Kenapa Israel Harus Melepas Kota Eilat untuk Mundur 100 KM Menuju Negev dan Amerika Serikat Harus Melepas Alaska (2026)
![]() |
| Foto : Kota Eilat Israel |
Sejak abad pertengahan hingga era modern, parameter kejayaan suatu negara hampir identik dan diukur dari luas wilayah yang besar.
Semakin besar, luas, megah dan panjang ukuran garis perbatasan pada peta dunia, maka semakin besar kebanggaan nasionalismenya.
Hal ini juga sempat menjadi pemikiran Afrid Fransisco kala itu. Bahwa ukuran besar bisa menentukan kemenangan, keagungan dan kekuatan.
Namun sejak menulis postingan artikel berikut ini. Saya salah dan berubah pikiran.
Di tahun 2026. Peperangan berkecamuk menandai strategi asimetris, krisis perubahan iklim global warming dan efisiensi anggaran APBN.
Doktrin lama tentang ekspansi teritorial yang luas dan besar harus diperhitungkan ulang dengan menghitung kalkulasinya melalui beban operasional APBN, ekonomi dan kelayakan finansial.
Bagaimana jika kekuatan sebuah negara di era modern justru terletak pada keberaniannya untuk memperkecil perbatasan ?
Bagaimana jika melepaskan beberapa wilayah yang terisolasi, sepi penduduk dan jauh dari pusat kota utama dan dengan berani menutup wilayah atau daerah yang tidak layak secara ekonomi dan militer tersebut. Justru menjadi cara ampuh rasional, realitis dan pragmatis untuk menyelamatkan stabilitas ekonomi APBN dan memperkuat pertahanan keamanan nasional dalam jangka panjang.
Dua contoh kasus dalam tesis, telah saya pikir pada kota Eilat dan kawasan selatan Israel disekitarnya di Laut Merah.
Artikel sebelumnya dapat anda baca di :
Kota Israel Eilat, Biaya Hidup Penduduk Yang Mahal dan Beban Logistik Yang Mahal.
Secara geografis dan ekonomi, Kota Eilat adalah sebuah titik terisolasi di ujung selatan di Israel yang dikelilingi medan gersang.
Jaraknya jauh dari pusat pemerintahan di ibukota Yerusalem. Kota Eilat berjarak sekitar 326 km dari Yerusalem jika ditempuh melalui jalan darat.
Kota ini berada di kawasan gurun pasir yang kering, gersang dan panas. Tantangan posisinya yang melewati kekeringan dan terik panas membuat biaya transportasi, logistik, air, energi listrik dan berbagai kebutuhan pembangunan harus terus disuplai jauh dari pusat keramaian ekonomi Israel.
Akibatnya, biaya rantai pasok barang ke wilayah ini menjadi mahal berkali kali lipat. Ditambah lagi iklim gurun padang pasir yang ekstrem disana. Jadi mempertahankan kehidupan perkotaan di Eilat membutuhkan APBN yang tidak sedikit.
Pada tahun 2024. Jumlah penduduk di kota Eilat dan sekitarnya mencapai hampir 100.000 ribu orang, namun di tahun 2026 telah anjlok menjadi kurang lebih 57.000 ribu orang. Hal ini terjadi akibat serangan drone kamikaze bunuh diri milik terorist Houthi dan rentetan serangan rudal balistik.
Mempertahankan garis batas yang menjorok jauh ke selatan memaksa militer IDF Israel harus menyebarkan alutsista sistem pertahanan udara Iron Dome & Barak di sepanjang koridor yang luas demi hanya melindungi 57.000 ribu orang.
Secara ekonomi itu membebani operasional baterei, radar, sensor, sistem peringatan dini dan alat teknologi pengawas lainnya memberikan efek pembengkakan biaya menjadi tambah mahal dan boros. Ujung ujungnya menteri pertahanan bakal memaksa menteri keuangan menganggarkan alokasi uang APBN yang lebih banyak untuk memberikan perlindungan ke area yang sesungguhnya zona sepi penduduk. Itu tidak efektif, tidak efesien dan boros.
Solusi rasional dari Afrid Fransisco untuk mengatasi beban ekonomi dan militer ini adalah keputusan berani pemerintah Israel untuk mundur sekitar 100 kilometer ke belakang. Lalu membangun dan menarik garis perbatasan baru di kawasan Negev.
