Langsung ke konten utama

Pengalaman pribadi investasi bitcoin : pelajaran saya tentang mengapa keserakahan lekat dengan kemiskinan dan sakit penyakit ( 2021 )

Artikel ini merupakan sambungan dari pengalaman pribadi dari tulisan sebelumnya tentang kegagalan saya investasi bitcoin.

>> 7 hal paling menyesalkan dalam hidup saya jika waktu dapat diulang kembali (2021)

Hallo, perkenalkan nama saya : Afrid.

Saya merupakan salah satu mahasiswa yang dulunya pernah belajar tentang ilmu atau sistem komputer.

Tentu saja, ketika itu kami belajar berbagai hal tentang teknologi, algoritma, pencitraan, operation, pemprograman, struktur, robotika, artificial intelligence (AI), enkripsi, dll sebagainya. Termasuk salah satunya yaitu digitalisasi.

Pada tahun 2012. Saya pertama kali mengenal tentang bitcoin dan blockchain.

Bagi kalangan IT. Sesungguhnya asal usul teknologi cryptocurrency dan blockchain bukanlah hal yang asing. Itu udah ada sejak lama di era tahun 90-an, bahkan sebelum lahirnya bitcoin pada tahun 2009.

Saya baru mengenal bitcoin pada tahun 2012 yang lalu.

Singkat cerita. Saya membeli bitcoin di tahun 2012. 

Ketika harganya masih Rp 700.000 ribu rupiah per 1 BTC.

Namun, karena keserakahan. Investasi ini habis. Beberapa hal lain, akibat kecerobohan lupa key phrase yang tetap masih berhubungan erat dengan keserakahan.  

KESERAKAHAN APA YANG SAYA LAKUKAN

Keserakahan yang saya lakukan.

Ketika itu yaitu tergiur terhadap sebuah tawaran jasa dari robot bot bitconnect berbasis AI dengan iming imingan investasi profit tinggi di atas 30% – 60%.

Bandingkan dengan bunga earn deposito bitcoin pada umumnya yang cuma memberikan imbal hasil 3% saja.

Kecil banget ya.

Nah, layanan dari Bitconnect. Menawarkan return profit 1%-2% perhari atau hingga kenaikan 60% per bulan. Kalah jauh dibandingkan dengan deposito interest bitcoin.

Malapetaka berawal dari keserakahan saya yang ingin terus mencari hasil investasi dengan profit tinggi. Walhasil, saya kemudian menyetorkan uang bitcoin ke bitconnect yang berakhir scam.  

KESERAKAHAN MEMBAWA KEPADA KEMISKINAN

Pengalaman yang pernah saya alami ini sungguh nyata. Bahwa keserakahan memang membawa seseorang jatuh ke dalam jurang kemiskinan.

Saya berumur 34 tahun. Tak pernah menyadari bahwa sejauh ini keserakahan itu sudah menempel di dalam mindset dan pola pikir. Bahkan ketika aku masih kecil. 


Tak hanya lekat terhadap kemiskinan.

Keserakahan juga dapat berbentuk ke dalam banyak hal. Seperti perilaku ketidakadilan, menjilat orang, pertengkaran, manipulasi waktu, workaholic, nafsu, burnout dan sakit penyakit. 

Karena keserakahan, saya pernah menganggap teman dan orang orang lain sebagai aset uang berjalan untuk terus menerus menawarkan kepada mereka sebuah tawaran bisnis MLM. Jika saya mengingat masa lalu, ini seperti perbuatan yang menganggu kenyamanaan orang lain, memalukan dan terasa seperti menjijikkan karena mengubah teman untuk kepentingan uang.  

Saya bahkan pernah melakukan spam bertubi tubi dan menyebarkan cetakan brosur bisnis kemana mana untuk meraup keuntungan semata mata. Saya akui, saya orang yang sungguh serakah terhadap uang.  

Karena keserakahan, saya pernah ingin menjual sebuah produk digital PLR melebihi nilai batas normal harga yang tak wajar. 

Harga produk yang seharusnya cuma Rp 11.000 ribuan, dijual menjadi Rp 250.000 ribu.

Keserakahan membawa kepada ketidakadilan. 

Melebihi batas normal keuntungan 10% per produk.

Karena keserakahan, saya menggunakan waktu menjadi overdosis dan tak efesien.

Karena keserakahan, menjerumuskan kehidupan kepada sakit penyakit, iri hati, dendam, permusuhan, kesombongan, kurang tidur, dan pertengkaran.

Dari pengalaman pribadi ini.

Kadang kadang walaupun masih sulit, aku (Afrid) masih banyak belajar tentang keserakahan.

Hampir tak ada faedah sama sekali tentang keserakahan ini ya teman teman. 

Dampaknya begitu buruk, mampu menghancurkan kehidupan, membawa kepada kesakitan tubuh dari berbagai penyakit dan mendatangkan kemiskinan. 

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU

Related Post