2]. Birokrasi pemerintah yang menjelimet, kaku, tidak efesien, tidak meritokrasi dan ada banyak kumpulan pejabat bodoh yang sama sekali tidak paham tentang cyber attack dapat menjadi sasaran empuk hacker.
Misalnya, pejabat setingkat menteri pendidikan Amerika Serikat pernah keliru menyebut AI sebagai 'A one". A one diibaratkan oleh beliau seperti kurikulum pendidikan.
Itu mencerminkan kebodohan pejabat dan pemahaman pejabat yang bodoh, padahal setingkat menteri.
Menurut laporan Businessinsights.
Hampir 80% para pejabat pemerintahan di seluruh dunia tidak paham tentang teknologi dan tidak tahu tentang cyber.
Padahal pejabat adalah garda terdepan dan punya banyak peranan krusial dalam menetapkan undang undang dan birokrasi pemerintahan.
Ancaman cyber tidak melulu berbicara tentang attacker cyber vs defender cyber. Melainkan tentang pejabat yang gagal paham mengenai esensi AI dan cyber akibat meritokrasi yang buruk. Nah, jika sebuah negara pemerintahan dipenuhi oleh pemimpin pejabat bodoh, presiden yang bodoh, pejabat tidak meritokrasi yang cuma berasal dari latar belakang partai politik.
Ini merupakan sasaran mangsa empuk bagi hacker untuk mengeksploitasi serangan ke negara yang dipimpin oleh kumpulan para pejabat pejabat bodoh tersebut.
Akibatnya, rakyat harus menanggung beban untuk membayar PMN ke BUMN yang dimana sistemnya diperas bertubi tubi oleh hacker atau negara harus membayar atau menambal aneka macam biaya perbaikan sistem komputer menggunakan uang pajak rakyat ( APBN ) akibat sering kebobolan.
Uang pajak rakyat terbuang sia sia, karena pejabat bodoh salah urus negara.
3]. Pemanfaatan AI agentic skala besar besaran dalam serangan otomatisasi cyber
Hacker bergerak dari AI generatif menuju ke level berikutnya : AI agentic.
IBM mengklaim ini bukan teori lagi. Ini sudah terjadi sekarang.
Teknologi AI agentic mempercepat pola serangan cyber dengan kecepatan mesin komputer yang mustahil ditandingi oleh kinerja manual sudah tidak dapat terkejar lagi.
4]. Pemanfaatan dana uang APBN negara untuk bantuan pendanaan modal pertahanan cyber dan penyerangan cyber dalam tensi geopolitik.
Misalnya, di Amerika Serikat. Pemerintahan presiden Donald Trump telah menaikkan anggaran untuk pertahanan cyber hampir $ 15 miliar dolar guna melindungi infrastruktur pemerintahan miliknya.
Tensi geopolitik akan terus memaksa negara mengalokasikan anggaran uang APBN untuk belanja pertahanan cyber. Tetapi negara jahat juga mengeluarkan anggaran uang APBN untuk belanja penyerangan cyber guna menyewa jasa layanan hacker untuk membobol negara lain atau membeli biaya langganan alat alat pembobol ( peretasan ).
5]. Pengembangan trial and error komputer quantum ke tingkat lanjut dalam lanskap ekonomi cyber.
Komputer kuantum masih dalam tahap eksperimen dan belum mencapai supremasi.
Hingga artikel ini ditulis kepada anda. Komputer quantum masih dalah tahapan uji coba, trial and error.
Diperkirakan teknologi quantum baru layak pada tahun antara 2040 atau 2045.
Tetapi pembangunan komputer quantum terus dilanjutkan sebagai pelengkap super komputer dalam mempertahankan cyber maupun penyerangan cyber.
Komputer quantum dapat digunakan untuk mengefesienkan energi dalam penyerangan cyber generasi berikutnya, simulasi kompleks, enskripsi dan kriptografi.
6]. Pekerjaan hacker semakin otonom, lebih cepat dan hampir zero trust.
Akibat penggunaan AI Agentic, pekerjaan hacker menjadi semakin otonom. Serangan terjadi jauh lebih cepat, memaksa sistem keamanan dunia untuk beradaptasi ke arah yang sepenuhnya zero trust. Di era tidak ada satu pun entitas yang bisa dipercaya secara default sehingga mengadopsi arsitektur keamanan yang mengasumsikan komputer memeriksa satu per satu, baik itu manusia maupun non-manusia ( AI ).
7]. Batasan antara biometrik wajah manusia dan bot digital deepfake yang dibangun oleh AI akan disamaratakan.
Seluruh identitas akan sama dikenali oleh komputer dengan diberikan nomor penomoran, angka atau label masing masing personal pribadi.
KTP ( kartu tanda penduduk ) tidak lagi berlaku untuk mesin komputer. Tapi dikehidupan sehari hari, KTP tetap diperlukan.
Anda maupun AI akan masing masing diberikan nomor, angka dan label. Kemudian disimpan pada memory di cloud computing sebagai identitas yang disamakan antara manusia dan robot AI digital.
Misalkan di KTP nama saya adalah : AFRID.
Maka di mesin komputer. Identitas saya dan wajah saya yang direkam melalui kamera smartphone bakal dikenal atau diberikan label oleh mesin sebagai : A157C 99TXYZ berdasarkan face biometrik tersebut.
Ada hampir 8,2 miliar orang di bumi. Komputer akan memberikan label nomor masing masing penduduk dunia. Termasuk identitas otoritas AI juga bakal diberikan label masing masing oleh komputer sebagai tanda hak izin masuk ( login ).
Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.