Strategi ini memberikan 2 keuntungan. Yaitu :
Kepadatan Cakupan Kosentrasi Pertahanan Udara : Dengan mempersempit radius perbatasan sebesar 100 kilometer ke belakang, maka cakupan sistem pertahanan udara Iron Dome, Iron beam dan pertahanan multilapis lainnya dapat terkonsentrasi secara maksimal. Jarak perbatasan yang lebih pendek secara faktor ekonomi meningkatkan persentase keberhasilan pencegatan terhadap ancaman musuh.
Efisiensi Anggaran APBN Jangka Panjang : Biaya pembuatan, perawatan, dan penjagaan fisik tembok perbatasan baru di Negev jauh lebih pendek, sehingga lebih murah dibandingkan harus patroli dan merawat perbatasan yang berukuran panjang untuk menjaga Eilat.
Pelabuhan : Oh iya mas Afrid Fransisco. Tapi kan di Eilat ada pelabuhan. Jawab saya : Tidak penting, ditutup saja. Israel tidak butuh banyak pelabuhan kapal. Cukup pakai 2 unit saja. Yaitu pelabuhan Haifa dan pelabuhan Ashdod. Itu sudah lebih dari cukup.
Lalu bagaimana nasib sekitar 57.000 penduduk Eilat di kawasan selatan.
Solusinya Pemerintah Israel dapat membeli seluruh properti, rumah pribadi, apartemen, hingga hotel dengan harga ganti rugi yang layak menggunakan uang APBN.
Kemudian seluruh warga direlokasi berhak menerima bantuan sosial dalam bentuk gaji bulanan selama 2 tahun hingga mereka menetap dan berbaur di rumah baru yang dibangun di wilayah Negev, Tel Aviv, Jerusalem, Haifa atau kawasan Israel lainnya sesuai keinginan masing masing warga yang bebas memilih kebebasan pengen tinggal dimana.
Lalu apa yang terjadi dengan Kota Eilat dan kawasan selatan yang ditinggalkan ?
Kota tersebut dibiarkan kosong tanpa penduduk.
Biarkan kosong.
Hanya ada debu, pasir, terik panas matahari dan unta liar yang sedang santai menikmati ketenangan dan privasi di tempat kosong.
Tapi jika Mesir atau Yordania berniat memiliki tanah kosong tersebut untuk memperluas wilayah mereka supaya ukuran negaranya jadi tambah besar, luas & panjang.
Pemerintah Israel sebaiknya mempersilakan secara gratis dan cuma cuma tanpa memungut pembayaran sepeser pun.
Aku pikir, menyerahkan Eilat adalah taktik pengalihan beban operasional terbaik yang dapat dilakukan oleh pemerintah Israel. Daripada mempertahankannya bikin cape dan bikin boncos cuma menguras dompet APBN.
Lebih baik, kasih aja ke Mesir atau Yordania.
Semoga pihak tim pejabat di Israel dapat merundingkan ide Afrid Fransisco ini di meja rapat di ruang Knesset agar kelak dapat diterapkan dengan menjawab pertanyaan berikut ini :
Apakah sebuah negara Israel selalu menjadi lebih kuat apabila mempertahankan wilayah Eilat ?
Bagaimana kalau ternyata dalam kondisi tertentu justru menjadi lebih aman dan lebih efisien secara ekonomi apabila pemerintah Israel berani mengosongkan, melepas dan menutup Eilat. Sekilas gagasan ide Afrid Fransisco ini terlihat seperti kerugian besar dan bakal banyak rakyat Israel menolaknya.
Kasus Kedua : Amerika Serikat dan Paradoks Alaska
Logika pikiran yang sama terjadi di Amerika Serikat.
Amerika Serikat memiliki sebuah wilayah yang jaraknya jauh dari inti pusat negaranya. Yaitu : Alaska.
Dengan luas wilayah yang begitu masif dan besar.
Alaska hanya dihuni oleh sekitar 750 ribu penduduk saja.
Secara logistik, jarak Alaska terpisah ribuan kilometer dari ibu kota Washington dan jauh dari pusat industri pabrik utama sehingga menyebabkan biaya distribusi barang, rantai pasok menjadi melambung mahal karena jauh dari inti Amerika Serikat.
Alaska memang memiliki kekayaan alam SDA berlimpah yang luar biasa kaya raya. Seperti minyak, gas dan berbagai mineral rare earth element dan termasuk kaya terhadap hasil tambang emas, grafit, litium, tungsten, platinum, uranium, perak, tembaga dll.
Disisi lain. Secara militer, posisi Alaska berbatasan langsung dengan musuh bebuyutannya. Yaitu Rusia yang menjadi titik rentan dan kritis terus menerus menyedot anggaran APBN untuk memperkuat keamanan nasional disana demi sekedar melindungi populasinya yang sedikit banget disana.
