Langsung ke konten utama

Kesepakatan damai 'Deal of Century' Palestina-Israel Gagal (2019)

Pada konferensi Peace to Prosperity di Bahrain 2019. Amerika Serikat melalui Kushner, menantu presiden Donald Trump telah meluncurkan rencana Deal of Century untuk menciptakan perdamaian antara Israel-Palestina. 

Deal of Century dirancang oleh Jared Kushner selama 2 tahun. 

Isi kebijakan mengusulkan paket bantuan investasi ekonomi bagi Palestina senilai $ 50 miliar dolar atau sekitar Rp 715 triliun rupiah selama 10 tahun kedepan dengan menarik dan menghimpun banyak negara lainnya. 

Bantuan keuangan ini nantinya digunakan untuk membangun hotel, restoran, tempat penginapan turis, infrastruktur, pengembangan pariwisata, mendirikan pembangkit listrik, dll.

Harapan dapat meminimalkan kemiskinan dan membuka satu jutaan lapangan pekerjaan bagi rakyat Palestina.  

Sekilas, Deal of Century adalah tawaran sisi positif perdamaian terbaik dari Amerika Serikat untuk Palestina. 

Setelah kekecewaan Palestina beberapa waktu yang lalu. ketika presiden 'Donald Trump' mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan mengakui Golan Height sebagai wilayah Israel. 



Masalah besar rencana perdamaian 'Deal of Century' adalah siapa sumber pendanaan ambisius untuk anggaran $ 50 miliar tersebut belum jelas. 

Uni Eropa saja tak hadir saat presentasi berlangsung. 

China tentulah sudah jelas, China takkan peduli ikutcampur karena masalah Palestina bukan urusan orang-orang China.

India juga takkan berpihak ke Palestina karena negeri Bollywood condong bersahabat dengan Israel. Sehingga India takkan rela merogok dompet untuk hal semacam itu yg memusuhi sahabatnya.  

Sedangkan Rusia yang notabene musuh bebuyutan Amerika Serikat sejak lama, tentu ngga pengen mengikuti perintah dan aturan permainan Amerika Serikat. Rusia memiliki kebijakan tersendiri untuk mendukung Palestina.

Sekarang, pembayar $ 50 miliar tersisa hanya Amerika Serikat dan negara-negara Arab bersama negara mayoritas Muslim. 

Masakah orang-orang Arab mau mengeluarkan dompet ketika pemerintah Palestina menolak usulan perdamaian tersebut. 



Adel Jubeir dari Kerajaan Arab Saudi mengatakan : 


Orang-orang Palestina adalah orang-orang yang memiliki keputusan akhir dalam masalah ini, jadi apa pun yang diterima orang Palestina, saya yakin kita akan menerimanya. Sahutnya.

Lalu bagaimana tanggapan Pemerintah Palestina. 

Berbagai pejabat politik dari pihak Palestina secara kompak menjawab : Menolak keras.  

Perkembangan kemakmuran Palestina hanya dapat tercapai bukan hanya dengan iming-iming uang. Palestina dapat makmur apabila Israel menghentikan semua aksi militernya, menghentikan blokade pengepungan, menghentikan pendudukan. Izinkan Palestina kembali ke wilayahnya seperti dulu untuk mengontrol kembali tanah, air, sumber daya, udara dan semua teritorial yg pernah dicaplok oleh Israel.  

IDF+Israel+Zionist.jpg (738×470)

Sniper+IDF.jpg (667×397)

Tank+Israel+Merkava.jpg (720×360)

Israel+IDF+Israel.jpeg (757×426)


Palestina+VS+IDF.jpg (615×400)


IDF.png (522×334)

Nah, Jika Palestina saja menolak.

Apakah Amerika Serikat mau menanggung seluruh biaya $ 50 miliar. 

Padahal negara pimpinan Donald Trump sedang terlilit utang yang cukup besar dengan rasio GDP diatas 109% akibat kesalahan kebijakan-kebijakan presiden sebelumnya seperti kesalahan manajemen keuangan Barrack Obama dan kesalahan presiden-presiden AS sebelumnya. AS mungkin saja masih sedikit bisa membantu tapi pertanyaannya seberapa besar.


Foto :  Melalui Deal of Century Jared Kushner ingin membantu Palestina menjadi tempat surga wisata terbesar di Timur Tengah dan ingin memperbaiki citra hubungan Palestina dengan Donald Trump bahwa masih ada perdamaian di hati Trump setelah sekian kali, Palestina dikecewakan oleh Trump.
Jared beramsumsi ada negara lain bersedia membantu seperti Korea Selatan, Jepang, Singapura, Kanada, Taiwan, dll untuk turut membantu menyumbang ekonomi bagi Palestina.  

Fakta dilapangan tentu tidaklah mudah, negara-negara ini memiliki dewan perwakilan rakyat berdaulat untuk kebijakan otoritas penuh atas sumber daya keuangan mereka masing-masing.  



Syeikh Sabri mengatakan :


Apakah kesepakatan ini dapat menyelesaikan masalah Palestina. Kesepakatan ini merupakan persekongkolan besar melampaui persekongkolan-persekongkolan sebelumnya. Lantas apa yang tersisa untuk Palestina setelah itu. Rencana ini gagal, dengan izin Allah. ungkapnya.

Ibrahim Fraihat mengatakan : 


Kesepakatan abad ini hanya buang-buang waktu. Memperlihatkan sandiwara Kushner agar terjatuh ke dalam perangkapnya yang diatur untuk mengalihkan perhatian publik dari apa yang sebenarnya terjadi. Sahutnya.  


Mengomentari sikap Palestina, Kushner mengatakan :

Ini dapat menjadi peluang baik abad ini jika mereka memiliki keberanian untuk menerimanya. sahutnya.

Beberapa hari kemudian setelah penolakan oleh Palestina, Kushner meyakinkan bahwa pintu masih terbuka lebar untuk Palestina. 

Bagaimana tanggapan pihak pemerintah Israel.


Pemerintah Israel diketahui telah melihat isi kebijakan 'Deal of Century'. 

Sejauh ini pihak Israel tak merespon dan diam tanpa suara. 

Namun beberapa bulan yang lalu. Perdana menteri Benjamin Netanyahu secara terang-terangan ingin mencaplok seluruh Tepi barat Palestina menjadi wilayah pendudukan Zionis Israel. 

Artinya keinginan pihak Israel bertentangan bertolak belakang dengan isi perjanjian dari Deal of Century.

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU

Related Post