Skip to main content

Donasi : Bank BCA 8600171012 [ terima kasih ]

BITCOIN : bc1q63a8aznadpfmzac67rt5eeyl4gsg6qq2r3mc9x

Reksadana VS Investing.com: Mana yang Lebih Cuan ?



Tadi pas lagi jalan jalan di Youtube. 

Saya ngga sengaja ketemu channel milik mas David Alfa Sunarna.

Disitu beliau menjelaskan tentang langganan Pro Investing.com

Sebenarnya, Afrid Fransisco pernah beberapa kali mengunjungi situs investing.com. 

Tapi tidak mengetahui ada fitur berbayar Pro disana.

Informasi detailnya bisa teman teman simak di video bawah ini ya. 


Data statistik dan fakta grafik telah menunjjukkan bahwa rupiah terus melemah sejak dirilis pada tanggal 30 Oktober 1946. 

Di mulai awalnya dari Rp 1 mengalami pelemahan hingga menjadi Rp 17.000 di tahun 2026.

Jika tidak ada perbaikan. Maka potensi rupiah melemah jadi Rp 20.000 di masa depan.

Artinya, kalau terus begini maka dompet rakyat Indonesia secara makro ekonomi akan terganggu akibat pelemahan mata uang. 

Nah, solusi untuk mencegah melemahnya mata uang rupiah. Bagi beberapa orang memutuskan untuk berinvestasi di saham, emas, perak, crypto, tanah, real estate, indeks, reksadana, dll.

Terutama untuk reksadana. Mayoritas orang orang di Indonesia begitu familiar dan paham tentang instrument ini.

Namun, di era kecerdasan buatan AI. Platform analitik berbayar seperti Investing.com patut masuk ke kandidat sebagai pilihan.

Reksadana : Terima Beres, Minim Stress dan 100% dikelola oleh tim profesional.

Reksadana merupakan salah satu investasi populer bagi banyak orang Indonesia. 

Tanpa perlu kita repot berpikir, tinggal terima beres aja. 

Karena hampir semua manajemen dikelola 100% oleh orang orang hebat yang ahli di dunia saham ( atau disebut juga manajer profesional ( MI ) ).

Tidak perlu pusing, tidak perlu cek saham satu per satu, tidak perlu baca laporan keuangan, tidak perlu analisis, tidak perlu paham ekonomi makro, tidak perlu mengerti geopolitik, tidak perlu menghitung, dll.

Tapi reksadana tidak gratis.

Ada harga yang harus dibayar. 

Platform reksadana biasanya membebankan biaya pengelolaan (management fee) berkisar antara 1% hingga 5% per tahun. Biaya ini biasanya sudah dipotong langsung dari Nilai Aktiva Bersih (NAB). 

Artinya, entah pasar sedang bullish (naik) atau bearish (turun), pemotongan biaya persentase terus berjalan menggerus profit.

Investing.com : Menyerupai alat bantu X-ray tapi untuk memindai dunia saham.

Berlangganan fitur pro di Investing.com

Ini ibarat punya mesin X-ray. 

Menghadirkan layar dasbor navigasi cerdas dan otomatis. Dibangun, dianalisis & dibuat oleh perpaduan antara mesin AI dan tim orang orang profesional di dunia saham.

Pada tahun 2026. Harga langganan Pro di investing sebesar Rp 79.000 ribu.

Oh ya, Investing.com sama sekali tidak mirip seperti reksadana.

Investing.com menyediakan alat analitik saham.

Berikut beberapa fitur unggulan Investing.com menurut mas David Alfa Sunarna.

  • Nilai Wajar (Fair Value): Platform memberi tahu tentang sebuah saham yang kemahalan (overvalued) atau saham yang sedang diskon untuk layak dibeli (undervalued). Jadi jangan asal pilih saham, celetuk mas David. 

  • Kecerdasan Buatan (AI): Data diolah otomatis oleh AI untuk memberikan skor kesehatan finansial masing masing emiten. Lalu tersedia 2 jenis AI. Yaitu AI Propicks untuk membantu menyusun strategi dan AI Warren untuk ngobrol bersama AI yang berfokus spesialis hanya pada dunia saham. Seperti ngomong tentang rangkuman teknikal, fundamental, dan memberitahu informasi terkini tentang emiten tersebut.

  • Mengintip portofolio investor hebat seperti Warren Buffet, Bill Gates : Bisa kepoin daftar portofolio saham yang sedang dipegang oleh orang orang hebat yang pergerakannya di update rutin oleh AI. Lalu jika mau tinggal contek aja.

Mana yang lebih cuan

Reksadana memotong biaya berdasarkan persentase.

Jika modal Rp 1.000.000 kena potongan 2% maka cuma dipotong Rp 20.000 per tahun.

Tapi bagaimana jika portofolio sudah bertumbuh mencapai Rp 100.000.000. Maka biaya 2% itu bisa terasa banyak banget hingga memakan profit sampai Rp 2.000.000.

Sebaliknya, Investing.com menggunakan biaya langganan bulanan.

Biaya langganan tetap sama. 

Tidak peduli uang portofolio Rp 1.000.000 juta atau Rp 100.000.000 juta keatas.

Namun harga langganan berbeda tergantung jumlah emiten yang pengen dianalitik.

Rp 79.000 untuk menganalisis 100 saham Amerika Serikat.

Rp 199.000 untuk menganalisi 1.200 saham Amerika Serikat.

Keunggulan fleksibilitas pada investing.com

Reksadana mengikat kontrol 100% mutlak hanya pada tim MI profesional ( manajer investasi ). 

Tidak bisa diganggu gugat dan tidak bisa diintervensi.

Sedangkan investing.com seperti pembahasan diatas, ibarat mesin X-ray untuk membantu menganalisis dan membantu menghitung. Tapi keputusan akhir dan kontrol penuh buy & sell saham tetap ada pada diri sendiri.

Jadi, jika teman teman ngga punya waktu, terlalu sibuk bekerja sampai tidak punya kesempatan untuk membaca laporan keuangan dan memang tidak pandai secara finansial. Maka reksadana begiu cocok banget.

Tapi jika, teman teman pengen serius belajar ekonomi dan mau mengambil alih takdir finansial yang menentukan keputusan akhir adalah diri sendiri. Maka berlangganan investing.com cocok banget ya.

InvestingPro menyediakan kontrol penuh 100% ada di tangan diri sendiri.

Alat bantu berbasis AI sudah tersedia disajikan oleh investing.com.

Tapi menentukan takdir dan memencet tombol sebagai keputusan akhir untuk buy & sell saham adalah diri sendiri.

Bersama investing.com. 

Tentukan berdasarkan keyakinan diri sendiri. 

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.