![]() |
| Foto : Presiden AS, Donald Trump |
Di era kepemimpinan presiden Donald Trump. Muncul cita cita untuk menjadikan America Great Again dengan memperbesar ukuran luas Amerika Serikat dengan cara menguasai Kanada & Greenland.
Beberapa tahun yang lalu, Afrid Fransisco juga punya pemikiran serupa dengan Trump yaitu gagasan ekspansi memperluas wilayah teritorial menjadi lebih besar. Tapi fakta di lapangan yaitu : Kanada dengan tegas menolak dan Uni Eropa dengan tegas menolak memberikan Greenland ke AS.
Alih alih AS bermimpi menjadi lebih besar di tengah penolakan dari negara lain. Maka, Donald Trump harus berubah pikiran dengan bersikap pragmatis sesuai fakta kenyataan yang ada.
Trump tidak dapat mudah memaksa kehendak Kanada dan Uni Eropa yang dengan lantang berkata : MENOLAK.
Sekarang bagaimana jika Donald Trump harus mengikuti ide Afrid Fransisco berikutnya :
Tinggalkan niat untuk memiliki Kanada dan greenland.
Bagaimana langkah berikutnya, kalau Alaska justru dikosongkan saja ?
Bagaimana kalau penduduk Alaska dipindahkan saja ke inti Amerika Serikat utama ?
Meskipun Alaska kaya akan kandungan mineral, minyak, dan gas bumi, nilai ekonomis tersebut justru terkikis oleh tingginya biaya pengamanan militer dan risiko geopolitik akibat berdekatan langsung dengan Rusia.
Pengosongan Alaska dapat dilakukan melalui skema relokasi nasional yang terintegrasi :
Ganti Rugi : Pemerintahan Amerika Serikat membayar seluruh ganti rugi atas rumah, apartemen, hotel, dan fasilitas bisnis milik warga di Alaska.
Bantuan Sosial Transisi Selama 2 Tahun : Seluruh 750 ribu penduduk Alaska direlokasi ke wilayah inti daratan utama Amerika Serikat dan diberikan bantuan sosial bulanan selama 2 tahun melalui APBN sampai proses perpindahan terintegrasi secara sempurna.
Setelah seluruh populasi dipindahkan, wilayah Alaska dibiarkan kosong.
Apabila Kanada berminat untuk mengambil alih tanah kosong tersebut, Amerika Serikat dapat menyerahkannya secara gratis tanpa perlu Kanada membayar sepeser pun. Kanada juga berhak mengambil alih seluruh kekayaan flora, fauna dan SDA yang ada di Alaska.
Jika AS melepaskan Alaska. Afrid Fransisco percaya itu bukan bentuk kekalahan Trump, melainkan bentuk kemenangan rakyat Amerika Serikat secara keseluruhan dengan menghapus semua beban operasional dan tanggung jawabnya ke pemerintah Kanada.
Ukuran keberhasilan sebuah negara di abad modern ini. Tidak melulu ditentukan oleh seberapa luas peta yang dimiliki. Melainkan seberapa efisien, makmur, dan terlindunginya kawasan inti utama sebuah negara tersebut.
Dengan Israel mundur 100 kilometer ke Negev. Artinya Israel sedang memadatkan benteng pertahanan udaranya supaya dapat berfungsi & bekerja secara maksimal dengan biaya yang jauh lebih hemat APBN.
Dengan melepaskan Alaska ke Kanada, Amerika Serikat tidak kalah, melainkan sedang memotong beban rantai pasok yang mahal dan menghapus titik gesekan militer langsung dengan Rusia.
Strategi dan taktik bernegara yang matang di masa depan adalah kemampuan melihat futuristik dalam membedakan antara aset nasional yang nyata ( real ) dengan beban teritorial yang hanya memberikan Ilusi kekuatan yang sesungguhnya semu tapi dapat merusak & meyakitkan dari dalam bak seperti kanker yang menggerogoti.
Dengan Amerika Serikat mengecilkan dirinya. AS tidak kalah, malah justru sedang memperkuat dirinya dengan melepaskan tubuh yang sudah digerogoti kanker agar penyakit kanker tidak makin mencekik dan tidak makin menyebar lebih luas ke inti utama AS yang berpotensi menyebabkan kekalahan.
“Apakah luas wilayah masih merupakan indikator kekuatan negara pada abad ke-21”
Eilat dan Alaska hanyalah dua eksperimen pemikiran saya.
Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.


