Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Diary Desember 2022

Saya kembali menulis tentang diary hasil bulan Desember 2022.

Tulisan ini saya tulis sebagai pedoman bagi saya untuk mencari kelemahan dan kelebihan setiap strategi untuk menjadi lebih baik lagi.

Siapa tahu bermanfaat bagi pembaca ya. 

Terus berusaha belajar mengatasi kecanduan media sosial Youtube 

Tak terasa tahun 2022 telah berlalu, memasuki masa baru di penantian 2023. Semua memiliki cerita tersendiri bagi saya yang layak untuk dikenang. he he..., 

Tahun 2022 ada pengalaman suka dan ada juga dukanya. Banyak pembelajaran pada tahun kemaren yang berarti walaupun sekedar hal hal kecil. 

Dulu, sempat pernah bikin resolusi yang sudah saya bangun tahun lalu. Namun beberapa belum berhasil untuk dilaksanakan yaitu melepas ketergantungan dari kecanduaan akut terhadap penggunaan internet. 

Setidaknya dibandingkan tahun lalu, udah cukup berkurang ya. 

Harapan aku agar jam tayang di internet dapat lebih terkontrol, terkendali dan dikurangi sehingga sesuai dengan batas yang wajar. Yaitu tak kelebihan dan tak juga kekurangan. 

Ada beberapa strategi yang aku pikir cukup berhasil dikit yaitu dengan membatasi ukuran gigabyte per hari dari tak terbatas menjadi diubah pengaturan ke setting 1 GB per hari. Artinya jika sudah melebihi batas 1 GB per hari, maka internet mati secara otomatis. Itu adalah kesempatan buat aku untuk berhenti dan melanjutkannya pada hari esok. 

Cara kedua yang efektif yaitu dengan mengeliminasi apa saja yang aku anggap kurang penting dan tak layak. Walaupun kadang kadang bisa tak terkontrol juga. 

Oh ya, saya bukan pengguna media sosial seperti Instagram, Twitter dan Tiktok. Sehingga ngga punya masalah kecanduaan di website ini. 

Di Tiktok itu banyak orang orang, cewek cewek atau cowok cowok goyang goyang hiburan gitu ya. 

Saya seorang introvert memang kurang tertarik dengan aplikasi Tiktok.

Begitu juga dengan Instagram. Ada banyak foto & video orang orang dari artis terkenal ya. Itu juga kurang menarik minat saya. Pikirku ngapain lihat status artis, saat mereka lagi jalan, saat mereka lagi ke pantai, ngelihat foto mereka, dll. 

Nah, kalau Facebook sih iya. Saya masih kecanduaan di FB karena suka lihat update status .

Paling banyak waktu aku di internet ada di Youtube. Karena di Youtube saya menyukai menonton video musik & menonton orang orang cover lagu gitu.

Di Youtube ada banyak banget video berita, video vlog, video musik dan berbagai macam video yang membahas tentang informasi terkini, menonton video tutorial, video opini dan video review tentang teknologi bertaburan dalam jumlah banyak di Youtube. Sehingga Youtube bikin saya jadi lupa waktu, kebablasan hingga kecanduaan Youtube.

Apalagi saya tipe orang yang memang suka banget dengarin orang orang lagi bernyanyi. 

Di Youtube ada banyak banget video musik ya. 

Oleh sebab itu, kenapa saya sampai kecanduan di Youtube. 

Apalagi rekomendasi AI dan algoritma di Youtube terus memaksa saya tak henti hentinya menonton lebih banyak video musik. Membuat saya sampai betah berjam jam di Youtube. 

Jadi sampai sekarang, saya belum tahu cara melepas kecanduaan dari Youtube. 

Langkah efektif yang dapat aku lakukan saat ini cuma membatasi jumlah Gigabyte. 

Sisanya aku belum tahu...., 

Karena aku menonton Youtube menggunakan laptop. Biasanya 1 GB jika digunakan full nonton Youtube, maka habis dalam waktu 3 jam. Cuma langkah ini saja yang dapat saya lakukan untuk melepaskan diri dari kecanduan Youtube. Harapan kedepannya agar menonton Youtube lebih terkontrol agar tak berlebihan. 

Memindahkan kandang dan membuat tempat bermain ayam


Sempat bikin tempat bermain ayam, agar ayam dapat naik ke atas, duduk dan bercengkraman dengan ayam ayam lainnya. 

Lalu di bulan Desember 2022. Saya memutuskan memindahkan kandang ayam yang terbuat dari kayu ulin untuk ayam ayam dapat tidur kalau sedang terik panas matahari, hujan dan saat malam hari dapat masuk ke kandang ini untuk menghangatkan diri dari dinginnya malam. Terutama buat ayam umbaran. 


Pertama kali : Jumlah ayam milik Afrid udah tembus 100 ekor, beberapa ayam di gembalakan untuk makan rumput dengan sendirinya.  

