Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sebanyak 60.907 orang Palestina memutuskan pergi meninggalkan Gaza (2019)


Sejak dikepung blokade oleh Pasukan IDF Israel menggunakan perisai dinding dan tembok berpagar untuk menghentikan aksi bom bunuh diri yg dilakukan oleh orang-orang Palestina di era tahun 2000. Selain itu, Israel juga mengklaim bahwa dinding tembok digunakan untuk mencegah HAMAS mendapatkan senjata canggih. 

Kondisi Palestina di wilayah Gaza tiap tahun terus menerus memburuk.

Hal ini diakibatkan oleh ulah pemerintah HAMAS. Dimana mereka memanipulasi dan menyalahgunakan bantuan internasional untuk membangun terowongan bawah tanah, menaikkan gaji untuk pejabatnya, menembakkan roket dan menghasut ribuan orang-orang Palestina untuk menyerang Israel dengan kapak, pisau, molotov dan bola api.

Hari ini, keadaan GAZA yang hanya sepanjang 40 km berada diambang kehancuran total.

Kemiskinan ada dimana-mana, banyak orang kelaparan, sumber akuifer tak layak minum krisis air kekeringan tandus semakin parah, pengangguran mencapai 70%, dan prostitusi merajalela.

Kota GAZA sudah benar-benar lumpuh total diambang kehancuran. Ekonomi Gaza takkan sanggup lagi menopang penduduknya.

Sebanyak 80% dari 2.000.000 rakyat GAZA. Kini hidup hanya dari belas kasihan penerimaan bantuan sosial sumbangan internasional.

60.907 orang memutuskan pergi meninggalkan Gaza tahun 2018 

Menurut lembaga PBB (perserikatan bangsa bangsa). Sebanyak 60.907 warga Palestina meninggalkan Gaza di tahun 2018. 

Namun menurut perkiraan intelijen Israel. Warga Palestina meninggalkan jalur Gaza melalui Mesir sekitar kurang lebih 35.000 orang.

Karena GAZA dikelilingi oleh tembok Israel. Maka jalan lalu lintas satu-satunya untuk keluar masuk hanyalah RAFAH.

Otoritas Mesir diberi tanggung jawab untuk menjaga keamanan disana.



Gerbang Rafah. Jarang dibuka oleh tentara dan kepolisian Mesir. Itu kadang-kadang saja.

Apabila gerbang Rafah terbuka. Warga Palestina mengambil kesempatan secepatnya untuk pergi.

Motif utama orang-orang Palestina untuk pergi dari GAZA adalah karena demi melindungi diri sendiri, melindungi keluarga & anak-anaknya dari bencana kemanusiaan mengerikan yang tak kunjung-kunjung usai. 

Gaza sudah tak layak sebagai kota yang baik, pemerintahan HAMAS gagal total. 

GAZA, Itu kota tempat terburuk untuk hidup, puing-puing reruntuhan berserakan dimana-mana. Infrastruktur public hancur. Takkan ada orang sanggup lama-lama bertahan ditempat gersang, tandus, dan berantakan tersebut.









Kalangan Kaya & Menengah

Sebagian besar warga Palestina yang pergi dari Gaza. Pada umumnya kategori berpendapatan kaya & menengah.  

Dibutuhkan uang sebesar $ 4.000 atau sekitar Rp 57.000.000 juta per orang agar dapat memulai kehidupan yang lebih baik. Dengan uang ini sudah dapat menyewa rumah selama beberapa hari untuk mencari kesempatan kerja seperti menyapu, mencuci piring di restoran & hotel di negara lain.

Pemerintah Mesir melarang warga Palestina menetap, kecuali di bandara. Mesir mendapatkan beberapa persen uang dari aktivitas kepergiaan warga Gaza dengan surat permohonan izin.

Warga Palestina pergi dari Gaza. Dilaporkan tak pernah kembali lagi. 

Mereka memilih menetap selamanya di Turki dan negara ramah Muslim seperti Swedia & Jerman (Uni Eropa). Pihak pemerintah Jerman memang memperbolehkan warga asing dari Timur Tengah untuk menetap tinggal selamanya di Jerman.

25.000 orang di tembak oleh IDF Israel








Pada tahun 2018. 

Sebanyak 312 orang GAZA tewas tertembak di perbatasan. Karena ingin mencoba melawan dan menembus tembok perbatasan yang dijaga ketat oleh Tank Merkava dan pasukan Israel Defense Force (IDF).

Sedangkan 25.000 orang mengalami luka-luka, banyak diantaranya diamputasi karena luka sobekan peluru tajam IDF.








Foto : Salah satu demonstran GAZA, tertembak tabung gas ke dalam mulutnya oleh tembakan pasukan Israel IDF penjaga patroli perbatasan. 

Youtube : Kota GAZA, Palestina. Menuju Keruntuhan


Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU