Skip to main content

Rusia Upgrade Geran Generasi ke 5 Tanpa Sayap Delta [ Drone Kamikaze Bunuh Diri Rasa Rudal Jelajah ] (2026)

Drone Geran-1 atau disebut juga Geranium-1 pertama kali diperkenalkan secara operasional oleh pemerintah Rusia pada September 2022 selama invasi ke Ukraina.

Secara teknis, Geran-1 merupakan nama kode yang digunakan oleh militer Rusia untuk drone kamikaze Shahed yang dibikin oleh perusahaan Aircraft Manufacturing Industrial Company (HESA) di Iran.

Rusia membeli lisensi hak paten teknologi blueprint drone Iran tersebut. Kemudian membangun dan memproduksi massal Shahed dengan komponen buatan Rusia sendiri.

Setelah membeli lisensinya, para ilmuwan dan peneliti Rusia menemukan ada banyak cacat dan kelemahan elektronik ( bug ) pada Shahed.

Rusia memperbaiki kesalahan blueprint, merancang ulang, memodifikasi dan menambah beberapa komponen dari rantai pasok asing sehingga lahirlah varian Geran versi Rusia.

Foto : Geran 5 tanpa sayap delta

Evolusi Desain : Dari Baling-baling ke Mesin Jet.

Seiring berjalannya waktu, Rusia belajar beradaptasi dan mempelajari teknologi drone tersebut.

Awalnya, Geran 1 hanya berkecepatan 185 km/jam. Kecepatan ini secara rutin diupgrade dari tahun ke tahun. Mulai dari Geran versi 2 (250 km/jam), Geran versi 3 (370 km/jam), hingga di tahun 2026 melahirkan Geran 5 yang mampu melesat hingga kecepatan 600 km/jam.

Perubahan mencolok pada Geran-5 yaitu absennya sayap delta khas dari varian sebelumnya.

Foto : Geran generasi ke 4.

Desain bodi drone kamikaze Geran 5 di ubah total menjadi lebih ramping. Dengan tujuan menghemat bahan komposit pada sayap berbentuk segitiga yang boros dihilangkan agar menjadi lebih hemat dan lebih sedikit penggunaan material yang berujung pada penghematan uang. 

Disisi lain dengan menghapus sayap delta artinya memperkecil jejak radar ( radar cross section ) dan meningkatkan aerodinamika saat melaju dengan mesin turbo jet.

Spesifikasi drone kamikaze bunuh diri dengan rasa ala rudal jelajah.

Berikut adalah detail spesifikasinya:

  • Desain Bodi : Bersayap non delta.

  • Jenis Mesin : Turbojet TELEFLY TF-TJ2000A ( buatan China ).

  • Kecepatan : 600 km/jam.

  • Ketinggian Maksimum : Mampu terbang pada ketinggian 7 km.

  • Jangkauan Terbang : 1.000 km.

  • Lama terbang : 2 jam.

  • Hulu Ledak : Membawa bom internal seberat 90 kg.

  • Ketahanan : Anti jamming. Perangkat peperangan elektronik apapun akan gagal menghentikannya, sehingga satu satunya cara melumpuhkan yaitu harus dicegat dengan tembakan ( hard kill ).

Sebagai perbandingan, rudal jelajah seperti Tomahawk buatan Amerika Serikat berkecepatan 850 km/jam.

Meskipun Geran 5 kalah dari segi kecepatan dengan Tomahawk dan kalah dari segi membawa kapasitas hulu ledak bom.

Tapi drone bunuh diri buatan Rusia ini jauh lebih murah dan lebih efesien. Karena tidak membutuhkan mesin roket pendorong yang boros bahan bakar layaknya Tomahawk.

Tomahawk menggunakan mesin Williams F107. Saat meluncur Tomahawk membutuhkan roket pendorong berbahan bakar solid propellant booster yang mahal. Sedangkan Geran saat meluncur hanya pakai katapel peluncur catapult. Mesin TF-TJ2000A hanya pakai bensin Avtur saja yang melimpah di Rusia.

Waktu tempuh terbang Geran hanya butuh 1 jam 40 menit untuk mencapai target 1.000 km dan hanya 10 menit untuk mencapai target jarak (100 km).

Dari segi biaya, maka Geran 5 tergolong unggul, murah, efektif dan efesien dengan rasa hampir mirip seperti serangan rudal jelajah Tomahawk.

