Langsung ke konten utama

Pemerintah Israel hentikan pendanaan, proyek, penelitian dan pengembangan rudal anti balistik hipersonik [ fokus senjata laser Iron beam ] ( 2024 )

Foto : Rudal hipersonik buatan China DF21 dengan kecepatan 10 mach ( +10.000 km/jam )

Berdasarkan kecepatan. Ada 2 jenis tipe rudal di dunia ini. Yaitu supersonik dan hipersonik. 

Rudal atau roket apapun dari kelas bawah atau kelas menengah yang memiliki kecepatan kurang dari 5.000 km/jam disebut supersonik. Sedangkan rudal yang memiliki kecepatan lima kali kecepatan suara atau diatas 5.000 km/jam disebut dengan rudal hipersonik. 

Mayoritas rudal dan roket yang dimiliki oleh angkatan bersenjata di seluruh dunia ini di dominasi dari kelas supersonik. Itu rata rata dapat dijatuhkan via sistem pertahanan udara. 

Tetapi rudal hipersonik diklaim agak sulit dijatuhkan karena kecepatannya yang tinggi. Sehingga respon pencegatan intersepsi menjadi lambat untuk menanganinya. 

Pada tahun 2024. Contoh rudal hipersonik yaitu Kinzhal buatan Rusia dan Dongfeng buatan China. 

Iran mengklaim dirinya juga memiliki rudal hipersonik yang disebut Fattah.

Merespon adaptasi perkembangan perubahan teknologi dari supersonik menuju hipersonik. Beberapa tahun yang lalu, pemerintah Israel telah menggelontorkan dana keuangan finansial untuk penelitian anti hipersonik melalui proyek arrow generasi ke 3 dan skysonic dari BUMN Rafael Advanced Defense System. 

Namun, akhir akhir ini pemerintah Israel telah memutuskan berubah pikiran untuk tidak lagi berinvestasi pada teknologi pencegat tersebut. 

Kementerian pertahanan Israel menjelaskan dengan alasan bahwa tidak melihat rudal hipersonik sebagai kebutuhan mendesak hingga 10 tahun kedepan. 

Alhasil, kini pendanaan, penelitian, proyek dan pengembangan rudal anti hipersonik baik itu balistik hipersonik maupun jelajah ( cruiser hipersonik ) tidak lagi didanai. Secara praktis, program tersendat, padahal sebelumnya telah ditugaskan BUMN IAI Israel Aerospace Industries dan BUMN Rafael Advanced Defense System mengerjakan pekerjaan tersebut.  

Belum ada komentar dari pihak IAI. 

Sedahkan pihak Rafael mengklaim kecewa terhadap keputusan kementerian pertahanan Israel. 

Padahal sebelumnya, pihak Rafael penuh semangat dan antusias.


Pini Yungman dari Israel mengatakan : 

Beberapa tahun yang lalu, kami memutuskan di Rafael untuk menciptakan perlunya respons terhadap rudal hipersonik, bahkan sebelum dunia dan kementerian pertahanan sadar. Kami memutuskan dari dana Penelitian dan Pengembangan untuk mengembangkan pencegat yang mampu menangani ancaman ini. Para pemikir terbaik di Rafael menemukan solusi tahap kerja dan kami mulai mengembangkan Skysonic. Sahutnya. 

Dari pihak pemerintah Israel sendiri memutuskan untuk lebih fokus mendanai, meneliti dan mengembangkan senjata laser Iron Beam sebagai solusi mendesak yang harus selesai dalam 1 dekade ini. 

Paling lambat tahun 2025. Itu siap berdinas dan perbaikan bug selesai hingga tahun 2030 operasional penuh. 

Senjata laser Iron beam menjadi peralatan paling mendesak untuk menghindari ancaman udara hingga jarak 7 km menggunakan kecepatan cahaya berkecepatan 1 miliar km/jam dalam menjatuhkan objek musuh yang berbahaya secepat apapun. Selain itu, Iron beam juga mampu mengurangi beban biaya kinerja Iron dome yang mana 1 paket rudalnya seharga 1 unit mobil New fortuner. 

Iron beam digunakan untuk menjaga kedaulatan dan melindungi kota kota di Israel dari serangan udara yang diluncurkan oleh terorist. 


Ancaman rudal hipersonik dari Iran di sisi wilayah utara Israel. 

Pasca musnahnya partai politik Hamas tanpa tersisa satupun dari jalur Gaza dan Israel sukses mengusir seluruh 2,3 juta orang orang penduduk rakyat sipil Palestina keluar dari Gaza. 

Maka Iran tidak dapat lagi mengirimkan bantuan paket senjata dan uang ke Hamas karena sudah punah di jalur Gaza tersebut. 

Jadi Iran kemudian dipastikan fokus untuk mengalihkan pendanaan, perhatian dan memasok persenjataan ke proksi sekutunya yang ada di Suriah, Popular mobilization forces Iraq syiah dan lebanon melalui Hizzbollah. Sehingga keadaan menjadi semakin panas dan penumpukan senjata buatan Iran makin bertambah banyak di halaman perkarangan utara Israel. 

Jika Iran memiliki uang untuk membeli Kinzhal dan Dongfeng. Itu tentu menjadi ancaman serius bagi pemerintah Israel di masa depan. Apalagi paket rudal hipersonik ini dapat diinstal dengan hulu ledak nuklir. 

Jelas itu berbahaya dan bukan main main. 

Apakah keputusan menghentikan proyek anti balistik hipersonik merupakan sesuatu yang tepat dilakukan oleh pemerintah Israel. Tidak ada yang tahu, namun Israel saat ini memang sedang mengalami dilema memilih kerja di berbagai sistem antara Iron beam dan anti hipersonik. Ditambah dengan rasio utang mendekati 60% dan tipisnya anggaran APBN untuk biaya perang. Padahal proyek ini juga tidak berharga murah dalam penelitiannya membutuhkan miliaran dolar. 

Semua berpacu dalam waktu. Jadi harus ada yang dicut. Bisa saja menghentikan proyek anti hipersonik ini merupakan kebijakan tepat ditengah kekurangan anggaran apabila dilihat dari sisi yang lain dengan juga menggunakan pertimbangan opsi strategi yang lain pula. 

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.