Skip to main content

Donasi : Bank BCA 8600171012 [ terima kasih ]

BITCOIN : bc1q63a8aznadpfmzac67rt5eeyl4gsg6qq2r3mc9x

Drone Kamikaze Houthi Menjebol Iron Dome, Kota Eilat Israel Dibombardir Menyebabkan 8 Orang Tewas dan 22 Luka. Saran Saya: Pemerintah Israel Mundur 100 Km ke belakang dekat gurun Negev dan Kosongkan Seluruh Kota Eilat (2025)

 

Serangan drone kamikaze Houthi Yaman ke kota Eilat, Israel, bukanlah hal baru. Sudah berkali-kali terjadi, dan saya yakin serangan semacam ini tidak akan berhenti bakal terus menerus berulang intensitasnya. 

Sejak tahun 2024 lalu, saya sebenarnya sudah menyampaikan saran kepada pemerintah Israel. 

Bahwa kota Eilat beserta kawasan sekitarnya yang berdekatan dengan Laut Merah sebaiknya ditutup permanen. Semua penduduknya yang diperkirakan lebih dari 100.000 orang, sebaiknya diungsikan sekitar 100 km ke belakang, tepatnya ke wilayah Gurun Negev.

Mengapa perlu langkah ekstrem seperti itu?

Karena Eilat adalah kota yang rawan. Serangan drone kamikaze maupun rudal balistik Houthi bisa datang sewaktu waktu. Jika kota tetap dihuni, maka korban sipil pasti akan terus berjatuhan lagi.

Pemerintah Israel seharusnya membiayai pengungsian tersebut. Termasuk mengganti rugi rumah, apartemen, restoran, gedung, hingga properti warga. Semua itu jauh lebih murah daripada membiarkan nyawa rakyat Israel melayang setiap kali Iron Dome gagal mencegat serangan.

Pada bulan September 2025.

Lagi lagi, drone kamikaze Houthi berhasil menjebol pertahanan Iron Dome, lalu membombardir kota Eilat. Akibatnya, 8 orang tewas dan 22 orang terluka.

Mengapa Eilat Jadi Sasaran Empuk ?

Pertanyaannya: kenapa kota Eilat begitu rentan ?

Pertama, secara geografis, Eilat adalah kota kecil berbentuk segitiga yang sempit. Diapit oleh perbatasan darat yang juga sempit. Akibatnya, kota ini menjadi titik simpul yang mudah dihantam dari arah laut.

Drone kamikaze Houthi mampu terbang sejauh 1.800 km. Mereka datang dari arah laut, lalu masuk melalui celah sempit itu. Iron Dome di Eilat sering kesulitan karena waktu reaksinya terbatas.

Begitu radar menangkap ancaman, drone kamikaze yang datang bergerombolan keburu masuk.

Houthi pintar memanfaatkan kondisi kelemahan tata letak geografis kota Eilat tersebut. Mereka melancarkan serangan secara bertubi tubi, mengkombinasikan rudal balistik dan drone kamikaze dalam waktu hampir bersamaan. 

Iron Dome mungkin bisa menjatuhkan barisan drone pertama, tapi serangan gelombang kedua, ketiga, keempat, kelima, keeenam dan seterusnya yang berada dibarisan belakang biasanya lolos. Dan karena waktu reaksinya yang singkat dan sempit, diperparah dengan cekungan kota Eilat yang sempit. Inilah yang menyebabkan Eilat menjadi sasaran yang seringkali jebol.

Solusi kepada pemerintah Israel : Kosongkan Eilat secara permanen. 

Menurut saya, tidak ada pilihan lain selain menutup permanen kota Eilat.

Kosongkan penduduknya, pindahkan ke Negev, lalu bangun perbatasan baru yang lebih lebar. Dengan memperluas bentangan pertahanan hingga 90 km, Iron Dome punya ruang reaksi yang lebih panjang dan luas untuk mencegat rudal dan drone sebelum mencapai penduduk. 

Lalu bagaimana nasib kota Eilat dan kota sekitarnya ? 

Biarkan saja menjadi kota kosong. 

Biarkan menjadi kota padang pasir yang tanpa penghuni dan tanpa aktivitas.

Lebih baik begitu daripada harus melihat warga sipil Israel terus menerus menjadi korban akibat keganasan serangan terorist Houthi Yaman yang tidak akan berhenti.

Demikian saran saya. 

Semoga pemerintah Israel berkesan. Walaupun kesannya nanti peta wilayah Israel malah makin kecil.

Kota Eilat dan sekitarnya yang dekat laut merah yang sempit tidak layak huni jika dilihat dari perspektif keamanan militer. Memaksa keadaan untuk membiarkan penduduk tetap beraktivitas disana, hanya terus menerus mendatangkan korban jiwa. 

Baca juga : 

Menata ulang tata letak perbatasan Israel untuk perspektif keamanan dan kedaulatan yang lebih kuat ( 2024 )

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.