Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Semua pesawat drone Israel kini bisa menjangkau 1.000 km dari titik lepas landas (2019)


Selama beberapa dekade, jaringan komunikasi, datalink, dan radio di pesawat militer tanpa awak drone dibatasi oleh jarak antara 250 km – 300 km dari stasiun pusat ground control system.

Sehingga pesawat drone mengalami kehilangan loss sinyal dan pandangan pengintaian ISR intelligence surveillance reconnaissance penglihatannya menjadi hilang.

Ini adalah permasalahan selama bertahun-tahun yg dulunya tak kunjung selesai. Tanpa komunikasi dan transmisi LoS. Drone bagaikan kehilangan arah di tempat yg sangat jauh.

REMOTE SATELLITE ATOL OPERATION 


Pada tanggal 1 Mei 2018. Perusahaan teknologi Israel Aerospace Industries memperkenalkan sebuah sistem terobosan inovatif mutakhir yg mampu menjadikan drone mendarat, lepas landas dan terbang jauh sejauh 1.000 km tanpa lagi ketergantungan dengan pemancar stasiun ground relay yg memiliki keterbatasan.


Ukuran satelit hanya berukuran kecil bahkan ada yg sebesar kotak sepatu seharga kira-kira $ 1.000.000 juta dolar saja.

Tak ada gunanya satelit untuk ditembak menggunakan rudal anti-satelit yang berharga mahal. Satelit tersebut mengorbit di luar angkasa.





Melalui satelit, memungkinkan ground control stasion yg ada di pusat mampu mengendalikan mesin drone, mendaratkannya di tempat lain, kemudian menerbangkannya kembali atau bahkan berbagi dengan infrastruktur pemancar stasion relay yg lainnya yg ada di darat. 

Termasuk membagikan datalink dan informasi ke stasion kecil yg hanya dibawa oleh tentara infanteri di darat.

Pihak komando yg berada di jarak 1.000 km dapat memerintahkan pesawat drone terbang selama berjam-jam mengintar langit untuk melakukan pengintaian. Tentunya tetap dilindungi oleh sistem cyber, anti-jamming dan perlindungan di lingkungan gangguan elektronik berbahaya.

Apabila satelit hancur atau dihancurkan, pesawat drone dapat secara otomatis kembali ke pusat untuk mendarat.

PENINGKATAN DARI 300 KM – 1.000 KM 


Peningkatan kemampuan jarak jelajah penerbangan drone yg mengandalkan komunikasi dari satelit pertama kali di lakukan di wilayah paling utara Israel hingga ke wilayah paling selatan di Israel hanya berdasarkan sinyal satelit sukses di lakukan.

Pihak IAI mengatakan :

Ini adalah pengganda kekuatan yang memberikan fleksibilitas operasional luar biasa. sahutnya.

Dengan jarak jangkau 1.000 km, berarti wilayah seperti seluruh Suriah, Irak, Lebanon, Cyprus, dan sebagian Mesir, Arab Saudi dan Turki dapat dijangkau oleh berbagai macam pesawat-pesawat drone milik negeri Bintang Daud tersebut. 


Negara Zionis ini memang memiliki berbagai macam drone yang mampu terbang lama hingga durasi 52 jam, bahkan varian EITAN mampu terbang selama 72 jam sekali isi bahan bakar.

Dalam cuplikan video yang ditampilkan,


Israel menampilkan sosok drone Heron yg mampu terbang 52 jam lamanya. Nampak dari belahan bumi drone melaju menuju ke peta wilayah India dan mendarat di India untuk mengisi bahan bakar ulang, kemudian lepas landas di India menuju ke Kashmir, Pakistan untuk melakukan pemburuan pengintaian yg dikendalikan oleh pusat kontrol oleh tentara-tentara Israel, lalu berlanjut mendeteksi kebakaran di India.   

Artikel Lainnya :

Youtube : Teknologi komunikasi & datalink drone
Semoga bermanfaat ya. GBU