Langsung ke konten utama

Paksaan dan polemik keikutsertaan Yahudi Ortodoks Haredi dan umat Arab Islam dalam tentara IDF Israel setelah babak baru reformasi ( 2023 )

Pemerintahan Israel yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu telah menyetujui dan menandatangani perjanjian yang menandakan sebuah babak baru terhadap reformasi yang dapat sedikit merubah perubahan demokrasi. 

Sebuah ajuan pertanyaan selama bertahun tahun tentang bagaimana memandang nasib, paksaan dan polemik keikutsertaan umat warga Yahudi ortodoks ( Haredi ) dan Arab Islam untuk dinas ketentaraan.

Sebagai informasi. Israel melalui knesset menerapkan wajib militer kepada semua anak anak muda dan mewajibkan bagi siapa saja entah itu pria &, wanita yang berbakat di bidang pertahanan negara untuk menjadi anggota militer atau tentara. 

Di Israel, menjadi tentara dianggap seperti pahlawan. 

Tetapi disisi lain, bagi beberapa kalangan orang orang tertentu, memandangnya seperti terkesan memaksa orang untuk ikutserta didalamnya. 

Alasan ini bukan tanpa sebab. Karena sejak 1 hari kemerdekaan pada tanggal 14 Mei 1948. Negara Yahudi terlibat banyak sekali rentetan perang. Sehingga membutuhkan banyak orang atau warga untuk terlibat ikutserta didalamnya dalam melawan musuh. Pada akhirnya, sifat mental ini terbawa hingga saat ini. 

Kalangan Yahudi Ortodoks Haredi dan umat Arab Islam. 

Pada tahun 2023. Jumlah tentara aktif Israel Defense Forces ( IDF ) mencapai 173.000 ribu orang. 

Mayoritas ketentaraan IDF di isi oleh orang orang Yahudi Zionist. 

Kemudian, 400 orang diantaranya adalah berasal dari orang orang Yahudi ortodoks ( Haredi ) dan kurang lebih 2.000 tentara IDF berasal dari kalangan warga Arab Muslim.

Jumlah keikutsertaan Yahudi Ortodoks begitu minim hanya ada 400 orang. 

Sehingga menimbulkan keresahan dari kalangan Zionist. 

Ketika perang pecah berkecamuk, tentara IDF lah yang sibuk hilir kesana kemari, bertempur di segala arena medan, berdarah darah, mengalami kelelahan mengangkat logitsik, senjata, dll. 

Tetapi kalangan Yahudi Ortodoks saat terjadi perang. Mereka hanya diam di rumah saja dan berada di tempat ibadah saja sambil mengangguk angguk kepala membaca kitab suci. 

Foto : Kalangan Yahudi Ortodoks atau disebut juga Yahudi Haredi

Undang undang knesset mewajibkan pria Yahudi ortodoks yang mampu menjadi tentara untuk segera mendaftar menjadi tentara IDF untuk membela dan menjaga kedaulatan negara Israel dari musuh. 

Tetapi dari tahun ke tahun hasilnya selalu nihil, hanya ada segelintir orang Yahudi ortodoks saja yang mau mendaftar. Belum jelas, apa landasan 400 orang haredi tersebut masih ada yang mau menjadi tentara IDF, gaji dapat menjadi alasan utama mengapa mereka memutuskan melanggar kebijakan dari rabbi. Jadi, begitu tahu keuntungan gaji bulanan mereka akan meningkat dibandingkan harus kerja serabutan. Penyebab alasan 400 orang ini langsung masuk IDF.

Pemerintah Israel menyalahkan tindakan dari para Rabbi yahudi ortodoks yang selalu menyampaikan khotbah kepada umatnya untuk jangan menjadi tentara Israel IDF.

Hal ini juga diikuti oleh kalangan dari umat Arab yang mencoba mengikuti jejak dari kalangan Yahudi Ortodoks. Dimana para ustad melarang umatnya juga untuk jangan menjadi tentara Israel IDF. 

Selama bertahun tahun. Tentara IDF dari kalangan Zionist tampil dengan gagah berani berperang untuk melindungi negara Israel dari ancaman musuh. Baik itu di darat, laut maupun udara. Bahkan harus merelakan kehilangan nyawanya. Walaupun sesungguhnya tentara IDF Zionist ingin hidup lebih lama demi mampu mempertahankan negara agar mampu berperang lebih lama juga.

Tetapi Yahudi Ortodoks dan Arab Islam. Tidak ikutserta dalam perjuangan tersebut, inilah polemik knesset yang dianggap oleh mereka sebagai pemaksaan. Setelah reformasi terhadap kebebasan demokrasi yang absolut untuk merevolusi aturan tersebut. 

Pertanyaannya apakah IDF sekarang membutuhkan Yahudi Ortodoks dan Arab Muslim dalam jajaran militer Israel. Mengngat keadaan Israel saat ini sudah relatif damai tanpa hingar bingar peperangan seperti masa lalu, walaupun masih terdapat ancaman perang. Namun, cukup menggunakan kekuataan IDF yang ada saat ini, maka musuh sudah dapat diredam sedikit.  

Dan jika memang mereka ( Yahudi Ortodoks dan Arab Islam ) menolak dan tidak mau masuk ke jajaran dinas IDF. Maka tidak perlu dan jangan knesset memaksa kehendak mereka. Itu adalah hak demokrasi dari pihak mereka masing masing.

Total ada kurang lebih 2.400 tentara IDF dari kalangan Haredi Ortodoks dan Arab Muslim. Keseluruhan dari mereka dikucilkan oleh keluarga dan mendapatkan tekanan bathin oleh sesama dari kalangan masyarakat mereka sendiri. Hampir 96% Muslim di Israel merupakan Sunni, sedangkan sisanya yaitu druze. 

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.