Skip to main content

Israel Tacsense : Teknologi Deteksi keberadaan Truk Radar Musuh Tanpa Pesawat AWACS yang Mahal [ Sulap Alat Berukuran Besar Jadi Seukuran Tas Koper ] 2026

Dalam teatrikal peperangan modern abad ke-21, supremasi udara tidak lagi sekadar ditentukan oleh keberadaan kepemilikan alustista yang terlihat bergengsi, keren, wow dan enak dipandang karena fisiknya yang terlihat berukuran besar dan bobotnya yang berat seolah olah terlihat gagah & mewah. 

Selama puluhan tahun berdekade dekade.

Doktrin militer klasik tradisional selalu bergantung pada pesawat udara bernama AWACS (Airborne Warning and Control System) untuk menjalankan misi Electronic Support Measures (ESM) dan Electronic Intelligence (ELINT).

Pesawat berukuran besar, megah, mewah dan wow ini dianggap berkelas dan bergengsi. Menimbulkan decak kekaguman pada pemilik alustista bahwa terlihat hebat dan terkesan luar biasa keren jika pemerintah anda punya pesawat perang ini. 

Namun, tahukah anda. 

Bahwa ada 1 masalah besar dari raksasa udara ini...? 

Yaitu menguras kantong APBN secara brutal. 

1 unit AWACS harganya bisa menembus angka di atas $500 juta dolar  atau setara dengan Rp 8,5 triliun.

Memang benar, beberapa negara berkantong pas pasan beralih pada platform yang agak sedikit lebih terjangkau seperti pesawat pengintai khusus JSTARS (Joint Surveillance Target Attack Radar System) atau armada ISTAR lainnya (Intelligence, Surveillance, Target Acquisition, and Reconnaissance).

Tetapi, harga per unitnya masih tetap saja mencekik APBN. Yakni harga berkisar antara Rp 3,8 triliun sampai Rp 6,2 triliun. 

Angka ini belum mencakup biaya perawatan ( maintenance overhauls ), konsumsi minyak BBM avtur dalam jumlah liter yang masif dan biaya pelatihan puluhan kru tentara manusia di dalamnya.

Demi memproduksi, memperoleh, membeli, maintenance dan mengoperasikan pesawat militer mahal ini. Banyak negara rela menggelontorkan alokasi uang APBN untuk belanja pesawat ini dengan mengorbankan alokasi anggaran APBN lainnya. Seperti memotong gaji guru, memotong gaji perawat, menurunkan gaji pejabat, dll dan menghemat belanja APBN lainnya seperti menghemat biaya pendidikan, biaya kesehatan, menghemat biaya infrastruktur, dll untuk demi membeli si pesawat bongsor ini.  

Alasan mengapa pesawat ini harus berukuran besar adalah karena perangkat ESM dan ELINT tradisional yang berfungsi sebagai alat elektronik untuk mendeteksi pancaran radar musuh. Memiliki fisik body yang besar juga, berbobot berat dan membutuhkan suplai daya energi listrik dalam jumlah besar agar perangkat bisa terus menyala dan berfungsi.

Selama ini. Para insinyur, ilmuwan peneliti dan profesor doktor mengira bahwa mustahil meminiaturisasi perangkat intelijen sinyal sekompleks itu ke ukuran yang lebih kecil.

Foto : Tacsense

Israel Tacsense

Israel Aerospace Industries (IAI), sebuah perusahaan BUMN yang berasal dari kawasan Timur Tengah, Israel. 

IAI telah berhasil memecahkan & mendobrak hukum fisika peperangan elektronika melalui sistem berpusat jaringan bernama TacSense (dengan kode ELI8395). Ini adalah miniaturisasi tingkat tinggi dengan menyulap perangkat raksasa ESM/ELINT yang tadinya seukuran kabin pesawat menjadi seukuran tas koper. 

TacSense diciptakan dengan mengikuti kaidah parameter SWaP ( Size, Weight, and Power ). Artinya, ukurannya ultra kompak, bobotnya lebih ringan dan daya konsumsi listriknya lebih minim, namun memiliki kemampuan intersepsi yang setara dengan instrumen ESM di pesawat AWACS berukuran bongsor.

Tacsense bersifat 100% pasif ( Passive Emitter Tracking ). Tanpa memancarkan satu pun sinyal yang bisa melacak balik keberadaannya.

