
Artikel hari ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya :
~ Restoran steak daging sapi, sate kambing, bakso pentol sapi, sate B2 babi, masakan padang rendang sapi, sosis sapi dan rumah makan berbahan resep ayam kampung segera punah, tutup dan bangkrut di Indonesia ( 2024 )
Kebijakan dari pemerintah Indonesia selama ini memang dikenal suka, hobi dan doyan impor daging sapi dari negara lain. Alih alih mengembangkan potensi peternakan sapi, kambing & domba di dalam negeri.
Alhasil, tata kelola yang dibangun oleh pejabat Indonesia lebih memilih cara praktis yaitu 'IMPOR DAGING' dan kebijakan ini tidak pernah berubah selama berdekade dekade.
Hingga tahun 2026. Impor daging sapi dari luar negeri, terus dilanjutkan tanpa mekanisme perubahan berarti selama puluhan tahun.
Jika program kebijakan seperti ini terus dilanjutkan. Afrid Fransisco percaya bahwa hanya tunggu masalah waktu sampai ketersediaan daging kambing & domba akan hilang sepenuhnya dari negara Indonesia, karena kekosongan ketersediaan daging.
Jikapun daging tersedia. Maka harga daging sapi akan melambung tinggi tapi stock makin tipis.
Beberapa negara sedang mempertahankan kedaulatan pangan nasional mereka masing masing. Apalagi mengingat bencana perubahan iklim global warming yang terus menerus meningkatkan suhu di bumi menjadi lebih panas daripada sebelumnya.
Kambing dan domba merupakan hewan tidak tahan global warming.
Kedua jenis hewan ini dikenal mudah mati & robot secara mendadak secara massal jika terjadi heat stress ( stress panas ). Terutama pada musim kemarau ( El Nino ). Suhu panas ekstrem yang menyengat bisa menyebabkan dehidrasi, kelemahan tubuh & gangguan termoregulasi yang ditandai seperti nafas terengah engah hebat, kemudian hewan mati tiba tiba.
Untuk mengatasi head stress dapat dicegah dengan menggunakan infrastruktur kandang modern dengan sistem pendingin yang mahal dan irigasi air yang berlimpah untuk menjaga kelembapan.
Tetapi di Indonesia. Mayoritas peternakan kambing, domba dan sapi berasal dari kalangan peternak skala kecil & menengah tanpa infrastruktur yang memadai. Akibatnya, bencana pemanasan iklim global dapat dengan mudah saja membunuh banyak hewan ini di seantero Indonesia pada saat memasuki musim kemarau.
Indonesia sedang menghadapi kepunahan total peternakan kambing dan domba di tanah air.
Apa yang sebenarnya terjadi ?
Ini adalah hasil dari kombinasi mematikan antara kesalahan kebijakan pemerintah Indonesia selama berdekade dekade dan hantaman perubahan iklim global telah menjadi semacam pembunuh genosida massal pada hewan ternak.
Kematian ternak lokal meningkat - reproduksi lokal menurun - produktivitas daging lokal menurun - pemerintah malah terus menerus impor daging dari luar negeri - kurs rupiah tertekan - harga daging di dalam negeri menjadi meningkat mahal - daya beli masyarakat melemah tidak sanggup lagi membeli daging - kekosongan total = menuju kepunahan daging.
Ingatlah, bahwa negara lain yang menjadi produsen daging sapi juga sedang mengalami pusing kepala akibat fenomena global warming.
Andaikata, jika mereka memprioritaskan untuk konsumsi daging bagi kedaulatan rakyat mereka sendiri dan mereka memutuskan menghentikan dan menolak ekspor daging ke negara lain. Maka negara yang ketergantungan impor daging akan dipastikan menghadapi bencana kelangkaan daging kambing, sapi & domba dengan fatal.
Karena selama bertahun tahun, rezim pemerintah berserta pejabat kleptokrasinya memilih tidak mau bekerja keras memuliakan produksi peternakan daging lokal sendiri di dalam negeri.
Itu jelas bencana.
Panik, bingung & linglung akan terjadi pada pemerintahan maupun masyarakat akibat kesalahan kebijakan rezim pemerintah mengakibatkan stock daging jadi kosong atau harga daging sapi, domba & kambing melambung kian mahal.
Jika pemerintah malah memutuskan untuk menambah kuota impor daging lagi.
Itulah inti dari artikel ini. Rezim ini memang tidak mau melakukan perubahan.
Selalu dengan mudah meloloskan kebijakan untuk kran impor daging, impor daging, impor daging lagi melalui mekanisme BUMN selaku jasa pengimpor seluruh 100% daging lembu dari berbagai negara.
Nah, jika negara lain memutuskan menolak ekspor daging. Maka fatal akibatnya di masa depan. Itu jelas bencana.
Efek Domino : Warung Sate yang Gulung Tikar
Dampak dari kematian hewan ternak di kandang dapat membawa efek multiefek berantai ke sektor hilir. Yaitu UMKM kuliner hingga RPH ( rumah potong hewan ) tidak akan lagi memiliki pasokan reguler yang konstan.
Harga daging kian mahal. Membuat harga daging kambing & daging domba tidak dapat lagi terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah dan masyarakat miskin dipastikan tidak dapat lagi merasakan apa itu rasa daging sapi, kambing & domba. Karena daya beli lemah total.

Lalu terjadi p
enutupan massal pada jutaan warung sate, tongseng dan aneka macam makanan di seluruh Indonesia yang berbahan dasar kambing & domba terpaksa gulung tikar karena biaya operasional yang tidak sebanding dengan ketersediaan bahan baku.
Tak sampai disitu saja, toko penjual daging akan banyak tutup ( bangkrut ).
Karena mau apa yang dijual. Stock daging kosong tidak ada yang bisa dijual.
Jikapun ada daging sapi, kambing & domba yang masih bisa dijual. Orang orang cuma rojali saja ( baca : Rojali = rombongan jarang beli cuma lewat aja ). Karena mereka tidak sanggup memiliki daya beli akibat harga daging kelewat mahal pada dompet mereka.
Dampak lainnya, penjual akan menjual banting harga dengan margin yang tipis yang menyebabkan gulung tikar pada satu persatu toko dan kian banyak orang orang atau karyawan di bidang peternakan lembu & perdagangan daging lembu kena PHK satu per satu.
Solusi 2026 : Migrasi ke Peternakan sapi.
Memaksakan peternakan kambing dan domba dalam skala besar di tengah suhu global yang terus meningkat adalah langkah yang tidak baik secara ekonomi untuk saat ini dan tidak berkelanjutan di masa depan.
Cobalah beralih ke hewan ternak yang agak tahan cuaca panas. Seperti SAPI.
Dan untuk warung kuliner. Coba lakukan transisi perubahan menu secara besar besaran dari bahan dasar berupa daging kambing & domba. Coba beralih ke daging sapi. Kenapa sapi. Karena seperti pembahasan diatas. SAPI agak tahan terik panas matahari ketimbang kambing & domba yang bisa mati heat stress. Walaupun sapi juga bisa mati karena heat stress. Paling tidak, sapi cukup agak tahan menerjang panas.
Atau mungkin, ganti menu ke mie instan atau mie mie lainnya. Kuliner ini cocok untuk budget rojali. Walaupun low protein tapi pas dikantong banyak orang dan bikin kenyang.
Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.