Skip to main content

Perang Masa Depan Tidak Lagi Melibatkan Lebih Banyak Tentara Manusia. Tapi Melibatkan Lebih Banyak Mesin, Drone Swarm Bunuh Diri, Drone Kamikaze, Robotika, Rudal, dan AI Otonom (2026)

Paradigma kuno dan pikiran tua yang klasik yang mengatakan bahwa sebuah negara dapat memenangkan pertempuran perang modern dengan mengandalkan kuantitas dari ukuran jumlah rekrutmen polisi dalam jumlah banyak dan meningkatkan jumlah rekrutmen tentara manusia dalam jumlah masif hingga jutaan orang.

Mereka berpendapat bahwa semakin banyak memiliki jumlah jutaan tentara & polisi.

Jika dan apabila amit amit terjadi perang melawan negara lain, maka musuh akan kalah.

Namun dengan kemajuan teknologi dan kecanggihan senjata abadi ini.

Anggapan kemenangan hanya ditentukan oleh jumlah keanggotaan yang banyak dari seragam hijau dan seragam cokelat patut untuk dipertanyakan...?

Perubahaan fakta dan perspektif dari revolusi teknologi persenjataan dari lahirnya inovasi kecerdasan buatan atau AI. Seperti yang dikembangkan, diciptakan dan digagas oleh perusahaan asal Amerika Serikat Anduril Industries.

Konflik antara Rusia VS Ukraina. Memperlihatkan gambaran nyata tentang bagaimana sebuah teknologi drone kamikaze bunuh diri berbasis AI yang disebut ZALA LANCET.

Diproduksi oleh anak perusahaan Kalashnikov Concern dari induk BUMN ROSTEC Russia.

Drone Lancet milik Rusia dengan ganas telah membunuh jutaan tentara manusia Ukraina.

Hal yang sama terjadi. 

Dimana pihak Ukraina menggunakan drone FVP komersial yang dilengkapi hulu ledak bom dan dipasang kabel fiber optic guna membunuh jutaan tentara Rusia.

Mayoritas tentara Ukraina dan Rusia, sama sama dibunuh oleh drone kamikaze bunuh diri dan diserang oleh drone FVP pembawa bom.

Menurut CSIS. Jumlah korban kematian kedua belah pihak telah mencapai lebih dari 2.000.000 juta tentara. Pelaku utama pembunuhnya adalah drone.

Kisah nyata perang Rusia VS Ukraina. Menurut saya, inilah awal dari era perang modern yang lebih banyak melibatkan Mesin, Drone Swarm Bunuh Diri, Drone Kamikaze, Robotika, Rudal, dan AI Otonom.

Peperangan telah berevolusi dari adu kekuatan fisik antara manusia menjadi adu keunggulan algoritma, robotika, dan teknologi.

Alih alih memperbanyak tentara manusia, lebih baik perbanyak teknologi senjata.

Palmer Luckey, founder dari perusahaan Anduril Industries mengatakan :

Perang modern masa depan akan sepenuhnya didominasi oleh kecerdasan buatan (AI), sistem otonom, dan drone murah yang diproduksi massal untuk menggantikan alutsista tradisional yang mahal. Sahutnya.

Selain itu, beliau juga berargumen bahwa perang masa depan dapat dimenangkan dengan cara menjadikan industri senjata sebagai kekuatan produksi weapon dan gudang persenjataan dalam skala masif untuk memproduksi jutaan drone dengan lebih cepat, lebih canggih dan lebih murah. Beliau menyebutnya sebagai WORLD GUN STORE.

Melalui perusahaan Anduril Industries yang beliau dirikan. Menunjjukan bahwa lebih baik memiliki jutaan drone dan jutaan senjata otonom.

AI otonom yang terinstal pada drone mampu memproses data sensor secara realtime, memetakan sasaran target musuh, menganalisis ancaman (Approaching Threat), dan mengambil keputusan taktis dalam hitungan milidetik, seperti melindungi keberadaan tentara manusia dengan menjadikan drone sebagai umpan tumbal.

Bukan berarti tentara manusia tidak lagi dibutuhkan, hanya saja jumlah rekrutmennya akan diperkecil atau dikurangi. Tentara manusia tetap dibutuhkan untuk mengambil keputusan akhir yang strategis harus tetap di tangan tentara manusia, sementara eksekusi penghancuran, pengosongan & pemboman dilakukan oleh mesin dan AI secara mandiri, ketika perintah telah disetujui oleh tentara manusia.

Selain itu, tugas misi yang berbahaya dan berisiko di garis depan, diserahkan kepada mesin. Lalu disusul oleh tentara manusia. Seperti yang ditunjjukan dalam integrasi dengan AI ARIEL. Yaitu formasi terintegrasi antara human and machine berbasis AI yang dikembangkan oleh perusahaan Israel Aerospace Industries.

Menunjjukkan kaloborasi antar semua alustista dari drone darat dan drone udara. Memadukan seluruh multi sensor, radar, kamera electro optic dan alat komputer lainnya untuk secara otonom mendeteksi, mengklasifikasi, mengintai, memprioritaskan dan mengeksekusi musuh.

Negara yang ingin memenangkan peperangan di masa depan harus memiliki industri pertahanan yang kuat, kemampuan memproduksi drone dalam jumlah banyak, teknologi semikonduktor, AI, satelit, sistem komunikasi serta kapasitas manufaktur rudal dan robotika dalam jumlah banyak.

Perang abad ke-21 adalah masa ketika perang telah berubah dari perang yang didominasi manusia menjadi perang yang didominasi oleh teknologi.

Mesin memang tidak akan sepenuhnya menggantikan tentara manusia, tetapi mesin dan AI akan mengurangi jumlah tentara manusia menjadi agak sedikit.

Kendati demikian, kekuatan utama yang menentukan siapa yang unggul di medan perang modern yaitu siapa yang mampu menguasai teknologi tanpa perlu mengandalkan jumlah personal militernya yang banyak yang hanya seringkali membuat APBN boncos akibat membayar gaji dan tunjangan mereka yang tidak perlu.

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU. 

Donasi : Bank BCA 8600171012 [ terima kasih ]

BITCOIN : bc1q63a8aznadpfmzac67rt5eeyl4gsg6qq2r3mc9x