Seumur hidup, Afrid fransisco belum pernah memelihara sebanyak 100 ekor.

Ini baru untuk pertama kalinya. Karena waktu saya tinggal di pusat kota Palangkaraya, cuma memiliki lebar 2 m x 4 m saja. Sekarang halaman pekarangan belakang rumah udah lebih luas sebesar 42 meter x 24 meter sejak pindah rumah ke pinggiran taman Nasional Sabangau. 

Foto : Terima kasih Tuhan Yesus untuk ayam ayamnya

Karena saya terinspirasi cara berternak ayam kampung ala youtuber Justin Rhodes.

Baca juga : 

Tour rumah dan lahan tanah peternakan milik Justin Rhodes seluas 10 hektar ( 2022 )

Teknik strateginya juga kayak gitu, kotoran ayam saya kumpulkan dari kandang, lalu di tebar ke padang rumput yang memang lahan sengaja di tanami oleh rerumputan. Setiap pagi pukul 6 saya buka pintu agar ayam ayam dapat mencari memakan rerumputan dengan sendirinya. Lalu setelah selesai pukul 9 pagi setelah ayam kenyang makan rumput. Ayam saya gembalakan masuk pulang ke belakang. Begitu juga di sore hari, pukul 4 sore di buka, jam 5 sore di tutup. Gitu seterusnya. Jadi ada kesempatan bagi rumput bertumbuh. 

Ketika ayam makan rumput maka sang ayam mengeluarkan kotoran. 

Kotoran ayam menjadi pupuk untuk menumbuhkan rumput menjadi lebih tinggi dan lebih besar lagi.

Siklusnya, rumput di makan lagi, ayam mengeluarkan kotoran sebagai pupuk. 

Berulang ulang begitu seterusnya, sehingga saya dapat menghemat pakan makanan ayam hingga 15% sekaligus tanpa bau karena semua kotoran ayam menjadi pupuk bagi rerumputan.

Mengganti judul dan gambar

Pada tahun 2023, ada yang baru pada label diary. Yaitu jenis gambar diganti dengan tampilan laptop dan kopi. Kemudian judulnya juga diubah dari semula diary urban farming, family cooking, bisnis online, travel dan investasi cryptocurrency. Di ubah judulnya menjadi diary saja. 


Mewaspadai predator anjing dan kucing persia milik tetangga

Memelihara ayam yang dipenuhi oleh banyak predator seperti anjing, biawak, ular dan kucing persia. 

Tetap harus diwaspadai. 

Oleh sebab itu, anak ayam hasil penetasan DOC tetap aku kurung di dalam kandang yang tinggi dan terkunci. 

Biasanya, pada malam hari. Predator kucing mengintai dan membunuh ayam ayam aku. 

Walaupun perkarangan belakang rumah sudah di tembok dengan pagar yang tinggi. 

Kucing persia dan kucing kucing predator liar milik tetangga lainnya tetap bisa memanjat ke atas lalu menerkam ayam ayam ku sampai mati, kemudian seluruh tubuh ayam di makan sampai habis hanya meninggalkan bulu. Tulang ayam juga dilahap habis oleh predator kucing.

Untuk mengatasi hal ini. Aku memutuskan untuk tetap menjaga ayam DOC di dalam kandang yang terkunci hingga umur dewasa 3 bulan. Ketika ayam sudah memiliki berat 0,5 kg. Baru di lepas umbaran dari kandang. 

Sepengetahuan aku. 

Ayam dengan berat kurang dari 0,5 kg selalu menjadi incaran predator kucing. 

Apalagi jenis predator kucingnya bukan sembarangan. Tipe kucing persia milik tetangga, ukuran kucing persia ini besar banget hampir 2x lipat bobot besarnya dibandingkan kucing biasa. 

Dari pelajaran ini, agar aku ngga cepat cepat melepas ayam jika belum berukuran 0,5 kg. 

Oh ya, untuk permasalahan tentang kematian anak ayam doc. Sudah bisa teratasi sedikit, walaupun masih tetap ada kematian. Paling ngga ya udah berkurang menjadi 50% : 50%.

Temuan baru baru ini yang saya perhatiin yaitu menyangkut masalah over populasi pada box. Minimal 1 box cukup 15 ekor ayam doc saja, kalau kelebihan maka terjadi perkelahian, perebutan makanan dan saling menindih. 

Tentang bagaimana cara merawat dan memelihara anak ayam DOC tetap masih aku pelajari. 

Karena kematian anak ayam DOC hingga 50% masih tetaplah bikin saya stress, kecewa dan frustasi. 

Harapannya agar dapat dikurangi lagi menjadi tersisa 20%. Artinya dari 10 yang menetas, minimal 2 yang mati. Ini merupakan angka ideal menurut aku, tapi masih sulit mencapai ke level ini karena saya belum tahu sama sekali tentang ilmu berternak anak ayam DOC. 

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.