Alat TacSense ini mampu mendeteksi, mencegat (intercept), dan mengidentifikasi profil sinyal radar aktif milik musuh dengan melakukan triangulasi presisi untuk menentukan titik koordinat pasti ( geolocate ) seperti menemukan keberadaan truk radar musuh atau mencari keberadaan infrastuktur radar musuh lainnya. Entah itu berbentuk kecil, sedang maupun besar.

Termasuk radar kecil milik musuh yang dikamuflase atau disembunyikan samar samar di balik jendela gedung atau dibalik jendela rumah rumah penduduk sehingga penglihatan kamera elektro optik EO seringkali kesulitan mengetahuinya. Tetapi melalui Tacsense, posisi keberadaan radar musuh kini dapat dideteksi untuk kemudian ditindaklanjuti dengan cara menghancurkannya melalui serangan rudal, artileri, bom atau dengan mengirim drone kamikaze bunuh diri.

Pada umumnya, dimana ada radar musuh, disitu di dekatnya juga ada gerombolan tentara infranteri musuh. 

Cara kerja output dari instrumen Tacsense, langsung diolah dengan kecerdasan buatan AI untuk menghasilkan Electronic Order of Battle ( EOB ). Yaitu manajemen kesadaran situasional ( Situational Awareness ) digital realtime yang membeberkan keberadaan persembunyian musuh, sekaligus menganalisis ELINT dengan mendalam untuk menetralisir ancaman sebelum musuh menyadarinya dan analisis terhadap sinyal yang dapat dicegat oleh perangkat efektor pencegatan.

Melalui TacSense, dogma lama telah gugur. Pesawat AWACS maupun pesawat militer khusus berharga triliunan rupiah kini tidak perlu lagi digunakan. 

Alat seukuran tas koper ini kini bisa dipasang atau (diinstalasi) pada platform pesawat drone lainnya. Seperti Heron MK II buatan IAI yang harganya hanya sekitar $10 juta dolar atau setara Rp 155 miliar.

Misi militer yang tadinya pakai pesawat seharga Rp 3,5 triliun sampai diatas Rp 8,5 triliun. Sudah tidak lagi diperlukan dan berubah menjadi produk SAMPAH. 

TacSense berbentuk plug & play yang modular sehingga dapat dipasang pada helikopter tempur, pesawat tempur seperti F-16, F-15 dan F-35, 

Perusahaan IAI juga telah menyediakan varian kembarannya yaitu BlueSense untuk diintegrasikan atau dipasang pada kapal perang Angkatan Laut untuk menggantikan perangkat yang berat, boros listrik dan mahal. 

Tacsense selain mampu menjalankan pertempuran elektronik, disisi lain juga mampu mengamankan uang APBN sebuah negara dari kebangkrutan tanpa mengorbankan kualitas produk. 

TacSense berbentuk platform kecil, ringan, hemat listrik dan efisien justru adalah senjata yang tangguh.

Inilah masa depan generasi teknologi berikutnya yang mendisrupsi teknologi lama yang sudah usang, boros, tidak efektif, mencekik APBN, menyebabkan pemerintah diberbagai negara mengalami utang skala raksasa secara sempoyongan dan biaya menghandle operasional alustista yang mahal.

Tacsense, teknologi next level yang mengubah persepsi itu sudah ada disini di tahun 2026. 

Masa depan peperangan sudah ada disini. 

Youtube : Israel Tacsense

Tentang IAI :

Israel Aerospace Industries adalah perusahaan BUMN plat merah yang 100% sahamnya dikuasai oleh pemerintah Israel. 

IAI merupakan perusahaan alustista militer persenjataan terbesar ke 2 di Israel setelah Elbit System. 

IAI memiliki markas pusat di Israel dengan luas perusahaan seluas 93 hektar ( setara 130 lapangan sepak bola ) dengan memiliki 17 gedung bertingkat.

Pada tahun 2026. IAI memperkerjakan lebih dari 16.000 staff karyawan.   

Kinerja finansial IAI pada tahun anggaran 2025 mencetak pendapatan kotor tahunan sebesar $ 7,3 miliar dolar (sekitar Rp 125 triliun). 

Di penghujung akhir Desember 2025, perusahaan IAI menyetorkan pajak sebesar $ 204 juta + dividen saham senilai $ 356 juta dolar ke pemerintah Israel. 

Dengan total kumulatif $ 560 juta dolar ( sekitar Rp 9,6 triliun) uang telah ditransfer oleh BUMN IAI ke rekening Bank milik Kementerian Keuangan untuk kemudian oleh menteri kemenkeu, Bezalel Smotrich sudah dimasukkan ke APBN Israel di tahun 2026.

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.