Reaksi di Garis Depan Sistem Pertahanan Ukraina.

Kecepatan Geran 5 menjadi momok menakutkan bagi Ukraina.

Ivan, seorang kapten tentara Ukraina yang mengoperasikan tank berpeluncur rudal pertahanan udara anti drone. Beliau mengakui bahwa Geran 5 jauh lebih berbahaya dan sulit dicegat.

Kecepatan drone kamikaze ini membuat waktu respons menjadi terlalu singkat. Apalagi jika diluncurkan dari perbatasan yang hanya berjarak 100 km, banyak drone bunuh diri akhirnya lolos lalu menghantam area perkotaan dengan cara bunuh diri.

Hal senada diungkapkan oleh Danylo Shengelskiy, tentara Ukraina :

"Shahed bermesin jet adalah masalah besar saat ini, terutama pada jarak 100 km dari perbatasan. Sayangnya, belum ada sistem pencegat yang efektif melawan ancaman ini dengan tingkat akurasi kepastian tinggi. Sahutnya.

Ekonomi Perang Rusia : Antara kenaikan Pajak, APBN dan Cadangan Devisa Cadev.

Pada tahun 2025. Pemerintah Rusia yang dipimpin oleh presiden Vladimir Putin telah mengalokasikan 32% dari APBN untuk belanja militer. Secara resmi di tahun 2025 yang lalu, Rusia sudah menggelontorkan ( 32% ) 13 triliun rubel RUB atau setara $ 161 miliar dolar atau Rp 2.458 untuk membiayai belanja perang selama kurun waktu 2025.

Pada tahun 2026. APBN Rusia mencapai 48 triliun rubel atau setara Rp 8.845 triliun rupiah.

Akibat sanksi dan boikot minyak dan gas dari pihak Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris United Kingdom dan negara sekutu NATO ( Kecuali Turkiye ).

Guna membiayai perang, pemerintah Rusia menerapkan langkah fiskal yang agresif.

Tarif pajak badan perusahaan korporasi di Rusia dinaikkan dari 20% menjadi 25%, sementara tarif pajak pertambahan nilai yang sebelumnya 20% merangkak naik menjadi 22%. 

Imbasnya, harga barang, produk dan kebutuhan sehari hari di supermarket, minimarket, pasar dan toko kelontong di Rusia ikut melambung tinggi guna dipakai buat mendanai peperangan.

Artinya, jika teman teman belanja di minimarket Rusia. 

Anggaplah, misalnya beli susu seharga Rp 100.000 ribu. Maka itu otomatis kena potong tarif tax pajak 22%, lalu uang potongan senilai Rp 22.000 ribu bakal dikirim dan masuk ke rekening kementerian keuangan Rusia.

Nah, uang pajak yang dikumpulkan di APBN ini, salah satunya dipakai untuk memproduksi dan membuat ribuan unit Geran generasi ke 5 setiap bulannya.

Jadi, saat rakyat Rusia sedang belanja dan saat sedang mengkomsumsi apapun dari pembelian belanja di toko, warung, minimarket, supermarket, pasar, dll. Tanpa disadari bisa dibilang seperti ikut menyumbang biaya buat perang guna mendanai tulang punggung militer.

Semakin banyak rakyat Rusia berbelanja, semakin banyak rakyat Rusia membeli barang dan mengkomsumsi apapun, artinya semakin besar sumbangan pajaknya kepada pemerintah Rusia. 

Hura hura hura.

Horas horas horas.

Kendati demikian, perang terus menerus, ketahanan finansial Rusia tidak goyah.

Pada akhir Agustus 2026, cadangan devisa pemerintah Rusia masih kuat di angka US$ 769 miliar (sekitar Rp 13.842 triliun).

Pemblokiran berhasil diatasi dengan cara mengalihkan penjualan minyak dan gas ke India, China dan negara yang berakhiran stan stan. Seperti Kazakhstan, Kirgistan, Pakistan, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan.

Lancarnya aktivitas jual beli ekspor impor dengan negara di kawasan Asia. Tidak mendapatkan hambatan apapun yang berarti bagi Rusia, perdagangan mengalir mulus lancar jaya, sementara disisi lain, pihak anggota kumpulan negara NATO sibuk memboikot Rusia. Tapi data cadev Rusia malah menunjjukkan keadaan perekonomian nasional Rusia yang masih kuat, tangguh dan strong.

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.