Perusahaan Amerika Serikat Apple akuisisi Q.ai Israel senilai $ 2 miliar dolar atau Rp 33 triliun [ teknologi AI dalam memahami bisikan bayangan samar samar dan memantau isyarat wajah dalam hamburan gangguan yang menantang ] ( 2026 )
Ada banyak sepasang kekasih ketika melakukan panggilan telepon jarak jauh di malam hari.
Karena ngga pengen percakapan mereka terdengar oleh orang tua atau keluarga di rumah. Kedua pasangan sering berbicara dengan suara yang pelan berupa bisikan tipis tipis kecil.
Kedua kekasih paham apa yang mereka bicarakan, walaupun sambil berbisik bisik di smartphone. Tapi bagi AI itu menantang untuk memahaminya.
Belum lagi jika pasangan kekasih menggunakan bahasa cinta pribadi personal yang lebay dan tidak terdaftar di kamus bahasa indonesia seperti istilah "cayyang", "cimumut ya", "aqyu cuka ama kmyu”, “uddah maam ya ayang”, "loe gue and'. dll.
Bagi dua orang kekasih tadi. Itu biasa. Tetapi bagi AI, itu sulit dipahami.
Tantangan AI tidak hanya berhenti pada kasus rumit diatas.
Beberapa orang menyadari bahwa aktivitas mereka seperti menelpon dan video call dipantau oleh AI. Untuk menghindarinya, beberapa orang memilih berkomunikasi tanpa suara sama sekali. Hanya menggunakan gerakan bibir, lidah, wajah, hingga anggukan kepala yang bersifat pribadi dan bukan merupakan bahasa isyarat umum seperti yang terdaftar di SIBI atau BISINDO.
AI dapat paham Speechreading untuk kalangan tunarungu.
Tapi AI "tidak mengerti & tidak paham" jika dihadapkan pada isyarat personalisasi luar yang diciptakan sendiri oleh kalangan tersendiri yang sengaja menghindar agar tidak terpantau AI.
Perusahaan Amerika Serikat Apple akuisisi Q.ai Israel senilai $ 2 miliar dolar atau Rp 33 triliun.
Sejarah ilmu komputer berkembang selama berdekade dekade.
Pada awalnya membangun algoritma dan segala macam hal untuk komputasi dimulai dengan membuat code program untuk mesin.
Oleh sebab itu, programer mengetik bahasa pemprograman, membuat, menciptakan dan mengkliknya ke dalam bahasa mesin komputer.
Namun waktu terus bergerak maju dari yang tadinya memaksa agar programer supaya mengerti algoritma dengan miliaran baris code.
Sekarang terbalik, kini coding algoritma telah menjelma menjadi AI.
AI dipaksa untuk mengerti, memahami dan mengetahui kita ( manusia ).
Jika dulu, programer manusia dipaksa memahami mesin. Sekarang di tahun 2026. Giliran AI yang harus dipaksa memahami manusia.
Perusahaan teknologi Israel Q.ai bergerak di bidang kecerdasan buatan di bidang tersebut yang dapat memahami bahasa lebay, bahasa bucin yang tidak jelas dengan memaksa AI memahaminya.
Memaksa AI mengerti bisikan bahkan tanpa perlu anda ucapkan dengan suara.
Sekaligus mendeteksi gerakan raut otot wajah dan mampu mengetahui ucapan suara audio walaupun dalam kondisi ( noise ) hamburan bunyi suara ramai yang menantang. Seperti suara motor, mobil, hujan deras, dll.
Q.ai juga mampu mengetahui ucapan seseorang walaupun sedang menggunakan mikropon dan alat audio & camera video di smartphone dalam keadaan agak rusak.
Pada tahun 2026.
Perusahaan Apple asal Amerika Serikat secara resmi mengakuisisi perusahaan Israel Q.ai senilai $ 2 miliar atau setara Rp 33 triliun rupiah.
Setelah akuisisi, blueprint teknologi Q.ai diserahkan ke Apple.
Situs website dan kantor pusat Q.ai ditutup permanen.
Jumlah karyawan : 100 orang.
Tujuan Apple akuisisi Q.ai
Dalam sejarah Apple. Q.ai merupakan perusahaan teknologi ke 2 termahal yang pernah diakuisisi oleh Apple. Setelah Beats yang diakuisisi pada tahun 2014 yang lalu ( Beats kini berubah nama menjadi beatsbydre.com ).
Q.ai didirikan oleh 3 founder asal Israel.
Bernama : Aviad maizels, Yonatan wexler dan avi barliya.
Alasan utama Apple mengakuisisi Q.ai yaitu demi meningkatkan kecanggihan audio dan mengintegrasikannya ke AI untuk memperkuat analisis suara pada jajaran produknya.
Sesungguhnya, Apple tidak asing dengan salah satu founder Q.ai. Bernama Aviad maizels, beliau pernah menciptakan teknologi Primesense Kinect. ( Sudah diakuisisi Apple tahun 2013 ).
Teknologi Israel Primesense kini berubah menjelma menjadi FaceID yang ada di iPhone anda.
Yaitu autentikasi biometrik face recognition pengenalan wajah via truedept yang memproyeksikan ribuan sinar titik infrared diterpa ke wajah sambil otomatis memetakan secara 3D untuk pembukaan kunci iPhone, iPad, alat pembayaran digital dan otentikasi aplikasi lainnya di iOS App Store.
![]() |
| Foto : Aviad maizels, beliau berasal dari lulusan universitas Technion Israel di bidang ilmu komputer |
Aviad maizels, founder Q.ai dari Israel mengatakan :
Kami mempercepat penelitian yang seharusnya memakan waktu 20 tahun. Saya juga menyampaikan rasa terima kasih kepada founder lainnya, tim bersama dan investor yang telah membantu mewujudkan visi tersebut. Sahutnya.
Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.



