupakan contoh negara gagal yang tak mempertimbangkan konsekuensi antara faktor ekonomi dan militer. Terhadap penggunaan dan pengembangan senjata rudal jarak jauh berbasis nuklir.

Korea Utara melalui presiden komunis bernama Kim Jong Un sekaligus dianggap sebagai TUHAN oleh rakyatnya. Tak memperhitungkan dampak dari menciptakan senjata rudal berbasis nuklir seperti Nodong.


Sekilas, memiliki rudal jarak jauh yang dapat menjangkau separuh dunia. Terlihat keren.

Tetapi sesungguhnya biaya penciptaan, pengembangan dan perawatan rudal jarak jauh milik Korea Utara dapat menyebabkan ketidakseimbangan anggaran keuangan negara tersebut.

Apalagi Korea Utara bukanlah negara kaya.

Inilah yang dapat kita sebut. ‘Senjata makan Tuannya”.


Kemiskinan bakalan melanda negara tersebut oleh kesalahan program tuannya sendiri.

Ditambah terhadap embargo ekonomi oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan. 

Itu tentu bakalan menyiksa perekonomian negeri komunis tersebut semakin tambah suram.


Jadi, apakah rudal jarak jauh ICBM antarabenua tetap dibutuhkan.

Tergantung dari masing masing negara menjawab kebutuhan tersebut.

Jika kita membaca data di Amerika Serikat.

Negara pimpinan Donald Trump. Sudah terlihat nampak bahwa pemerintah Amerika Serikat tak mau lagi menggunakan senjata rudal jarak jauh seperti Minuteman karena terlalu mahal.

Ini terlihat ketika Amerika Serikat pada tahun 2019 telah keluar dari perjanjian Intermediate Range Nuclear Forces Treaty.

Kemudian AS mulai memproduksi rudal Tomahawk dan bom nuklir B61 dalam jumlah besar. Dengan jarak tembak hingga 500 km - 1.000 km sudah mencukupi sebagai kebutuhan perang modern. Alih alih menggunakan Minuteman berjarak tembak 13.000 km merupakan pemborosan APBN.

Lalu apakah Amerika Serikat bakalan menggunakan rudal jarak jauh minuteman dikemudian hari.

Jawabnya tentu ngga dan tergantung juga sebagai pembalasan pemungkas apabila diserang terlebih dahulu maka minuteman menjadi andalan.

Rudal jelajah presisi Tomahawk, serangan pesawat drone dan serangan pesawat tempur bomber kini menjadi pilihan aset bagi pemerintah AS karena lebih murah, lebih efektif dan lebih efesien ketimbang menggunakan rudal jarak jauh.

Doktrin strategi Amerika Serikat yaitu dengan mengepung terlebih dahulu negara musuh-musuhnya seperti menempatkan tank, lapangan pesawat udara, menempatkan kapal induk, mendirikan markas infanteri, dan membangun pusat komando militer tepat di depan halaman musuhnya.

Seperti mengepung China, Rusia, Korea Utara dan Iran dari segala arah.

Dipastikan setelah Minuteman pensiun beberapa dekade kedepan.

Amerika Serikat mengandalkan rudal Tomahawk berhulu ledak konvensional atau nuklir dan menjadikan pesawat tempur sebagai aset terdepan untuk melawan musuhnya. 

Youtube : Rudal Tomahawk

Bagaimana dengan Israel, Iran, China dan Rusia apakah rudal jarak jauh dibutuhkan.

Rudal jarak jauh andalah Rusia adalah YARS, SARMAT dan AVANGARD.

Sedangkan Israel memiliki rudal nuklir balistik ICBM Jericho.

China memiliki rudal jarak jauh dongfeng.

Dongfeng.jpg (576×364)

IRAN memiliki rudal jarak jauh Shahab sebagai andalannya.

Keempat negara pemilik rudal jarak jauh (Israel, Iran, Rusia dan China). Dipastikan tetap membutuhkan rudal jarak jauh walaupun berharga mahal. Kebetulan negara-negara ini rata-rata memang kaya. Jadi sepantasnya negara ini memang piawai membangun & menciptakan rudal tanpa membebani ekonominya.


Youtube : Rudal nuklir Yars Rusia

Bagi Rusia dan China. 

Tak mungkin dapat mengepung negara Donald Trump. Karena berada dalam jarak ribuan kilometer dan terpisah oleh lautan luas yang dihuni oleh jajaran benteng raksasa kapal induk dengan seabrek sistem pertahanan national missile defense (NMD) berbasis Aegis dan dilindungi oleh ribuan patroli pesawat tempur US Air Force siang malam.  

Jadi satu satunya cara bagi Rusia dan China menembus pertahanan AS hanyalah dengan mengandalkan rudal jarak jauh berhulu ledak nuklir. Sehingga rudal jarak jauh masih dibutuhkan sebagai tembakan pemungkas bagi China dan Rusia.

DF-31-3.jpg (579×335)
Foto : Dongfeng China
Bagi Rusia itu sudah tak mungkin dapat menembus benteng lautan AS. Jika mengandalkan senjata konvensional.  

Kecuali China. Lawan tangguh Amerika Serikat di masa depan saat ini memang sedang gencar membangun 10 unit kapal induk untuk menandingi Amerika Serikat.

Lalu bagaimana dengan India dan Pakistan. Kedua negara tersebut juga memiliki program rudal jarak jauh. Namun negara ini hanya sanggup memproduksi secara massal rudal jarak tahap menengah dengan rentangan antara 2.500 km saja.  Walaupun India diketahui piawai membangun rudal kendali hingga jarak jangkau 6.000 km. Tapi itu takkan mungkin dapat diproduksi dalam jumlah massal karena harga terlalu mahal.


rudal+iran+tercanggih+2016.jpg (634×423)

Begitu pula dengan Iran.

Walaupun piawai menciptakan rudal jarak jauh untuk mengancam Israel.

Namun pasukan garda revolusi IRAN terlihat lebih suka mengandalkan RPG dan rudal kornet untuk melawan Israel dengan mengepung negeri Zionist Yahudi dari Suriah dan Lebanon. Alih alih menggunakan rudal jarak jauh yang terlalu mahal.

Istilah artikel ini disebut juga sebagai batas teknologi, batas problem keuangan dan mengacu ke hukum fisika. Energi tak dapat diciptakan maupun tak dapat dimusnahkan.

Sehingga perang modern di masa depan hanya mencakup rudal jarak dekat dan menengah di rentangan antara 1 km - 2.500 km saja. 

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU