Amerika Serikat Quarterhorse : Pesawat Tempur Drone Tanpa Awak Bermesin Turbojet Berkecepatan 1.481 km/jam (2026)
Selama bertahun tahun, mayoritas drone tanpa awak di seluruh dunia mengandalkan mesin konvensional seperti piston rotary engine yaitu menggunakan baling baling bambu.
Mesinnya agak mirip seperti mesin mobil, tapi versi drone agak berbeda desain, energi pakai konsumsi minyak avtur dan diberi tambahan baling baling.
Penggunaan mesin diesel piston rotary dipilih oleh pesawat drone karena lebih hemat bahan bakar sehingga drone bisa terbang dengan durasi waktu yang lama hingga 12 jam - 45 jam.
Tapi kelemahan mesin drone ini terbangnya lambat mulai dari 150 km/jam sampai 750 km/jam saja.
Tidak bisa cepat lebih dari itu.
Drone tradisional tidak dapat terbang tinggi dan tidak bisa terbang cepat seperti pesawat UFO.
Padahal di medan tempur modern, drone yang terbang lambat menjadikannya sasaran target empuk bagi sistem pertahanan udara lawan, bahkan drone bisa di tembak oleh ishowspeed dengan membawa rudal Manpads dipanggulnya.
Hermeus Quarterhorse : Dobrakan Mesin Turbojet.
Pada Februari 2026, Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Hermeus melakukan debut penerbangan pesawat drone Quarterhorse.
Hasilnya menunjjukkan pesawat drone Quarterhorse menembus kecepatan supersonik dengan kecepatan Mach 1,2 ( 1.481 km/jam ). Ini disaksikan langsung oleh tim dari rombongan kementerian perang AS.
Pencapaian ini dianggap penting.
Karena selama bertahun tahun, belum pernah ada drone terbang secepat itu.
Pada tahun 2013. Pesawat tempur F-16 pernah dimodifikasi menjadi QF-16 tanpa awak oleh perusahaan Boeing di pangkalan Tyndall untuk melakukan penerbangan jarak jauh tanpa pilot manusia. Namun secara teknis masih memiliki banyak kekurangan.
Perusahaan Hermeus merombak total desain pesawat.
Secara arsitektur, Quarterhorse sejatinya adalah pesawat F-16 Fighting Falcon yang diubah menjadi tanpa awak. Ukuran besarnya hampir sama dengan F-16, dan mesin yang digunakan pun identik, yaitu mesin turbojet atau disebut juga turbofan afterburner F100 buatan perusahaan RTX Technologies.
Namun, untuk meminimalkan hambatan udara, bentuk bodi pesawat dirombak ulang secara total agar menjadi aerodinamis. Karena sedikit saja ada benturan dengan udara atau angin dapat menghambat kecepatan drone secara signifikan.
Body F-16 maupun body F-15 yang ada saat ini tidak cocok dijadikan pesawat tanpa awak.
Jadi, Hermeus menghapus body ruangan kokpit untuk pilot manusia.
Lalu sepenuhnya diganti oleh Kecerdasan Buatan (AI).
Sayap diganti menjadi versi sayap delta.
Seluruh struktur bodi pesawat juga dirancang khusus agar kebal terhadap panas ekstrem akibat gesekan dengan udara saat melaju kencang. Lalu segala hal yang berat diganti menjadi ringan tapi tetap kuat.
Alih alih pesawat drone pakai mesin piston rotary engine.
Hermeus menggunakan mesin turbojet F100 yang sama persis digunakan oleh F-16 dan F-15.
Zach Shore, CEO Hermeus dari Amerika Serikat mengatakan :
“Anda sedang melihat sesuatu yang pada dasarnya adalah F-16 tanpa awak. Setelah seri ini selesai, pekerjaan selanjutnya memiliki F-16 tanpa awak yang dapat mencapai kecepatan Mach 3'. Sahutnya.
![]() |
| Foto : Ilustrasi Darkhorse, pesawat tempur drone tanpa awak Amerika Serikat |
Quarterhorse hanya langkah awal menuju Darkhorse.
Perlu dipahami bahwa proyek Quarterhorse hanyalah awalnya saja.
Target utama dari perusahaan Hermeus adalah menciptakan Darkhorse. Yaitu pesawat tempur impian masa depan yang dirancang untuk melesat hingga kecepatan hipersonik Mach 5 atau sekitar 6.174 km/jam.
Pesawat Darkhorse kelak didedikasikan untuk digunakan oleh Angkatan Bersenjata Amerika Serikat melalui kementerian perang guna misi pertahanan, peperangan, keamanan, serta menjaga marwah kedaulatan negara AS dari antek antek asing.
Untuk mencapai tujuan visi impian tersebut.
Hermeus sedang berupaya menciptakan mesin ramjet baru revolusioner yang disebut Chimera.
Yaitu dengan menggabungkan 2 unit mesin ( F100 ). Lalu ditambah dengan mesin ramjet chimera dibelakangnya sehingga diharapkan mampu mempercepat kecepatan drone hingga mach 5.
Chimera tidak perlu menciptakan mesin turbojet yang baru, cukup pakai apa yang sudah ada di Amerika Serikat yaitu mesin F100 sebagai inti. Lalu dimodifikasi dan ditambah 2 unit mesin ramjet ciptaan Hermeus pada bagian belakang sehingga memicu kecepatan hipersonik.
Pesawat tempur drone berkecepatan tinggi.
Amerika Serikat sedang bekerja keras mempercepat lompatan dari drone terbang lambat menjadi drone terbang cepat dan mampu melawan manuver gravitasi 9G.
Perkembangan teknologi militer mempertegas maraknya penggunaan mesin turbo jet dan otonomi berbasis artificial intelligence.
Pada tahun 2024 di platform X.com.
Melalui unggahannya, Musk mengklaim dan menyebut bahwa perusahaan industri militer yang masih terus menciptakan, mendesain, merancang, dan membangun pesawat tempur berawak sebagai kumpulan orang orang bodoh.
Menurut Elon musk.
Pesawat tempur yang dipiloti oleh manusia hanya akan membuat pilotnya terbunuh oleh serangan drone.
Hal senada juga menjadi keyakinan saya.
Pesawat tempur berawak memang sudah ketinggalan zaman ("usang") dan tidak efisien lagi di era modern.
Namun, ini bukan berarti pesawat penumpang sipil akan sepenuhnya dikendalikan AI.
Pesawat sipil tetap menggunakan pilot manusia demi keamanan dan faktor psikologis emosi penumpang yang takut jika dipiloti oleh AI.
Tetapi untuk urusan perang. Pesawat tempur saya yakin sepenuhnya dikendalikan tanpa awak oleh AI.
Artinya di masa depan, pesawat jet tempur berawak seperti F-15, F-16, F-18, F-22, F-35, dll tidak mampu lagi menghadapi kekuatan, kecepatan, dan ketepatan manuver dari pesawat tempur drone berbasis AI.
Artinya jika sekalipun pesawat drone berbasis AI tertembak jatuh. Pemerintah Amerika Serikat tidak perlu repot repot untuk menyelamatkan nyawa pilot manusia saat berada di wilayah musuh.
Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.


