Langsung ke konten utama

Daftar 7 inventaris alustista angkatan udara Israel yang harus disingkirkan untuk meringankan beban keuangan APBN ( 2024 )

Bravo Netanyahu... Bravo Israel.

Artikel ini merupakan kelanjutan dari : 


1]. F-16 Fighting Falcon

F-16 Fighting Falcon sudah agak mengalami kesulitan untuk menghadapi sistem pertahanan udara modern abad now dalam menghadapi persenjataan buatan Rusia yang dimiliki atau dibeli oleh Iran. 

Jika Iran berkehendak menstransfer kepada proksi sekutunya ke wilayah Lebanon di Hizzbulloh, Popular mobilization forces Irak, Suriah dan Houthi. 

Memang benar, F-16 masih memiliki kemampuan untuk menembus sistem pertahanan udara tersebut.

Tetapi ini berpotensi tertembak jatuh. Daripada pemerintah Israel mengambil resiko. Alangkah bijaknya jika Israel lebih mengendepankan membeli lebih banyak F-35 Lightining. 

2]. F-15 Strike Eagle

Hal senada antara F-15 dan F-16. F-15 dikenal memiliki jangkauan terbang jarak jauh dan membawa lebih banyak bom dan rudal. Tetapi menurut saya, buat apa mengangkut senjata lebih banyak dan buat apa terbang lebih jauh, bukankah itu berarti biaya sekali terbang dapat lebih mahal menguras APBN. 

Apalagi F-15 diketahui memiliki 2 knalpot yang boros avtur. Ketimbang F-35 Lightining yang lebih hemat energi. 

Jadi sudah sepantasnya pemerintah Israel mempercepat menyingkirkan F-15 dan F-16 dari jajaran inventaris, kemudian mengganti sepenuhnya dengan F-35. 

Untuk serangan fighter dan attack. Pesawat tempur berawak yang dimiliki oleh Israel cukup hanya dari 1 jenis saja yaitu F-35. 

APBN Israel sudah kesulitan menghandle biaya perang jika melawan Iran yang berada di jarak 2.000 km. Ada baiknya, angkatan udara IAF Israel fokus untuk pertahanan ( defense ) pada rentangan jarak antara 500 km memastikan wilayah perbatasan aman dari penempatan rudal. Alih alih harus menyerang Iran yang berada 2.000 km jauhnya. F-35 Lighting tentu dapat diandalkan untuk menjaga kedaulatan ketimbang F-16 dan F-15. 

3]. Helicopter Apache

Helikopter Apache unggul dalam serangan udara dengan senjata andalan berupa Hellfire, Spike dan senapan mesin. Tetapi jika pengen jujur berkaca dalam perang Rusia VS Ukraina. Apalagi makin maraknya peredaran rudal panggung Igla di perbatasan Israel. 

Secara jelas jelas, keberadaan Apache terancam. 

Oleh sebab itu, pemerintah Israel perlu mengevaluasi kegunaan dari Apache menggantinya menjadi sepenuhnya drone tak berawak.

Apabila Apache benar benar takut dengan rudal panggung Igla buatan Rusia, Maka tentara IDF Israel bisa mengajari helikopter ini bersembunyi di balik pohon ghargad. Siapa tahu, membuat helikopter tidak terdeteksi oleh terorist di perbatasan. 

Aku pikir, Israel tidak perlu lagi berinvestasi di helikopter serang semacam Apache. Karena tingkatan bahayanya yang extrem jika terlalu mendekati wilayah musuh, alangkah bijaknya jika mengandalkan F-35 Lighting dan drone saja seperti dari varian Hermes. 

4]. Drone Heron

Drone Heron dikenal memiliki kemampuan daya angkut payload yang besar dengan membawa lebih banyak radar dan sensor dan mampu terbang lebih jauh.

Drone Heron memang ditujukan untuk pengintaian jarak jauh. Sayangnya, harga perunit sekitar Rp 1 triliun rupiah. Termasuk paket stasiun GCS ( ground control system ). 

Seperti yang diutarakan diatas. Alih alih fokus kepada serangan jarak jauh. Israel cukup memfokuskan diri saja di sekitar 500 km area perbatasan, memastikan terorist tidak menumpuk senjata di halaman depan Israel.

Jadi pemerintah Israel tidak perlu berambisi menjangkau area musuh lebih jauh. Cukup 500 km saja dari perbatasan. Alhasil, selayaknya memang drone Heron tidak dibutuhkan lagi. Jika konsep security diubah ke ideologi seperti itu. 

Sebagai pengganti Heron. Israel dapat hanya fokus menggunakan drone dari kategori MALE ( Male unmaned combat aerial vehicle ). Seperti dari varian hermes buatan Elbit System.  

Hermes berharga lebih murah dibandingkan Heron. 1 unit hermes  berharga Rp 380 miliar rupiah. 

Hermes juga mampu membawa radar, rudal dan sensor. Walaupun tidak sebanyak Heron. 

Harga 1 unit drone Hermes sekitar Rp 450 miliar rupiah. Itu lebih murah dibandingkan Heron yang mencapai Rp 1 T. 

Jika Israel benar benar ingin menghemat anggaran APBN dan tidak terlalu mempermasalahkan jarak tempuh,  tentu drone Hermes menjadi solusi yang lebih "memikat" bagi pemerintah Israel.

5]. Boeing 707

Israel seharusnya tidak perlu ngotot atau mengikuti doktrin tempur seperti Amerika Serikat yang mampu menyerang musuh dari jarak jauh. Israel tidak butuh ikut semacam itu karena sesungguhnya juga APBN Israel minim. 

Alangkah baiknya fokus Israel hanya pada pertahanan disekitar 500 km dari perbatasan. 

Jika ideologi ini diterapkan, maka pemerintah Israel selayaknya tidak perlu lagi berinvestasi membeli boeing 707. 

Boeing 707 adalah pesawat tanker pengisian bahan bakar avtur. 

Tujuan utama Israel ketika itu membeli Boeing 707 yaitu untuk bermaksud menyerang Iran yang berada di jarak 2.000 km. Tetapi jika dirinci secara realitsis. Ini cacat banget ditengah anggaran APBN Israel dan penumpukan utang yang mencapai rasio mendekati 60%. 

Sebagai informasi. Harga perunit pesawat boeing 707 itu mahal buanget mas bro. 

Aku coba coba berpikir keras. 

Apakah ada solusi lain untuk agar Israel mampu menyerang Iran yang berada di jarak 2.000 km dengan cara lebih hemat biaya tanpa bikin bocor APBN. Kayaknya emang ngga ada, kecuali ada pesawat ridesharing semacam pesawat Gojek yang bisa menumpangi F-16, F-16 dan F-35 menuju ke Iran yang jauh.  

Masalahnya ngga ada layanan taksi Gojek di langit. 

Jadi, Boeing 707 tanker tidak penting buat Israel.  

6]. G550 Gulfstream

Jika Israel mau mengikuti petuah mengganti doktrin tempur menjadi bertahan ( defense ). 

Maka G550 Gulfstream tidak lagi dibutuhkan. 

Teknologi F-35 yang mampu saling berkomunikasi via digital, radar AESA dan kecanggihan sensor EO Litening. Itu sudah lebih dari cukup tanpa perlu lagi G550 Gulstream. 

Perlu diketahui juga, setiap sistem G550 begitu mahal dan kompleks. Lagian pesawat jenis varian ini cuma cocok untuk negara berukuran luas yang punya doktrin menyerang. Tidak cocok buat Israel yang punya luas wilayah kecil dan arena perangnya cuma sekitar jangkauan antara 100 - 300 km saja. 

Padahal F-35 dapat melakukan tugas yang sama.  

Jika pemerintah Israel mau mengeliminasi G550 maka APBN Israel bakalan menang banyak dengan mengefesiensikan anggaran tanpa harus lagi memiliki G550 berserta perangkat lunak dan perangkat kerasnya yang mahal. 

6]. Pesawat khusus Beechcraft

Beechcraft dapat diganti dengan pesawat drone Hermes. 

Teknologi Beechcraft sudah ketinggalan zaman dan malah biaya operasionalnya lebih mahal dibandingkan Hermes. 

Drone hermes bahkan dapat terbang hingga 36 jam di udara untuk melakukan misi patroli laut, pengintaian, search dan inteligence. 

Baling baling turbo Beechcraft cuma ngabisin biaya pajak dan APBN orang orang Israel saja. 

7]. Helikopter Eurocopter, Koala dan Panther.

Terlalu banyak investasi dari berbagai macam model helikopter dari berbagai vendor perusahaan lain justru membengkakan biaya suku cadang menjadi lebih mahal. 

Untuk layanan transportasi helikopter, Israel selayaknya hanya butuh 2 model helikopter dari varian Blackhawk saja untuk versi angkut ringan sedang dan helikopter stalion untuk versi angkut berat. Itu sudah lebih dari cukup menurut saya, karena jika ada kerusakan, harga suku cadangnya jika dalam pembeliaan jumlah besar maka dapat menjadi lebih murah. 

Helikopter Blackhawk merupakan kandidat paling tepat untuk IDF. 

Helikopter Stallion merupakan kandidat paling tepat untuk IDF. 

Cukup 2 jenis ini saja untuk helikopter angkut militer. Tidak perlu beli jenis lain lagi. 

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.